Biografi Abu Khalifah Abdul Ghofuur Al-Jawy

Biografi Abu Khalifah Ketika Di Yaman

Disusun oleh:

Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory

-semoga Allah mengampuni dosa-dosanya-

 

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله الذي أرسل رسوله بالهدى ودين الحق ليظهره على الدين كله وكفى بالله شهيدا وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له إقرارا به وتوحيدا وأشهد أن محمدا عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم تسليما مزيدا.

 أما بعد:

Tulisan ini merupakan kumpulan dari data-data yang berkaitan dengan saudara kami Abu Khalifah Abdul Ghafur Al-Lumajangy –semoga Allah merahmatinya- ketika di Dammaj-Yaman disertai dengan bantahan beliau –semoga Allah merahmatinya- terhadap Dzulqarnain bin Muhammad Sanusi Al-Makassary yang menyalah gunakan kaidah syar’iyyah yang kami beri judul “BINGKISAN BUAT PENCARI KEBENARAN, Berisikan: Biografi Abu Khalifah Ketika Di Yaman Beserta Bantahan Terhadap Kaedah Dzul Qarnain”.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala semoga apa yang kami susun ini ikhlas semata-mata karena Allah Ta’ala, dan kami memohon pula semoga Allah Ta’ala menjadikan tulisan ini bermanfaat untuk kami, kedua orang tua kami, kepada Abu Khalifah dan kedua orang tuanya dan siapa saja yang mencari kebenaran.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم، والحمد لله رب العالمين.

Ditulis oleh: Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limbory –semoga Allah mengampuni dosa-dosanya- di Darul Hadits Salafiyyah Dammaj-Sho’dah-Yaman pada hari Ahad 28 Shafar 1433 Hijriyyah.

 

BAB I

MENENAL LEBIH DEKAT ABU KHALIFAH

 

1.1 Awal Kami Berjumpa Dengan Abu Khalifah Al-Lumajangy –Semoga Allah Merahmatinya-.

Ketika kami baru datang di Dammaj pada awal bulan Romadhan 1429 Hijriyyah kami mempersaksikan  ke kawan-kawan kami di Dammaj bahwa Luqman Ba’abduh dan Muhammad Afifudin mencela Syaikhuna Yahya –semoga Allah menjaganya- maka persaksian kami tersebut tersebar di tengah-tengah Luqmaniyyin (para pembela dan pengikut Luqman Ba’abduh), kemudian Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- datang kepada kami tepatnya di samping pintu masjid Ahlussunnah Darul Hadits Dammaj, beliau memotivasi kami sambil berkata: “Kalau orang-orang Luqman (jaringan Abu Abayah) datang kepadamu dan menakut-nakutimu maka jangan takut!”, setelah itu beliau mengajak kami ke toko dan membelikan kami minuman, kemudian kami duduk di pinggir toko, sambil minum beliau menjelaskan kepada kami tentang sifat-sifat Syaikhuna Yahya –semoga Allah menjaganya- dengan penjelasannya tersebut membuat kami semakin bertambah cinta kepada Syaikhuna Yahya –semoga Allah menjaganya- dan kami berdoa semoga kami bisa duduk lama di majelis beliau dalam menimba ilmu, sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada seorang shahabatnya dari kalangan Arob badui:

«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ».

“Kamu bersama orang yang kamu cintai”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari Anas bin Malik).

 

1.2 Kesabarannya Terhadap Gangguan Para Penjahat.

Beliau –semoga Allah merahmatinya- telah mengalami banyak gangguan para penjahat dari kalangan hizbiyyin, pernah salah seorang preman hizby yang dikenal dengan Abu Sahl Al-Jawy, yang sangat fanatik dan sangat keras pembelaaannya terhadap tokoh-tokoh hizbiyyah semisal mantan wakil panglima LJ (laskar jihad) Luqman bin Muhammad Ba’abduh. Ketika Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- berbicara tentang Luqman Ba’abduh maka preman hizby tersebut langsung mendatanginya lalu memukul wajahnya hingga bengkak. Pemukulan seperti ini bukan suatu tindakan yang baru di kalangan hizbiyyin namun dia termasuk perkara yang terwariskan (kebiasaan) dari sebelumnya; ketika mereka menamakan diri-diri mereka dengan LJ (laskar jihad).

Setelah Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- dizhalimi seperti itu maka para hizbiyyun dari Luqmaniyyin bergembira dengan kejahatan kawannya tersebut, diantara mereka adalah Alimudin alias Abu Mahfudz Ali bin Adam dengan penuh kebanggaan menyebutkan kejahatan kawannya tersebut sebagaimana dalam tulisan “Tirai Kusut”nya sebagai ejekan dan olok-olokan kepada Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya-.

Apa yang dilakukan oleh Alimudin tersebut sama dengan perlakuan Luqman Ba’abduh kepada Abu Salafy Ghufron Al-Jawy –semoga Allah menjaganya- ketika sebagian pasukan siluman Luqman Ba’abduh (LJ) beramai-ramai memukul Abu Salafy Ghufron Al-Jawy –semoga Allah menjaganya- hingga kemudian dimasukan di klinik LJ Kebun Cengkeh Ambon maka tiba-tiba Luqman Ba’abduh yang merasa diri sebagai pembesar (semisal wakil presiden tersebut) datang ke klinik LJ-nya (bukan dalam rangka menjenguk tapi datang mengejek) sambil berkata: “Biar tahu rasa”, maka merupakan keanehan kalau kemudian wakil panglima LJ tersebut tiba-tiba muncul dengan berpura-pura menanggalkan topeng silumannya, yang sok berjiwa pahlawan dengan menulis buku “Mereka Adalah Teroris” padahal dia sendiri gembong teroris nasional namun berupaya menutupi diri. Dia dan kawan-kawannya mungkin mengira bahwa dengan cara seperti yang mereka lakukan itu akan menyelamatkan mereka di dunia ini dan di akhirat kelak, padahal tidak demikian!, bahkan dengan perbuatan mereka itu akan membinasakan diri-diri mereka –dengan izin Allah-, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ﴾ [فاطر : 43]

“Dan rencana (makar) yang jahat itu tidak akan menimpa melainkan orang yang merencanakannya sendiri”. (Fathir: 43).

 

1.3 Beliau –Semoga Allah Mengampuniya- Tidak mutasyaddid (Keras) Dan Tidak Pula Mumayyi’ (Melembek).

Beliau –semoga Allah merahmatinya- dalam menyikapi pengikut dan pembela Luqman Ba’abduh sesuai pada tempatnya, bila beliau –semoga Allah merahmatinya- melihat para pembela dan orang yang fanatik dengan Luqman Ba’abduh semisal Abu Abayah (Buton), Khalil (Buton), Alimudin (Sumatra), Rifa’i (Jawa), Faruq (Jawa), Haris (Aceh), Muhammad Ihsan (Jawa), Ridho (Jakarta), Mahmud (asal Doli kemudian pindah ke Krian-Surabaya) dan komplotannya maka beliau –semoga Allah merahmatinya- bersikap tegas dengan cara menghajr (tidak duduk dan tidak pula mengajar bicara mereka) karena mereka membela orang-orang zhalim dan pelaku dosa semisal Luqman Ba’abduh dan jaringannya, Allah Ta’ala berkata:

﴿وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ﴾ [هود : 113]

“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang yang zhalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan”. (Huud: 113).

Namun bila beliau melihat orang-orang yang jadi korban penipuan, yang mereka tidak tahu apa-apa maka beliau melakukan pendekatan sebagaimana ketika Abdullah Pingrang –semoga Allah menjaganya- dan kawan-kawan; ketika datang di Dammaj maka mereka sempat terpengaruh dengan Ridho Al-Jawy, –dengan pertolongan Allah– tidak lama kemudian Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya– menjalin persahabatan dengan Abdullah Pingrang –semoga Allah menjaganya- dan Alhamdulillah Allah menyelamatkannya dari fitnah hizbiyyah sehingga dia tidak termasuk seperti kawan-kawannya yang terpengaruh dengan Ridho Al-Jawy semisal Ibrohim Gas, Afif Gresik, Abu Sa’id Yahya Al-Maidany, Anwar Pincang dan Dzul Kifli Kaca Mata serta komplotannya.

 

1.4 Menolong Orang Yang Terzholimi.

Ketika beliau –semoga Allah merahmatinya- menyaksikan kezhaliman Abu Abayah yang mencari keuntungan dari orang-orang yang baru datang di Dammaj maka beliau –semoga Allah merahmatinya- mencegah perbuatan Abu Abayah dan beliau –semoga Allah merahmatinya- bangkit mencari solusi penyambutan orang-orang yang mau datang ke Dammaj (permasalahan ini telah kami sebutkan dalam tulisan “NASEHAT Untuk MENJAUHI ORANG-ORANG SESAT”) apa yang beliau ­-semoga Allah merahmatinya– lakukan adalah bentuk dari pengamalan terhadap perkataan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary dan At-Tirmidzy dari Anas bin Malik –semoga Allah meridhainya- bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

 (انصر أخاك ظالما أو مظلوما)

“Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim dan yang dizhalimi”. Maka seseorang berkata:

يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره؟

“Wahai Rasulallah! Aku menolongnya jika dia itu terzhalimi lalu jika dia itu zhalim maka bagaimana saya menolongnya?” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:

(تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره)

“Kamu mencegah atau melarangnya dari perbuatan zhalim (dengan itu) maka sesungguhnya kamu telah menolongnya”.

 

1.5 Semangat Dalam Tolong Menolong Di Atas Kebaikan.

Bila ada kerja baktinya orang-orang Indonesia maka beliau –semoga Allah merahmatinya- adalah termasuk orang-orang yang paling terdepan, lebih-lebih kalau kerja bakti tersebut di waktu jihad seperti sekarang ini, maka sungguh beliau benar-benar bersemangat, sungguh bagus apa yang dikatakan oleh kawan kami Ahmad Al-Libiy –semoga Allah merahmatinya: “Kapan lagi kita akan mendapatkan kesempatan beramal seperti ini”[1]. Apa yang beliau lakukan itu adalah sebagai bentuk pengamalan dari perkataan Allah Ta’ala:

﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ﴾ [المائدة: 2]

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”. (Al-Maidah: 2).

Ketika ada kawan-kawan dekatnya sakit maka beliau –semoga Allah merahmatinya- yang merawatnya, diantara kawan-kawannya tersebut adalah Abu Hudzaifah Adam Al-Jakarty –semoga Allah merahmatinya-, ketika Abu Hudzaifah Adam Al-Jakarty –semoga Allah merahmatinya- sudah sakit berat dan mau balik ke Indonesia maka beliau ­–semoga Allah merahmatinya- bertanya kepadanya: “Kalau kamu meninggal maka bagaimana dengan kitab-kitabmu?” maka Abu Hudzaifah Adam Al-Jakarty –semoga Allah merahmatinya- menjawab: “Bagi-bagikan ke kawan-kawan!”. Dari pembagian tersebut kami diberi sebuah kitab yang berjudul “Syarhu ’Ilal At-Tirmidzy” karya Al-Imam Ibnu Rojab –semoga Allah merahmatinya- dan Alhamdulillah kitab tersebut telah kami pelajari bersama Asy-Syaikh Turki Al-Abdany –semoga Allah menjaganya-.

 

1.6 Semangatnya Dalam Berdakwah Kepada Kebenaran.

       Beliau –semoga Allah merahmatinya- bersama kawan-kawan ikut berandil dalam menterjemahkan makalah-makalah yang berbahasa Arob, diantara terjemahannya adalah:

ü  “Yayasan Tanpa Barokah” karya Abul Husain Muhammad Al-Jawy –semoga Allah menjaganya- yang diterjemahkan oleh beberapa kawan diantaranya adalah beliau –semoga Allah merahmatinya-.

ü  “Penjelasan Ringkas tentang Hizbiyyahnya Abdurrahman Al-‘Adny” yang ditulis oleh sejumlah Masyayikh dan para da’i, yang kemudian diterjemahkan oleh beberapa kawan diantaranya adalah beliau ­–semoga Allah merahmatinya-.

ü  Beliau –semoga Allah merahmatinya­- yang menterjemahkan celaan Luqman bin Muhammad Ba’abduh atas Syaikhuna Yahya –semoga Allah menjaganya-, diterjemahkan dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Arob.

 

1.7 Semangat Dalam Jaga dan Jihad.

Pada awal Syi’ah-Rofidhah bergerak memerangi Ahlussunnah yang ada di Dammaj maka beliau –semoga Allah merahmatinya- bergegas menyambut seruan jihad, beliau –semoga Allah merahmatinya- menyibukan diri dengan jaga di gunung Thullab. Beliau –semoga Allah merahmatinya- mengatur kawan-kawan yang mau jaga di gunung Thullab, beliau –semoga Allah merahmatinya- sangat tidak suka bila memperlakukan kawan-kawan yang jaga sebagaimana perlakuan kemeliteran atau seperti perlakuan LJ.

Pada pertengahan tahun 1432 Hijriyyah Asy-Syaikh Mu’awwidz –semoga Allah menjaganya-[2] meminta beliau dan kawan-kawan untuk jaga di gunung Barraqoh. Dan pada waktu itu di gunung Barroqah sudah ada pula orang-orang Indonesia yang memiliki jadwal rutin; setiap pekan sekali untuk jaga rasyasy (senjata kaki tiga) yang dikoordinasi oleh Abu Umamah Nasr Al-Jawy –semoga Allah menjaganya-, kemudian Abu Khalifah –semoga merahmatinya- terus aktif jaga di rasyasy bersama kawan-kawan.

Ketika sudah banyak kawan-kawan yang berkeinginan untuk jaga di Barroqah dan meninggalkan jaga di matras Indonesia (depan rumah Asy-Syaikh Ahmad Al-Washoby) maka Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- datang ke kami dan meminta kami untuk membatasi orang yang mau jaga di Barroqah maka kami katakan kepadanya: “Tidak mengapa kawan-kawan banyak yang jaga di Barroqah, kami persilahkan bagi yang mau jaga di Barroqah karena kita bukan sistem kemeliteran atau kelaskaran seperti LJ, yang mau jaga di matras Asy-Syaikh Ahmad boleh, yang mau jaga di Barroqah juga boleh”.

Di awal Dzulhijjah pada malam hari kami dan Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- serta beberapa kawan semuanya asal Indonesia jaga di matras Hadb (‘Uzzab) tiba-tiba Syi’ah-Rofidhah menembak ke arah matras dan peluru melewati atas kepala maka Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Kalau orang yang suka mengumpulkan berita tahu bahwa kita ditembak seperti ini mungkin langsung disebarkan ke internet”.

Apa yang beliau –semoga Allah merahmatinya- katakan tersebut sebagai bentuk pengingkaran (ketidak setujuan) terhadap para pemberi berita, karena para pemberi berita setiap yang mereka dengarkan maka langsung disebarkan, sebagaimana berita yang bertepatan dengan waktu kami jaga tersebut bahwa ada korban dari Syi’ah-Rofidhah; ada dari pihak mereka mati tiga orang, satu orang mati karena digigit ular, ada yang mati karena jatuh dari rumah di Wathon, ada yang naik sepeda motor kemudian tabrak tembok…!. Berita tersebut dan yang semisalnya kemudian disebarkan secara bebas, padahal berita tersebut datangnya dari seseorang yang dia dapatkan dari temannya di RS (rumah sakit) Sho’dah lewat telpon, sementara yang kerja di RS Sho’dah sendiri tidak jelas apakah dia Sunny ataukah Syi’ah? Dan juga tidak jelas apakah dia tsiqah (terpercaya) ataukah kadzdzab (pendusta)? Maka pemberitaan seperti ini tidak perlu karena keumuman dari perkataan Allah Ta’ala:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ﴾ [الحجرات : 6]

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik (pembuat dosa) membawa suatu berita maka periksalah dengan teliti supaya kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu”. (Al-Hujarat: 6).

Walaupun orang yang mendapatkan berita tersebut adalah yang dianggap tsiqah (terpercaya) atau shaduq (jujur) namun karena dia mengambil beritanya dari orang yang tidak jelas indentitasnya maka sebaiknya pemberitaan seperti ditinggalkan.

Kita semua dan bahkan orang-orang telah mengakui bahwa setiap peperangan antara Syi’ah-Rofidhah melawan Ahlussunnah di Dammaj selalu Syi’ah-Rofidhah diatas kekalahan dan korban mereka banyak –hanya Allah yang tahu berapa jumlahnya-, adapun bila merinci satu mati, dua luka, tiga hilang, empat kepalanya dipenggal burung-burung atau yang semisal itu maka pemberitaan seperti ini sebaiknya ditinggalkan, berbeda halnya dengan menyaksikan sendiri atau kawan-kawan yang menyaksikannya seperti pada tragedi satu Muharram bahwa banyak dari kalangan Syi’ah-Rofidhah mati dan keesokan harinya anjing-anjing menyantap bangkai-bangkai mereka maka hal seperti tidak mengapa untuk dikisahkan karena sesuai kenyataan yang ada, Wallahu A’lam wa Ahkam.

Begitu sebaliknya pemberitaan “kalau Syi’ah-Rofidhah terus mengepung Ahlussunnah yang ada di Dammaj maka thullab dan masyarakat akan menggempur mereka, thullab dan masyarakat akan melakukan penggempuran besar-besaran” maka pemberitaan seperti ini perlu pula untuk tidak disebarkan, berbeda halnya kalau memang yang mau menggempur itu sudah yakin dengan seyakin-yakinnya kekuatan ada padanya sebagaimana yang ada pada Nabiullah Sulaiman ‘Alaihis Salam yang Allah Ta’ala kisahkan:

﴿ارْجِعْ إِلَيْهِمْ فَلَنَأْتِيَنَّهُمْ بِجُنُودٍ لَا قِبَلَ لَهُمْ بِهَا وَلَنُخْرِجَنَّهُمْ مِنْهَا أَذِلَّةً وَهُمْ صَاغِرُونَ﴾ [النمل : 37]

“Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina”. (An-Naml: 37).

1.8 Ikut Serta Pada Tragedi Muharram 1433 Hijriyyah.

Setelah shalat maghrib pada tanggal 2 Muharram 1433 Hijriyyah beliau bersama beberapa kawan-kawan lari naik ke gunung Barroqah, beliau dan kawan-kawan yang naik setelah shalat Maghrib dalam keadaan serangan Syi’ah-Rofidhah dengan tank, mortir, basoka dan senjata berat lainnya masih terus dilakukan (lihat tulisan “Seram, Serangan Satu Muharram…”), pada malam tersebut beliau melewati kami di matras maka kami bertanya kepadanya: “Tanggal berapa sekarang?” Beliau terdiam, maka kami menunjuk ke bulan sabit sambil berkata: “Itu bulan sabit! bukankah sekarang tanggal 2 Muharram 1433 Hijriyyah maka beliau menjawab: “Iya tanggal dua, karena tidak mungkin tanggal satu karena bulannya sudah tinggi seperti itu”.

Setelah Syi’ah-Rofidhah merasa sudah menang dan mereka mengira bahwa Ahlussnnah yang berada di matras-matras gunung Barroqah sudah pada mati mereka pun maju dengan berteriak: “Maut lil Amriky, maut lil Isroil, maut lil Wahhaby[3]….” maka Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- dan yang jaga di matras-matras menembaki mereka dan Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- membalas teriakan mereka dengan teriakan: “Allahu Akbar! Maut lil Khutsiyyin, maut lir Rowafidh”.

Setelah turun hujan gerimis dan keadaan semakin tenang maka kami bertanya kepada beliau –semoga Allah merahmatinya-: “Apakah kamu mau tetap di Barroqah ataukah mau membantu kami mengantar Abdul Hadi yang sedang luka parah ini?” beliau menjawab: “Saya tetap di Barroqah”. (Lihat kisahnya dalam “Seram, Serangan Satu Muharram…”).

1.9 Tragedi 12 Muharram 1433 Hijriyyah.

Beliau –semoga Allah merahmatinya- tidak sempat ikut dalam penyerangan pada tanggal 12 Muharram 1433 Hijriyyah dikarenakan penyerangan tersebut dirahasiakan dan hanya orang-orang tertentu yang tahu. Menjelang maghrib Abu Umamah Nashr Al-Jawy –semoga Allah mejaganya- memberitahu kami dan Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- mengatakan bahwa akan ada lagi penyerangan susulan, bagi yang mau ikut langsung ke masjid Zawaid, maka kami bertiga langsung berangkat ke masjid Zawaid untuk mendaftar ke Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdul Wahhab Asy-Syamiry –semoga Allah menjaganya-, setelah selesai shalat maghrib kami berkumpul di depan masjid Zawaid dan bersiap-siap untuk naik ke gunung Barroqah maka Abu Khalifah –semoga Allah merahmatinya- berkata: “Kalau aku mati tolong kalian hubungi kelurgaku”, namun penyerangan susulan tersebut dibatalkan. (lihat tulisan “MENGENANG KISAH ADAM YANG INDAH dalam MEMERANGI SYI’AH-ROFIDHAH”).

 

1.10 Menjelang Kematiannya.

            Sehari sebelum kematiannya, beliau –semoga Allah merahmatinya- berkata kepada kami: “Besok saya pinjam senjatamu karena saya mau naik ke gunung Barroqah”, pada besok harinya antara waktu ashar dan maghrib kami sedang membacakan kitab “Shahihul Bukhary” kepada adik-adik asal Ambon dan asal Malaysia, lalu tiba-tiba datanglah beliau –semoga Allah merahmatinya- dengan muka yang berseri-seri, maka kami meminjamkan senjata kepadanya, beliaupun langsung naik ke gunung Barroqah. Pada malam harinya, beliau –semoga Allah merahmatinya- terkena tembakan dari penembak jitu Syi’ah-Rofidhah, tembakan mengenai perutnya, dua hari setelah kejadian tersebut beliau meninggal dunia dalam keadaan tenang dan mukanya tampak berseri-seri. Ketika Asy-Syaikh Ahmad Al-Washoby –semoga Allah menjaganya- melihat jenazahnya (sebelum dikafani) maka Asy-Syaikh Ahmad Al-Washoby –semoga Allah menjaganya- berkata: “Alhamdulillah beliau ini mati dalam keadaan tenang seperti orang tidur”.   

 

 


[1] Beliau –semoga Allah merahmatinya- berasal dari negara Libia. Beliau –semoga Allah merahmatinya- sebelumnya bekerja di Saudi Arobia kemudian beliau ke Dammaj, beliau menikah dengan wanita salafiyyah asal Habasyah dari pernikahan tersebut beliau memiliki satu putri, bila waktu aman (belum ada jihad) maka beliau sangat bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya. Beliau sama dengan kawannya Thohaa Al-Liby –semoga Allah merahmati keduanya-, keduanya sibuk menghafal dan memuroja’ah “Al-Qur’an” dan “Shahih Muslim” dan sibuk pula beribadah, mereka senantiasa di shaff awwal pada shalat berjama’ah namun bila ada waktu kerja bakti maka keduanya langsung ikut bekerja, begitu pula ketika dikobarkannya jihad maka keduanya aktif dalam ribath (jaga diperbatasan-perbatasan Dammaj), Ahmad Al-Liby –semoga Allah merahmatinya- selalu menasehati kawan-kawannya: “Kapan lagi kita akan mendapatkan kesempatan berharga seperti ini”.

Adapun Ahmad Al-Liby –semoga Allah merahmatinya- meninggal karena terkena tembakan jitu dari Syi’ah-Rofidhah setelah tragedi satu Muharram 1433 Hijriyyah di gunung Barroqah, sedangkan Thoha Al-Liby –semoga Allah merahmatinya- meninggal ketika melakukan penyerangan pada 12 Muharram 1433 Hijriyyah.

[2]  Beliau –semoga Allah menjaganya- adalah salah seorang syaikh Qabilah Al-Wadi’iyyah, yang memiliki kecemburuan dan perhatian terhadap dakwah Ahlussunnah, beliau senantiasa jaga di gunung Barroqah, pada tragedi satu Muharram 1433 Hijriyah beliau di gunung Barroqah dan terkena runtuhan batu-batu matras yang mengenai muka beliau akibat serangan roket, mortir dan tank.

[3]  Demikian tuduhan mereka bahwa Ahlussunnah adalah Wahhaby dan antek-anteknya Amerika-Isroil. Alhamdulillah apa yang mereka tuduhkan telah ada penjelasannya dalam tulisan “Amin, Anak Maluku Memerangi Musuh Islam di Yaman

Sumber.

Download doc.

Iklan

Tag: , , , , , ,

3 Tanggapan to “Biografi Abu Khalifah Abdul Ghofuur Al-Jawy”

  1. indeksia Says:

    بسم الله الرحمن الرحيم
    Mohon informasi ikhwah atstsabitiin di makassar. Ana berlepas diri dari yayasan Assunnah Baji Rupa
    Jazakallohu khoyr
    Abu Utsman
    BTN MInasa Upa Makassar

    Suka

  2. muslim Says:

    DIANTARA PERKARA MANHAJIYYAH

    Tanya:
    Sebagian da’i tidak menganggap Abdurrahman Al-Adeny dan pengikutnya sebagai hizbiyyun karena mereka tidak melihat sifat-sifat hizbiyyah pada Abdurrohman Al-Adeny dan pengikutnya, apa jawaban antum dalam masalah ini?.

    Jawab:

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Hal demikian itu disebabkan peremehan mereka terhadap penyelisihan yang mereka lakukan terhadap manhaj Ahlissunnah wal Jama’ah, yang menurut mereka remeh dan kecil:

    وتحسبونه هينا، وهو عند الله عظيم

    “Dan kalian menganggapnya remeh, namun dia di sisi Alloh adalah besar”.

    Awal mula kejelekan Abdurrohman Al-Adniy dan jaringannya adalah melakukan pendataan di Dammaj terhadap siapa saja yang diinginkan untuk bergabung dengan mereka, menurut mereka ini adalah remeh dan perkara kecil, mereka menyadari atau pun tidak, bahwasanya ini adalah perkara baru yang mereka munculkan di dalam da’wah, yang ujung-ujungnya memunculkan perpecahan terhadap kesatuan Ahlussunnah wal Jama’ah.

    Anggaplah perkara ini remeh -sesuai anggapan mereka-, namun bukankah mereka melakukannya dengan menambah kejelekan di atas kejekan?!.

    Dengan sebab perkara itu mereka memprovokasi para da’i dan para penuntut ilmu sehingga terjadi permusuhan dan kebencian di antara mereka.

    Dengan sebab perkara itu pula, mereka memunculkan al-wala’ wal baro’ yang sempit, siapa yang menyalahi perkara itu maka mereka cap “safih” (tolol) atau “jahil” (bodoh).

    Bila ada yang menjelaskan perkara mereka itu, maka mereka men-hajr orang tersebut, bila penjelasannya disebar lewat situs maka situsnya disikat dan pemilik situsnya ditelanjangi aib-aibnya, di “safih”-“safih”kan, bila penjelasannya berupa malzamah atau buku maka diancam para penyebar dan para penerbitnya.

    Belum lagi ancaman-ancaman mereka terhadap para penyebar penjelasan dan para pemberi penjelasan, bahkan terjadi pemukulan di sana sini. Nas’alulloha Assalamah wal ‘Afiyah.

    Belum lagi ta’ashubnya mereka terhadap pentolan mereka, karena pentolan itu adalah guru mereka atau mantan guru mereka, maka mereka pun membelanya mati-matian, orang yang membantah mereka hanya sekata atau satu lembar malzamah maka mereka cerca dan cela habis-habisan, waktu-waktu mereka dihabiskan untuk ini, betapa hina dan rendahnya siapa saja yang melakukan perbuatan ini dan yang ikut-ikutan mencontoh perbuatan seperti ini. Hasbunallohu Wani’mal Wakil.

    Ketika Syaikhuna Al-Hajuriy ‘Afallohu ‘anhu menjelaskan kesalahan dan penyelisihan Abdurrohman Al-Adniy tersebut, maka para jaringan dan orang-orang yang fanatik kepada Abdurrohman Al-Adniy kemudian bersenandung “Al-Hajuriy mencari pembenaran terhadap dirinya”.

    Ketika Syaikhuna Al-Hajuriy menyatakaan ketidak sukaannya terhadap pujian-pujian dari para penyair dan minta untuk dihapus supaya tidak dibawa kepada ta’wilan-ta’wilan batil, maka orang-orang yang fanatik kepada Abdurrohman Al-Adniy kemudian menyuarakan dengan penuh kecongkakan “Al-Hajuriy berbuat demikian karena sudah terjepit”.
    Yang lain lagi menyuarakan “Al-Hajuriy takut nanti di jarh oleh Asy-Syaikh Sholih Al-Fauzan”, ini yang dahulu kami dengarkan dari teman-teman bencong mereka yang hina.

    Padahal Syaikhuna meminta untuk dihapus itu diantaranya karena untuk mencegah jangan sampai muncul sangkaan-sangkaan para penyangka.

    Dahulu Asy-Syaikh Jamil Ash-Shilwiy tidak melihat hizbiyyah pada Abdurrohman Al-Adniy, namun ketika nampak di depan matanya apa yang dilakukan oleh Abdurrohman Al-Adniy yang berawal dari perkara yang mereka anggap remeh hingga membawa kepada al-wala’ wal baro’ yang sempit, dan cinta dan benci bukan karena Alloh lagi tapi karena ta’ashub kepada hizbiyyah (fanatik golongan) maka Asy-Syaikh Jamil Ash-Shilwiy kemudian menghukumi mereka sebagai hizbiyyun.

    Perbuatan mereka yang terakhir sudah sangat cukup sebagai bukti kalau mereka adalah hizbiyyun yang pikun.

    Ketika muncul jihad melawan kaum Rofidhoh di Dammaj maka mereka (Abdurrohman Al-Adniy dan kawan-kawannya serta jaringannya) tidak menampakan pembelaan, malah mereka memunculkan kebencian dan permusuhan serta memunculkan penta’dilan kepada kaum Rofidhoh.

    Yang mau ikut jihad digembosi dan dinasehatkan untuk tidak ikut jihad ke Kitaf atau ke Hasyid karena Syaikhuna Al-Hajuriy dan siapa saja yang bersamanya dicap sebagai pembuat kerusakan:

    فاعتبروا يا أولى الأبصار

    “Maka ambillah pelajaran oleh
    kalian wahai orang-orang yang memiliki pandangan (wawasan)”.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Muhammad bin Salim Al-Limboriy Hadahullohu wa ‘Afahu (14 Dzulqo’dah 1435).

    Suka

  3. Shalih A Says:

    KETERANGAN ABU AHMAD AL-LIMBORIY

    بسم الله الرحمن الرحيم

    Adapun tentang banyaknya komentar dari orang yang bernama Adi Abdulloh, yang mana diketahui bahwa dia berada di Yaman, maka kami tidak mengenal siapa dia?, yang kami pernah kenal dengan seseorang yang bernama Adiy, salah seorang dosen di Universitas Kendari yang sedang cuti ke Ma’bar, dan sudah beberapa kali ke Darul Hadits Sana’a ini, dan terkadang ke Ibb, ke Adn dengan membawa nama Al-Ustadz Asnur Kendari.

    Dan kami buat keterangan di sini supaya diketahui bahwa siapapun kalau membawa pemikiran yang menyelisihi dan bertentangan dengan As-Sunnah maka kami tidak mendukungnya dan tidak pula meridhoinya walaupun dia membawa nama kami atau nama siapapun.
    Hasbunallohu Wani’mal Wakil.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: