TASAWWUL, VIRUS DAKWAH SALAFIYYAH

بسم الله الرحمن الرحيم

TASAWWUL, VIRUS DAKWAH SALAFIYYAH 

Penulis: Abu Turob Saif bin Hadhor Al Jaawi
– semoga Alloh menjaganya-
Dusun Argamulya, Bengkulu Utara
1 Sya’ban 1434 H

MUQODDIMAH

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا من يهده الله، فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده روسوله.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تقَاتِهِ وَلا تمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ﴾[آل عمران:102]

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً﴾ [النساء:1] .

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً﴾ [الأحزاب: 70-71].

أما بعد: فإن خير الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- وشر الأمور محدثاتُها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة في النار.

Alhamdulillaah kami telah menyelesaikan tulisan ini, yang tentunya para pembaca telah banyak tahu tentang fisi dan misinya, karena telah banyak tulisan yang semakna dengannya, akan tetapi bukanlah hal yang hina jika kami ingin turut menuangkan pena kami, turut andil dalam menularkan faedah dan tambahan khazanah, dengan harapan barokah Allooh melimpah ruah.

Tidaklah kami mendatangkan suatu yang baru atau sesuatu yang tabu, karena mayoritas adalah nukilan dan saduran dari kitab para ulama, yang tentunya masih terlalu banyak yang belum kami kutip karena masih tersimpan di perut-perut kitab mereka, yang tentunya kalau ditejemahkan semua membutuhkan waktu yang sangat lama dan akan memakan banyak perkara.

Demikianlah apa yang kami tulis, semoga Allooh memberkahinya dan  menjadi sebab terbukanya hati yang tertutup oleh banyak syubuhat dan sebagai pemantap bagi mereka yang telah taubat dan melangkah tho’at.

Tidak lupa kritik sapa pembaca, tidak usah ditunda, tentunya dengan nada membina dan  bersahaja.

وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله ومن والاه

Di tulis oleh:
Abu Turob Al Jaawi

Dakwah Para Nabi Tidak Dengan Cara
Meminta-Minta (Tasawwul).

Allooh ta’ala menceritakan tentang nabi Nuh ‘alaihissalaam :

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

 Dan  aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Robb semesta alam”.[Q.S As Syu’aro 109]

Dan   juga berfirman Allooh ta’ala:

﴿وَيَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مَالًا إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَمَا أَنَا بِطَارِدِ الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَلَكِنِّي أَرَاكُمْ قَوْمًا تَجْهَلُونَ﴾ [هود/29]

Hai kaumku, aku tidaklah meminta kepada kalian harta benda (sebagai upah) aras seruanku. Upahku hanyalah dari Allooh dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya mereka akan bertemu dengan Robb mereka, akan tetapi aku memandang kalian adalah suatu kaum yang tidak mengetahui”.

Juga Allooh menceritakan tentang nabi Hud, Sholih, Luth, dan Syu’aib ‘alaihimussalaam :

﴿وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ﴾ [الشعراء/109]

“Aku sekali-kali tidak minta upah kepada kalian atas ajakan itu, Upahku tidak lain hanyalah dari Robb semesta alam”.

Berfirman Allooh ta’ala menceritakan tentang nabi Muhammad shollalloohu’alaihi wasallam  :

﴿وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ * إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ﴾  [محمد/36، 37]

“Dia tidak akan meminta harta-harta kalian. jika Dia meminta harta kepada kalian lalu mendesak kalian niscaya kalian akan bakhil, dan Dia Allooh akan menampakkan kedengkian kalian.”[QS Muhammad 36-37]

Dan Allooh ta’ala menceritakan tentang seorang sholih yang menyuruh kaumnya untuk mengikuti orang yang  tidak meminta-minta dalam berdakwah :

﴿ اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ ﴾ [يس/21]

“Ikutilah  orang yang tiada minta balasan kepada kalian; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [QS Yaasiin 21]

Dan demikian pula semua para nabi berdakwah dengan manhaj ta’affuf (menjaga diri dari harta ummat) dan tidak tasawwul.

Maka apakah pantas seorang da’i yang mengaku salafi, dan mengikuti jejak para nabi dalam berdakwah,  sementara sangat berseberangan dengan jalan yang mereka lalui ??.

Manhaj Ta’affuf Adalah Manhaj Para Nabi Shollalloohu’alaihim Wasallam  Dan Manhaj Salafusholih Rodlialloohu’anhum.

Telah lewat dalil-dalil yang menunjukkan bahwa manhaj para nabi shollalloohu’alaihim wasallam dalam berdakwah tidak dengan meminta-minta, dan menengadahkan tangan mengemis bantuan ummatnya, bahkan merekalah yang membentangkan tangannya untuk berinfaq dan memberi suri tauladan kepada ummatnya dalam masalah ini.

Kini kita akan lihat betapa mereka para utusan Allooh shollalloohu’alaihim wasallam bekerja dan melakukan usaha, untuk mencukupi kebutuhan kehidupan dunia mereka disela-sela kesibukan mereka dalam mengemban amanat dakwah, dan mengajarkan ilmu kepada manusia, dan itu semua tidak sedikitpun melalaikan mereka dari tugas utamanya .

Kami bawakan pembahasan ini sebagai nasehat dan teguran terhadap para da’i yang mengandalkan gaji, atau santunan mad’unya dengan alasan  mereka itu sibuk dan tafarrugh (menghabiskan waktunya) untuk mengajar dan berdakwah, yang tidak memiliki kesempatan untuk mencari ma’isyah dan nafkah.

Dan perlu di ketahui bahwa sebaik-baik mata pencaharian adalah usaha sendiri, bagaimanapun usahanya, yang penting halal dan tidak membebani orang lain dan tidak maksiat, rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam bersabda:

عن المقدام رضى الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم  قال: «مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِىَّ الله دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ». [ رواه البخارى:  2072]

Dari Miqdaam bin Ma’diikarib rodlialloohu’anhu dari rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam bersabda: “Tidaklah seseorang makan sebuah makanan yang lebih baik dari memakan atas usahanya sendiri (kerja tangannya sendiri), dan bahwasanya nabi Dawud shollalloohu’alaihi wasallam makan dari usahannya sendiri.”[ HR Bukhori 2072]

Berkata Al Haafidh rohimahullooh di Fathul Bari (dibawah hadits 2072):

والمراد بالخيرية ما يستلزم العمل باليد من الغنى عن الناس .

Yang dimaksud dengan kebaikan disini adalah sesuatu yang melazimkan pekerjaan dengan tangannya (usaha sendiri) yang tidak  bergantung kepada orang lain. selesai.

Beliau juga berkata (dibawah hadits 2073):

والحكمة في تخصيص داود بالذكر أن اقتصاره في أكله على ما يعمله بيده لم يكن من الحاجة لأنه كان خليفة في الأرض كما قال الله تعالى ، وإنما ابتغى الأكل من طريق الأفضل ، ولهذا أورد النبي صلى الله عليه وسلم قصته في مقام الاحتجاج بها على ما قدمه من أن خير الكسب عمل اليد .

Dan hikmah yang terkandung dalam pengkhususan rosulullooh shollalloohu’alaihi wasallam dengan penyebutan nabi Dawud shollalloohu ‘alaihi wasallam adalah, karena nabi Dawud ‘alaihissalaam yang sebenarnya tidak ada hajat (perlu) untuk bekerja mencari nafaqoh untuk mencukupi kehidupannya, karena beliau ini kholifah (pemimpin) dimuka bumi, sebagaimana Allooh terangkan,  hanya saja (beliau tidak mau makan kecuali atas usaha tangannya), karena untuk mengambil jalan paling utama, oleh karena itulah nabi Muhammad shollalloohu’alaihi wasallam menyebutkan kisahnya ini dalam berhujjah pada tempat  pijakan bahwa mata pencaharian yang paling utama adalah usaha dengan tangannya sendiri. selesai.

Kami katakan: Tentunya para nabi yang lain yang bukan raja, mereka bekerja dengan tangan mereka masing-masing karena mereka membutuhkan sesuatu untuk menopang kehidupannya.

Allooh ta’ala menceritakan tentang usaha nabi Dawud ‘alaihissalaam:

﴿وَلَقَدْ آَتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ * أَنِ اعْمَلْ سَابِغَاتٍ وَقَدِّرْ فِي السَّرْدِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ ﴾ [سبأ/10، 11]

“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepada Dawud dari Kami kurnia. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, selalu bertasbihlah (berulang-ulang) bersama Dawud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan berbuatlah amalan yang sholih. Sesungguhnya aku melihat apa yang kalian kerjakan.” [QS Saba 10-11]

Berkata Alhaafidh rohimahulloh (dibawah hadits 3417):

والذي يظهر أن الذي كان يعمله داود بيده هو نسج الدروع ، وألان الله له الحديد ، فكان ينسج الدروع ويبيعها ولا يأكل إلا من ثمن ذلك مع كونه كان من كبار الملوك ، قال الله تعالى : {وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ } [فتح الباري لابن حجر : 10/215]

Yang nampak adalah bahwa usaha yang dilakukan nabi Dawud ‘alaihissalaam adalah menyulam baju besi, dan Allooh melenturkan besi untuknya, maka beliau menyulam baju besi dan menjualnya dan tidak makan kecuali dari hasil usaha ini padahal beliau waktu itu adalah termasuk raja besar, Allooh ta`aala katakan: {وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ} Dan kami kuatkan kerajaannya.selesai.

Kami cukupkan penyebutan pekerjaan para nabi dengan nabi Dawud ‘alaihissalaam saja, dan kami akhiri dengan sebuah hadits dari Abi Huroiroh rodlialloohu ‘anhu:

عن أبي هريرة رضي الله عنه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: كان زكرياء نجارا. [رواه مسلم :2379]

Bahwa Rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam bersabda: “Nabi Zakariya ‘alaihissalaam adalah seorang tukang kayu.” [HR Muslim]

Berkata Syaikhul Islam rohimahullooh:

وقد ثبت فى الصحيح قوله صلى الله عليه وسلم إن أفضل ما أكل الرجل من كسبه، وكان داود يأكل من كسبه، وكان يصنع الدروع، وكان زكريا نجارا، وكان الخليل له ماشية كثيرة، حتى أنه كان يقدم للضيف الذين لا يعرفهم عجلا سمينا، وهذا إنما يكون مع اليسار، وخيار الأولياء المتوكلين المهاجرون والأنصار، وأبو بكر الصديق رضي الله عنه أفضل الأولياء المتوكلين بعد الأنبياء، وكان عامتهم يرزقهم الله بأسباب يفعلونها، كان الصديق تاجرا،   و كان يأخذ ما يحصل له من المغنم.

ولما ولى الخلافة، جعل له من بيت المال كل يوم درهمان، وقد أخرج ماله كله، وقال له النبى صلى الله عليه وسلم: “ما تركت لأهلك؟” قال: تركت لهم الله ورسوله. ومع هذا فما كان يأخذ من أحد شيئا، لا صدقة، ولا فتوحا، ولا نذرا، بل إنما كان يعيش من كسبه.

بخلاف من يدعى التوكل ويخرج ماله كله، ظانا أنه يقتدي بالصديق، وهو يأخذ من الناس، إما بمسألة، وإما بغير مسألة، فإن هذه ليست حال أبى بكر الصديق، بل فى المسند أن الصديق كان إذا و قع من يده سوط، ينزل فيأخذه، ولا يقول لأحد: ناولني إياه، ويقول إن خليلي أمرني أن لا أسأل الناس شيئا. فأين هذا ممن جعل الكدية، وسؤال الناس طريقا إلى الله، حتى أنهم يأمرون المريد بالمسألة للخلق.

Dan telah tetap di hadits shohih ucapan nabi shollalloohu’alaihi wasallam bahwa seutama-utama apa yang dimakan oleh seseorang adalah dari hasil usaha sendiri, dan bahwasanya nabi Dawud shollalloohu ‘alaihi wasallam makan dari usahanya yaitu membuat pakaian dari besi, dan dahulu nabi Zakariya shollalloohu’alaihi wasallam  adalah seorang tukang kayu, dan nabi Ibrohim shollalloohu’alaihi wasallam memiliki banyak hewan ternak hingga beliau menghidangi tamunya yang tidak beliau kenal dengan seekor anak sapi gemuk, ini semua tidak bisa beliau lakukan kecuali karena beliau ada kemudahan dalam sisi rizki, dan juga wali Allooh pilihan yang sangat tinggi tingkat ketawakalan mereka dari kalangan Muhajirin dan Anshoor dan Abu Bakar As Shiddiq rodlialloohu’anhu adalah wali Allooh yang paling mulia setelah para nabi, mayoritas mereka, Allooh anugrahi rizqi dengan sebab-sebab yang mereka perbuat, dan Abu Bakar adalah dahulu seorang pedagang, dan beliau juga mengambil bagian beliau dari rampasan perang.

Adapun ketika beliau memegang tampuk kekhilafahan, maka beliau mendapatkan gaji dari baitulmal, dua dirham setiap harinya, bahkan beliau pernah menjadikan seluruh hartanya untuk shodaqoh, dan nabi shollalloohu’alaihi wasallam bertanya kepada beliau: “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu? Beliau menjawab: “Aku tinggalkan bagi mereka Allooh dan rosulNya”, sekalipun demikian beliau tidak mengambil dari seseorang sedikitpun, tidak dalam bentuk shodaqoh dan tidak pula (menuggu) adanya kemenangan perang, dan tidak pula dari (kafaroh) nadzar, akan tetapi beliau hidup dari usahanya sendiri.

Kondisi beliau ini, sungguh sangat berbeda dengan orang yang mengaku-ngaku sebagai orang yang penuh tawakkal, dia sumbangkan seluruh hartanya dengan sangkaan bahwa dia mencontoh Abu Bakar, padahal tujuannya dia ingin meregup harta manusia, baik dengan cara meminta-minta atau tidak meminta-minta (seperti dengan minta belas kasihan manusia), maka sungguh perbuatan ini bukanlah perilaku Abu Bakar, bahkan di Musnad Imam Ahmad adalah bahwa beliau bila terjatuh cambuknya dari tangannya, beliau tidak memerintahkan orang lain untuk mengambilnya, bahkan beliau turun dari kendaraannya lalu memungutnya dengan tangan beliau sendiri, dan beliau mengatakan, bahwa kekasih beliau menyuruhku untuk  tidak meminta kepada seeorangpun sesuatu, maka mana keadaan yang seindah ini dengan keadaan orang yang menenteng kantong (proposal dan yang semisalnya zaman sekarang) untuk meminta-minta manusia sebagai jalan kepada Allooh, bahkan ada dari mereka yang menyuruh para “murid”nya untuk mengemis kepada manusia. Selesai

Faedah :

Adapun hadits Ibnu ‘Abbas rodliyalloohu ‘anhu:

“كان داود زرادا وكان آدم حراثا وكان نوح نجارا وكان إدريس خياطا وكان موسى راعيا”

“Adalah nabi Dawud itu pemintal baju besi, dan nabi Adam petani, nabi Nuh tukang kayu, nabi Idris penjahit, dan nabi Musa seorang penggembala.” [Hadits ini walaupun ada beberapa yang benar akan tetapi sanadnya sangat dho’if, Al Haafidh mengatakan di Fathul Bari (4/306): sanadnya waahin. Diriwayatkan oleh Al Hakim di Mustadrok]

Sebagian Dalil Tentang Ta’affuf

Berikut ini akan kami bawakan beberapa dalil tentang ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta).

1-      Berfirman Allooh ta’aala.

﴿لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ﴾  [البقرة/273]

(Berinfaqlah) kepada orang-orang faqir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allooh; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang bodoh menyangka mereka adalah orang kaya, karena mereka memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. dan apa saja dari kebaikan yang kamu nafqahkan (di jalan Allooh), Maka Sesungguhnya Allooh “Aliim” Maha Mengatahui. [QS Al Baqoroh : 273]

Pada kesempatan ini Ibnu Katsir rohimahullooh di tafsirnya membawakan hadits Abi Huroiroh rodlialloohu ‘anhu, bersabda rosulullooh shollalloohu ‘alahi wasallam:

“ليس المسكينُ الذي ترده التمرة والتمرتان، ولا اللقمة واللقمتان، إنما المسكين الذي يتعفَّفُ؛ اقرؤوا إن شئتم  يعني قوله: ﴿لا يَسْأَلُونَ النَّاسَ  إِلْحَافًا﴾

 Bukanlah seorang miskin itu yang ditolak untuk diberi sebiji kurma atau dua biji, dan tidak pula satu potong atau dua potong (makanan), akan tetapi yang benar-benar miskin adalah orang yang ta’affuf (menajga diri dari meminta-minta),  bacalah jikalau kalian mau ayat ini ﴿لا يَسْأَلُونَ النَّاسَ  إِلْحَافًا ﴾. [HR Bukhori]

Dalam suatu lafadh :

“ولكن المسكين الذي لا يجد غنى يغنيه، ولا يُفْطَنُ له فَيُتَصَدقَ عليه، ولا يسأل الناس شيئا”

“Akan tetapi yang dinamakan miskin adalah orang yang tidak mendapatkan sesuatu yang mencukupinya, dan tidak ada yang tahu (menyangka bahwa dia itu miskin) sehingga di shodaqohi, dan tidak pula dia itu meminta-minta sedikitpun kepada manusia.

2- Hadits Pertama :

عن أبي ذر ركب رسول الله صلى الله عليه و سلم حمارا واردفني خلفه وقال يا أبا ذر أرأيت ان أصاب الناس جوع شديد لا تستطيع أن تقوم من فراشك إلى مسجدك كيف تصنع قال الله ورسوله أعلم قال تعفف.” [ رواه الامام أحمد رحمه الله ( ج5 ص149 )]

Dari Abi Dzar rodhialloohu ‘anhu berkata bahwa rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam suatu saat megendarai keledai, dan memboncengkanku di belakangya, tiba-tiba beliau berkata:

“Wahai Abu Dzar!! kabarkan kepadaku jika manusia tertimpa kelaparan yang sangat dahsyat, sehingga engkau tidak mampu untuk bagun dari kasurmu untuk berangkat ke masjidmu, apa yang akan egkau perbuat?”

Dia menjawab : Allooh dan rosulNya yang lebih tahu.

Maka nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam mengatakan: “Ta’affuflah wahai Abu Dzar.” [HSR Imam Ahmad dan disebutkan di Shohih Musnad]

(3) – Hadits Kedua.

عن حكيم ابن حزام رضي الله عنه  : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( اليد العليا خير من اليد السفلى وابدأ بمن تعول وخير الصدقة عن ظهر غني ومن يستعفف يعفه الله ومن يستغن يغنه الله ) [صحيح البخاري – ( 1361)]

Dari hakim bin Hizaam rodhialloohu ‘anhu dari nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam bersabda :

” Tangan diatas lebih baik daripada tangan di bawah, dan mulailah (dalam infaqmu) kepada yang menjadi tanggunganmu, dan sebaik-baik shodaqoh adalah dari punggung orang yang cukup, dan barang siapa yang menjaga diri(‘Iffah) maka Allooh akan jaga dia, dan barang siapa meminta kecukupan kepada Allooh maka akan Allooh cukupi “.[ HR Bulhori Muslim]

(4)- Hadits Ketiga.

Dalam hadits panjang pada kisah Abu Sofyan rodhialloohu ‘anhu dengan Hiroklius maka dia bertanya kepada Abu Sofyan rodhialloohu ‘anhu tentang apa yang diperintahkan oleh rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam , maka beliau menjawab:

قلت : يقول اعبدوا الله وحده ولا تشركوا به شيء واتركوا ما يقول آباؤكم ويأمرنا بالصلاة والصدق والعفاف والصلة صحيح البخاري – (1 / 7).

Dia (rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam ) mengtakan sembahlah Allooh dan jangan menyekutukannya, dan tinggalkanlah apa yang dikatakan oleh nenek moyang kalian, dan dia menyuruh kami  untuk melakukan sholat, bershodaqoh, ‘iffah dan menyambung silaturrohmi” [ HR Bukhori]

(5) -Hadits Keempat.

Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam  selalu berdoa meminta ‘iffah :

عن عبد الله عن النبى -صلى الله عليه وسلم- أنه كان يقول « اللهم إنى أسألك الهدى والتقى والعفاف والغنى ». صحيح مسلم – (7079 ﴾

Dari Ibnu Mas’ud rodhialloohu ‘anhu bahwaasanya nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam selalu membaca doa ini :

” Ya Allooh sesungguhnya aku memohon kepadaMu hidayah (petunjuk),  taqwa, ‘IFFAH, dan kecukupan.’ [ HR  Muslim 7079]

Dan masih banyak hadits dalam masalah ini, dan akan kita lewati sebagian darinya Insya Allooh.

Beberapa Dalil Larangan
Meminta-Minta Dari Sunnah

وقد ثبت في الصحيحين من حديث عبدالله بن عمر رضي الله عنهما قال : قال رسول الله : ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة ليس في وجهه مزعة لحم .[ أخرجه البخارى (2/536 ، رقم 1405) ، ومسلم (2/720 ، رقم 1040)]

1)  Dan telah tetap didalam Shohihain dari hadits ‘Abdillah bin ‘Umar rodliyalloohu ‘anhuma berkata: bersabda nabi shollalloohu’alaihi wasallam:  ”Masih terus seseorang meminta-minta kepada manusia sampai datang pada hari kiamat dan tidak terdapat pada wajahnya seonggok dagingpun”. [HR Bukhori 1405 dan Muslim 1040]

وفي صحيح مسلم عن أبي هريرة رضى الله عنه قال : قال رسول الله : من سأل الناس أموالهم تكثرا فإنما يسأل جمرا فليستقل أو ليستكثر .

2) – Dan di Shohih Muslim dari Abi Huroiroh rodlialloohu’anhu berkata, bersabda shollalloohu’alaihi wasallam :”Barang siapa yang banyak meminta-meminta  harta manusia , maka sesungguhnya dia itu sebenarnya meminta bara  api, maka silahkan memperbanyak atau menpersempit (dalam meminta-minta).

وفي الصحيحين عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله قال : والذي نفسي بيده لأن يأخذ أحدكم حبله فيحتطب على ظهره فيتصدق به على الناس : خير له من أن يأتي رجلا فيسأله أعطاه أو منعه.

3) – Dan di Shohihain dari Abi Huroroh rodlialloohu’anhu bahwasanya rosululloh  shollalloohu’alaihi wasallam berkata: ” Demi Dzat yang jiwaku di tangannya, sungguh salah seorang di antara kalian mengambil tali, kemudian mencari kayu bakar dan di angkat dipunggungnya kemudian dia bersodaqoh kepada manusia, itu lebih baik baginya dari pada mendatangi orang untuk meminta-minta kepadanya,  baik di beri atau di tolak”.[ HR Bukhori(1410) dan Muslim (1042).]

وفي صحيح مسلم عنه أيضا قال: قال رسول الله: لأن يغدو أحدكم فيحتطب على ظهره فيتصدق به ويستغني به عن الناس: خير له من أن يسأل رجلا أعطاه أو منعه ذلك بأن اليد العليا خير من اليد السفلى وابدأ بمن تعول زاد الإمام أحمد: ولأن يأخذ ترابا فيجعله في فيه : خير له من أن يجعل في فيه ما حرم الله عليه.

4)- Dan dalam Shohih Muslim dari Abu Huroiroh rodlialloohu’anhu berkata bersabda rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam :” Sungguh salah seorang di antara kalian berpagi-pagi (berangkat) untuk  mencari kayu bakar dan di angkat dipunggungnya, kemudian dia bersodaqoh kepada manusia, dan untuk mencukupi diri dari meminta-meminta kepada manusia,  itu lebih baik baginya dari pada mendatangi orang untuk meminta kepadanya baik di beri atau di tolak, hal itu di karenakan tangan yang diatas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (peminta-minta), maka dahulukanlah (dalam infaqmu) dengan orang yang menjadi tanggungan kalian.[ HR Muslim (1042).]

5)- Dan dalam riwayat Ahmad ada tambahan: “Sungguh jika seseorang mengambil debu dan menjadikannya di mulutnya lebih baik baginya daripada menjadikan di mulutnya apa yang Allooh haromkan atasnya.[HR Ahmad (7462) ]

وفي صحيح البخاري عن الزبير بن العوام رضي الله عنه عن النبي قال : لأن

يأخذ أحدكم حبله فيأتي بحزمة من الحطب على ظهره فيبيعها فيكف الله بها وجهه : خير له من أن يسأل الناس أعطوه أو منعوه .

6)- Dan di Shohih Bukhori dari Zubair bin ‘Awwaam rodlialloohu’anhu dari nabi shollalloohu’alaihi wasallam berkata:

“Sungguh salah seorang di antara kalian mengambil tali, kemudian dia datang membawa seikat kayu bakar dan di angkat dipunggungnya lalu menjualnya sehingga Allooh menutup aib mukanya (dari meminta-minta) itu lebih baik baginya dari pada mendatangi orang untuk meminta kepadanya baik di beri atau di tolak”.[ HR Bukhori(1402])

وفى الصحيحين عن أبي سعيد الخدري رضى الله عنه : أن ناسا من الأنصار سألوا رسول الله فأعطاهم ثم سألوه فأعطاهم ثم سألوه فأعطاهم حتى نفد ما عنده فقال لهم حين أنفق كل شيء بيده : ما يكون عندي من خير فلن أدخره عنكم ومن يستعفف يعفه الله ومن يستغن يغنه الله ومن يتصبر يصبره الله وما أعطي أحد عطاء خيرا وأوسع من الصبر .

7)- Di Shohihain Dari Abu Sa’id Al-Khudri –رضي الله عنه-, bahwasanya beberapa orang dari Anshormeminta kepada Rosululloh -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-, maka beliau beri, kemudian minta lagi dan beliau beri. Setelah habis apa yang ada pada beliau, beliau berkata:

“Harta benda apa saja yang ada padaku, tidak akan aku sembunyikan dari kalian, dan barang siapa  berusaha untuk menjaga diri dari meminta-minta, Allooh akan menjaganya dan barang siapa merasa cukup, Allooh akan mencukupinya dan barangsiapa berusaha untuk sabar, Allooh akan menjadikannya sabar dan tidaklah seorang pun diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari sabar.” (HR. Bukhori no. 1472 dan Muslim no. 1053)

وعن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما أن رسول الله قال وهو على المنبر وذكر الصدقة والتعفف والمسألة : اليد العليا خير من اليد السفلى فاليد العليا : هي المنفقة واليد السفلى : هي السائلة .رواه البخارى ومسلم .

8)- Dari ‘Abdulloh bin ‘Umar rodlialloohu’anhuma bahwa nabi shollalloohu’alaihi wasallam berkata saat beliau diatas mimbar, sembari menyebutkan tentang shodaqoh, ta’affuf (menjaga diri dari meminta-minta), dan masalah tasawwul (ngemis),:

” Tangan yang di atas  lebih mulia dari tangan yang di bawah, tangan diatas adalah pemberi infaq, dan tangan di bawah adalah peminta-minta”.[Muttafaq ‘Alaih]

وعن حكيم بن حزام رضى الله عنه قال : سألت رسول الله فأعطاني ثم سألته فأعطاني ثم قال : يا حكيم إن هذا المال خضرة حلوة فمن أخذه بسخاوة نفس بورك له فيه ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه وكان كالذي يأكل ولا يشبع واليد العليا خير من اليد السفلى. قال حكيم : فقلت يا رسول الله والذي بعثك بالحق لا أرزأ أحدا بعدك شيئا حتى أفارق الدنيا وكان أبو بكر رضي الله عنه يدعو حكيما إلى العطاء فيأبى أن يقبله منه ثم إن عمر رضي الله عنه دعاه ليعطيه فأبى أن يقبل منه شيئا فقال عمر : إني أشهدكم يا معشر المسلمين على حكيم : أني أعرض عليه حقه من هذا الفيء فيأبى أن يأخذه فلم يرزأ حكيم رضي الله عنه أحدا من الناس بعد رسول الله حتى توفي . متفق على صحته

9)- Dan dari Hakim bin Hizam rodlialloohu’anhu berkata : Aku pernah meminta kepada nabishollalloohu’alaihi wasallam sesuatu, maka beliaupun memberiku, kemudian akupun meminta lagi dan beliaupun memberi lagi, kemudian beliau berkata: “Wahai Hakiim , sesungguhnya harta ini hijau dan manis, barang siapa yang mengambilnya dengan kerendahan jiwa(tidak meminta-minta), maka akan di berkahi baginya dalam harta tersebut, dan barang siapa mengambilnya dengan menengadahkan jiwa(menampakkan diri agar di kasih) maka tidak akan di berkahi baginya dalam harta itu, maka perumpamaannya seperti  orang yang makan tapi tidak pernah merasa kenyang, dan tangan yang di atas  lebih mulia dari tangan yang di bawah”

Berkata Hakim: Wahai rosulullooh , demi Dzat Yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan meminta sesuatu setelahmu kepada siapapun sampai aku berpisah dengan dunia ini.

Dan pernah Abu Bakar rodlialloohu’anhu memanggil Hakim untuk di beri sesuatu, maka dia enggan  untuk menerimanya darinya, begitu pula Umar rodlialloohu’anhu memanggilnya untuk memberinya bagian , maka diapun menolaknya, maka umar berkata: Aku persaksikan kepada kalian wahai seluruh kaum muslimin atas Hakim, bahwa aku telah menawarkan bagian dan hak dia dalam rampasan perang ini, akan tetapi dia menolaknya (enggan untuk menerimanya), maka Hakim rodlialloohu’anhu tidak pernah meminta sesuatu kepada seorang manusiapun setelah rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam, sampai meninggal dunia. [Muttafaq ‘Alaih]

وروي عن الشعبى قال : حدثني كاتب المغيرة بن شعبة قال : كتب معاوية إلى المغيرة بن شعبة : أن اكتب إلي شيئا سمعته من رسول الله فكتب إليه : سمعت النبي يقول : إن الله كره لكم ثلاثا قيل وقال وإضاعة المال وكثرة السؤال .رواه البخاري ومسلم

10)- Dan diriwayatkan dari Sya’bi rohimahulloh beliau berkata: telah menyampaikan kepadaku sekertaris Mughiroh bin Syu’bah : bahwa Mu’awiyah pernah menulis surat untuk Mughiroh bin Syu’bah ” Tuliskan kepadaku apa yang pernah engkau dengar dari rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam !! maka Mughirohpun membalasnya: Aku mendengar nabi shollalloohu’alaihi wasallam pernah mengatakan: “Sesungguhnya Allooh membenci kepada kalian tiga perkara: Qiila waqoola (ucapan yang tidak jelas akan kebenarannya ) dan menghambur-hamburkan harta, serta banyak meminta-minta.[HR Bukhori Muslim]

وعن معاوية رضي الله عنه قال : قال رسول الله : لا تلحفوا فى المسألة فوالله لا يسألني أحد منكم شيئا فتخرج له مسألته مني شيئا وأنا له كاره فيبارك له فيما أعطيته.

وفي لفظ : إنما أنا خازن فمن أعطيته عن طيب نفس فيبارك له فيه ومن أعطيته عن مسألة وشره كان كالذي يأكل ولا يشبع رواه مسلم

11)- Dari Mu’awiyah rodlialloohu’anhu berkata: bersabda rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam  :

“Janganlah kalian memelas-melas diri dalam meminta-minta, karena demi Allooh tidaklah seseorang minta kepadaku sesuatu lantas aku keluarkan (aku penuhi permintaannya) dalam keadaan aku membencinya, akan membuahkan barokah (maksudnya tidak akan di berkahi) pada apa yang kasihkan buat dia.

Dalam sebuah lafadz: Aku hanyalah penyimpan (pemegang baitulmal), maka barang siapa yang aku kasih dengan kerelaan jiwa (tanpa meminta-minta) maka akan di berkahi dia didalamnya, dan barang siapa yang aku beri karena dia meminta-minta dan kerakusan maka perumpamaannya seperti orang makan yang tidak kenyang-kenyang’.[HR Muslim]

وعن أبي مسلم الخولاني رضي الله عنه قال : حدثنى الحبيب الأمين أما هو : فحبيب إلي وأما هو عندي : فأمين عوف بن مالك الأشجعي رضي الله عنه قال : كنا عند رسول الله تسعة أو ثمانية أو سبعة فقال : ألا تبايعون رسول الله وكنا حديثي عهد ببيعته فقلنا : قد بايعناك يا رسول الله ثم قال : ألا تبايعون رسول الله فقلنا : قد بايعناك يا رسول الله ثم قال : ألا تبايعون رسول الله قال : فبسطنا أيدينا وقلنا : قد بايعناك يا رسول الله فعلام نبايعك قال : أن تعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا والصلوات الخمس وتطيعوا الله وأسر كلمة خفية ولا تسألوا الناس شيئا فلقد رأيت بعض أولئك النفر يسقط سوط أحدهم فما يسأل أحدا يناوله إياه, رواه مسلم .

12)- Dari Abi Muslim Al – Khoulani rodlialloohu’anhu berkata kepadaku kekasih yang terpercaya, adapun dia maka sungguh dia membuatku mencintainya, adapun Amin (yang terpercaya) adalah ‘Auf bin Malik al Asyja’i  rodlialloohu’anhu beliauberkata:  (Suatu hari) berkumpul satu jama’ah di sisi Rosululloh -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-, (sembilan atau delapan atau tujuh  orang) maka beliau bersabda:

«ألا تبايعون»

Kenapa kalian tidak berbaiatku?”

Mereka berkata: “Kami telah berbaiat kepadamu, atas perkara apa lagi kami harus berbai’at?” Rosul -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  bersabda:

“Atas peribadatan kalian kepada Allooh dan tidak mempersekutukanNya dengan sesuatu pun dan kalian tegakkan sholat lima waktu, dan kalian thoati Allooh ” dan beliau merahasiakan sesuatau yaitu :” jangan kalian meminta-minta kepada manusia sedikit pun.”

Sampai-sampai ketika salah seorang dari mereka jatuh cambuk tunggangannya, dia tidak mengatakan: “Tolong ambilkan untukku!” [HR Muslim]

وعن سمرة بن جندب رضي الله عنه قال : قال رسول الله : إن المسئلة كد يكد بها الرجل وجهه إلا أن يسأل الرجل سلطانا أو في أمر لا بد منه رواه الترمذى وقال : حديث حسن صحيح

13)- Dari Samuroh bin Jundub rodlialloohu’anhu berkata:bersabda rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam

:”Meminta-minta adalah kelelahan yang membuat lelah wajah pelakunya (kusut wajahnya), kecuali bila seseorang meminta kepada pemimpin atau dalam perkara yang harus di lakukan (terpaksa)”.[ HSR Tirmidzi dan dia berkata : hadits Hasan Shohih.]

وفى مسند الإمام أحمد عن زيد بن عقبة الفزاري قال : دخلت على الحجاج ابن يوسف الثقفي فقلت : أصلح الله الأمير ألا أحدثك حديثا سمعته من سمرة بن  جندب عن رسول الله قال : بلى قال سمعته يقول : المسائل كد يكد بها الرجل وجهه فمن شاء أبقى على وجهه ومن شاء ترك إلا أن يسأل رجل ذا سلطان أو يسأل في أمر لابد منه .

15)- Dan di Musnad Imam Ahmad dari Zaid bin ‘Uqbah Al Fazaari berkata: Aku masuk kepada Hajjaj bin Yusuf As Tsaqofi sembari aku katakan kepadanya: Semoga Allooh memperbaiki Amir (pemimpin), maukah engkau aku bacakan sebuah hadits yang aku dengar dari Samuroh bin Jundub rodlialloohu’anhu dari rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam ?, dia menjawab : tentu ! aku katakan : aku mendengar Samuroh bin Jundub rodlialloohu’anhu berkata  :

“Meminta-minta adalah kelelahan yang membuat lelah wajah pelakunya (kusut wajahnya), maka barang siapa yang ingin menjaga wajahnya agar tidak kusut (maka jangan meminta-minta), dan barang siapa yang ingin membiarkan wajahnya kusut(maka meminta-mintalah) kecuali bila seseorang meminta kepada pemimpin atau dalam perkara yang harus di lakukan (terpaksa)”.[HR Ahmad 20118 dengan sanad Shohih]

وعن ثوبان رضي الله عنه قال : قال رسول الله : من يتقبل لى بواحدة وأتقبل له بالجنة قال : قلت : أنا قال : لا تسأل الناس شيئا فكان ثوبان يقع سوطه وهو راكب فلا يقول لأحد : ناولنيه حتى ينزل هو فيتناوله رواه الإمام أحمد و أهل السنن .

16)- Dari Tsauban rodlialloohu’anhu berkata : bersabda rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam :” Siapakah yang akan menerima tawaranku sekali saja, dan aku akan menerimanya baginya sorga?” Tsauban berkata: Aku , berkata rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam : “Jangan kamu meminta-minta kepada manusia sedikitpun, ” maka Tsauban apabila terjatuh cambuknya sementara dia sedang berada di atas kendaraan maka dia tidak menyeru kepada seorangpun : ambilkan untukku, sampai dia turun dari kendaraan dan mengambilnya. [ HR Ahmad dan Ahlussunan dengan sanad shohih]

وعن عبدالله بن مسعود رضي الله عنه قال : قال رسول الله : من أصابته فاقة فأنزلها بالناس : لم تسد فاقته ومن أنزلها بالله : أوشك الله له بالغنى : إما بموت عاجل أو غنى عاجل رواه أبو داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح

17)- Dari ‘Abdillah bin Mas’ud rodlialloohu’anhu berkata: bersabda rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam:

“Barang siapa yang menimpanya kafaqiran kemudian dia keluhkan kepada manusia, maka tidak akan tertutupi  kefaqirannya (tidak akan terpenuhi kebutuhannya), dan barang siapa memasrahkannya kepada Allooh maka Allooh akan menyegerakan untuk memberinya kekayaan, boleh jadi dengan kematian dini, atau kekayaan mendadak. [HR Abu Dawud dan di shohihkan oleh Al-Albani di ِAs Shohihah no: 2787 ]

وعن سهل بن الحنظلية قال : قال : قدم على رسول الله عيينة ابن حصن والأقرع بن حابس فسألاه فأمر لهما بما سألاه، وأمر معاوية فكتب لهما بما سألا فأما الأقرع : فأخذ كتابه فلفه في عمامته وانطلق وأما عيينة : فأخذ كتابه فأتى النبي بكتابه فقال : يا محمد أراني حاملا إلى قومي كتابا لا أدري ما فيه كصحيفة المتلمس فأخبر معاوية بقوله رسول الله فقال رسول الله : من سأل وعنده ما يغنيه : فإنما يستكثر من النار وفي لفظ : من جمر جهنم قالوا : يا رسول الله وما يغنيه وفي لفظ : وما الغنى الذي لا تنبغي معه المسألة قال : قدر ما يغديه وما يعشيه وفي لفظ : أن يكون له شبع يوم وليلة رواه أبو داود والإمام أحمد

17)- Dari Sahl bin Al-Handholiyah rodlialloohu’anhu berkata: datang ‘Uyainah bin Hishn rodlialloohu’anhu dan Al- Aqro’ bin Haabis rodlialloohu’anhu kepada rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam dan keduanya meminta sesuatu kepada  beliau, maka rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam pun memenuhi permintaan keduanya, kemudian rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam menyuruh Mu’awiyah untuk menulis surat   untuk keduanya tentang apa yang mereka minta, adapun Al-Aqro’ maka dia mengambil surat tersebut dan langsung melipatnya dan dia letakkan di sorbannya, adapun ‘Uyainah  maka dia ambil surat tadi dan membawanya kepada rosululloh shollalloohu’alaihi wasallam sembari mengatakan: Wahai Muhammad, aku lihat diriku membawa sebuah tulisan yang aku tidak mengetahui apa isinya? Seperti seleberan pembawa sial?

Maka Mu’awiyah menghabarkan ucapannya kepada rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam , maka rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam menyela: “Barang siapa meminta-minta padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia hanya memperbanyak siksaan neraka, -dan dalam suatu lafadh- dari bara Jahannam, mereka berkata : batasan apakah ya rosulallooh sesuatu di katagorikan mencukupinya? – dan dalam sebuah lafadzh : dan apakah batasan kekayaan yang seseorang itu dilarang meminta-minta ?- Beliau menjawab : Sebatas apa yang bisa untuk makan siang dan makan malam -dalam suatu lafadzh- masih memeliki kecukupan untuk makan sehari semalam.”[HR Abu Dawud di shohihkan oleh Syaikh Muqbil di Shohih Musnad]

وعن ابن الفراسي أن الفراسي قال لرسول الله : أسأل يا رسول الله قال : لا وإن كنت سائلا لا بد فسل الصالحين رواه النسائي

18)- Dari Ibnul Firasiy  bahwasanya AlFirosiy berkata kepada rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam :” Bolehkah aku meminta-minta ya rosulAllooh- . beliau menjawab: “Tidak, kalau memang engkau terpaksa harus meminta, maka mintalah kepada orang sholih.” [ HR Nasaai , sanad hadits ini Dho’if  karena ada dua rowi yang majhul, Ibnul Firosi dan dan Muslim bin Mahsyi, makanya di dho’ifkan oleh Syaikh Al-Bani

وعن قبيصة بن مخارق الهلالي قال : تحملت حمالة فأتيت النبي أسأله فقال : أقم حتى تأتينا الصدقة فآمر لك بها ثم قال : يا قبيضة إن المسألة لا تحل إلا لأحد ثلاثة : رجل تحمل حمالة فحلت له المسألة حتى يصيبها ثم يمسك ورجل أصابته جائحة اجتاحت ماله فحلت له المسألة حتى يصيب قواما من عيش أو قال : سدادا من عيش ورجل أصابته فاقة حتى يقول ثلاثة من ذوي الحجى من قومه لقد أصابت فلانا فاقة فحلت له المسألة حتى يصيب قواما من عيش أو قال : سدادا من عيش فما سواهن من المسألة يا قبيصة سحت يأكلها صاحبها سحتا رواه مسلم

19)- Dari Qobishoh bin Mukhoriq Al-Hilaly –رضي الله عنه-, dia berkata: “Aku menanggung suatu beban (utang atau tebusan diyat dan sebagainya, pent). Maka aku datang kepada Rosululloh -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  untuk meminta bantuan beliau dalam membayarnya.

Beliau berkata:  “Tinggallah sampai datang kepada kami shodaqoh, nanti kami berikan kepadamu.” Kemudian beliau berkata:

“Wahai Qobishoh, sesungguhnya meminta-minta itu tidaklah halal kecuali bagi salah satu dari tiga orang berikut:

(Pertama), orang yang menanggung beban berat (utang, diyat atau mendamaikan antara dua kelompok yang bertikai), boleh baginya untuk meminta-minta sampai mendapatkan sekedar yang dia butuhkan, setelah itu berhenti dan tidak meminta-minta lagi.

(Kedua), seorang yang hartanya habis karena tertimpa bencana. Diperbolehkan baginya untuk meminta-minta sampai dia bisa mendapatkan harta yang bisa menopang hidupnya.

(Ketiga), seorang yang tertimpa kemiskinan, sampai ada tiga orang yang berakal dari kaumnya menyatakan bahwa fulan tertimpa kemiskinan. Maka boleh baginya untuk meminta-minta sampai dia mendapatkan apa yang bisa menopang kehidupannya. Adapun selain itu wahai Qobishoh, harom hukumnya dan orang yang memakannya maka dia telah memakan harta harom.” (HR. Muslim no. 1044)

وعن عائذ بن عمرو رضي الله عنه أن رجلا أتى النبي فسأله فأعطاه فلما وضع رجله على أسكفة الباب قال رسول الله : لو يعلمون ما في المسألة ما مشى أحد إلى أحد يسأله شيئا رواه النسائى

21)- Dari ‘Aidz bin ‘Amr rodlialloohu’anhu bahwa seorang lelaki datang kepada rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam untuk meminta , maka beliaupun mengasihnya, maka ketika dia melangkahkan kakinya diatas  batas pintu rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam berkata: Kalau mereka tahu (betapa buruknya akibat yang akan menimpa para peminta-minta) dalam mengemis,  tentu tidak seorangpun akan berjalan ketempat yang lain untuk memminta sesuatu”.[HR Nasaai, Sanad hadits ini dho’if karena ada ‘Abdulloh bin Kholifah Majhul, dan Syaikh Al-Albani di satu tempat beliau mendhoifkan dan di tempat lain menghasankannya]

وعن مالك بن نضلة رضي الله عنه قال : قال رسول الله الأيدي ثلاثة فيد الله : العليا ويد المعطي : التي تليها ويد السائل : السفلى فأعط الفضل ولا تعجز عن نفسك رواه الإمام أحمد وأبو داود

22)- Dari Malik bin Nadhlah rodlialloohu’anhu berkata , berkata rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam :“Tangan itu ada tiga, pertama tangan Allooh yang diatas, kedua tangan pemberi yaitu tangan setelah tangan Allooh , dan yang ketiga tangan peminta-minta (pengemis) yang rendah (di bawah), maka infaqkanlah harta lebihmu dan jangan kalah dari jiwamu.”[HSR Ahmad dan Abu Dawud ,terdapat di Shohih Musnad karya Syaikh Muqbil rohimahulloh]

وعن ثوبان رضي الله عنه عن رسول الله قال : من سأل مسألة وهو عنها غني كانت شينا في وجهه يوم القيامة رواه الإمام أحمد

23)- Dari Tsauban rodlialloohu’anhu dari rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam berkata:

” Barang siapa meminta suatu permintaan padahal dia tidak membutuhkannya maka akan menjadi kekotoran pada wajahnya pada hari kiamat.[HR Ahmad (22473) dengan sanad shohih]

وعن عبدالرحمن بن عوف رضي الله عنه أن رسول الله قال ثلاث والذي نفس محمد بيده إن كنت لحالفا عليهن : لا ينقص مال من صدقة فتصدقوا ولا يعفو عبد عن مظلمة يبتغي بها وجه الله إلا رفعه الله بها ولا يفتح عبد باب مسألة إلا فتح الله عليه باب فقر رواه الإمام أحمد

24)- Dari ‘Abdurrohman bin ‘Auf rodlialloohu’anhu bahwa rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam berkata:

” Tiga perkara demi Dzat yang jiwa Muhammad di tanganNya- yang sungguh aku bersumpah padanya ; pertama: Tidakakan berkurang harta dengan di shodaqohkannya, maka bershodaqohlah kalian,  kedua : tidaklah seseorang memaafkan kdzoliman seseorang karena mengharap wajah Allooh kecuali Allooh akan mengangkatnya, ketiga: dan tidaklah seseorang membuka pintu meminta-minta kecuali akan Allooh buka pintu kefaqiran atasnya.”[HHR Ahmad , hadist ini dho’if sanadnya akan tetapi terangkat menjadi hasan lighoirihi dengan syawahid dan mutaba’ahnya, datang semakna dengan hadits ini dari Abi Huroiroh, dari hadits Abi Kabsyah Alanmari semuanya di musnad Ahmad]

وعن أبي سعيد الخدري رضى الله عنه قال : سرحتني أمى إلى رسول الله أسأله فأتيته فقعدت قال : فاستقبلني فقال : من استغنى أغناه الله ومن استعف أعفه الله ومن استكفى كفاه الله ومن سأل وله قيمة أوقية فقد ألحف فقلت : ناقتي هي خير من أوقية ولم أسأله رواه الإمام أحمد وأبو داود

25)- Dari Abi Sa’id Al Khudri rodlialloohu’anhu berkata:  aku di suruh ibuku untuk meminta sesuatu kepada rosulullooh shollalloohu’alaihi wasallam , maka akupun datangi beliau, maka sesampainya disana akupun duduk, maka beliau shollalloohu’alaihi wasallam menyambutku sembari mengatakan :

” Barang siapa merasa kaya maka Alloohlah yang membuatnya kaya, dan barang siapa menjaga diri dari meminta-minta, maka Allooh akan menjaganya, dan barang siapa merasa cukup maka Alloohlah yang mencukupinya, dan barang siapa meminta sedangkan dia memiliki sesutu seharga satu  uqiyah ( empat puluh dirham ) maka sungguh dia telah merengek-rengek dalam meminta. Maka Abu Sai’d rodhialloohu ‘anhu  mendesir  : Ontaku lebih mahal dari satu ‘uqiyah, maka aku tidak jadi meminta kepada beliau”.[ HSR Ahmad dan Abu Dawud terdapat di Shohihah no 2314 -] (1)

وعن خالد بن عدي الجهني رضي الله عنه عن رسول الله قال من جاءه من أخيه معروف من غير إشراف ولا مسألة فليقبله ولا يرده فإنما هو رزق ساقه الله إليه رواه الإمام أحمد

27)- Dari Kholid bin ‘Adi  Al Juhani rodlialloohu’anhu dari rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam berkata :

” Barang yang datang kepadanya sebuah kebaikan dari saudaranya tanpa menwarkan diri agar di kasih dan tidak pula memintanya maka terimalah, dan jangan menolaknya karena itu adalah rezqi yang Allooh  giring untuknya”.[HR Ahmad dengan sanad Shohih datang semakna hadits ini dari Abi Huroiroh rodlialloohu’anhu ]

Fatwa Para Ulama Tentang
Keharoman Tasawwul

Perkataan Ibnu ‘Abdil Bar rohimaullooh:

Dan atsar-atsar yang di riwayatkan dari nabi shollalloohu’alaihi wasallam pada permasalahan di bencinya meminta-minta secara mutlak, atau larangan bagi yang memiliki sesuatu, maka itu sangat banyak (lalu beliau menyebutkan dalil-dalil di atas) lantas beliau mengatakan : dan ini semua adalah atsar-atsar shohih yang masyhur dan terkenal disisi ahlil hadits, terdapat di kitab-kitab musnad dan karangan-karangan hadits serta di buku-buku induk, – selanjutnya dia mengatakan :

Berkata Abu ‘Umar (Ibnu ‘Abdil Barr): dan masih terus para pemilik himmah (kemauan yang tinggi) dari kalangan laki-laki (yang mumpuni) membersihkan diri mereka dari meminta-minta , maka sungguh bagus apa yang dikatakan oleh Abul Fadl Ahmad bin Al Mu’addil bin Ghoilan Al Faqieh Al Maaliki:

التمــــس الأرزاق عند الذي ** ما دونه أن سيـــــل من حاجب
من يبغـــض التارك عن سؤله ** جودا ومـــن يرضى عن الطالب
ومن إذا قــــــال جرى قوله ** بغـــــــــــــير توقيع الى كاتب
  • Carilah rizki kepada yang tidak ada penghalang jika di mintai.
  • Yang murka terhadap yang tidak meminta, Yang Pengasih dan ridho terhadap yang mencari.
  • Dan yang  jika bertitah pasti terlaksana, tanpa harus ada tanda tangan penulis bukti.

Fatwa Syaikhul Islam rohimahulloh:

Berkata  Syaikhul Islam  rohimahulloh dalam kitab Ar-Rodd ‘Alal Bakri (1/401):

Adapun permasalahan meminta kepada manusia maka pada asalnya adalah harom dengan nash-nash yang mengaharamkannya, dan dibolehkan apabila dalam kondisi dhorurot (sangat terpaksa).

Dan para ulama berbeda pendapat apakah wajib meminta-minta dalam kodisi dhoruroh?

Yang tersurat dari pendapat imam Ahmad rohimahulloh  adalah tidak wajibnya meminta-minta kepada makhluk, padahal beliau dan juga selain beliau dari imam yang empat mewajibkan makan bangkai dalam keadaan dhoruroh, dikarenakan Allooh tidak mewajibkan meminta-minta kepada makhluk, bahkan sungguh nabi shollalloohu’alaihi wasallam, telah mewashiatkan beberapa orang dari kalangan shohabat untuk tidak meminta-minta kepada manusia sedikitpun, sehingga jika terjatuh cambuk salah seorang di antara mereka tidak meminta temannya untuk mengambilkannya, diantara mereka adalah Abu Bakar As Shiddiiq rodlialloohu’anhu .

Beliau juga mengatakan : Seorang hamba harus memiliki rizqi dan  membutuhkannya, jika dia mencarinya (memintanya ) kepada Allooh maka jadilah dia hamba Allooh, yang sangat faqiir (butuh) kepadaNya, dan apabila kebutuhannya di minta dan di cari (di sandarkan) kepada makhluq maka jadilah dia itu hamba makhluq tersebut, dan faqiir kepadanya  , oleh karena itu hukum meminta-minta adalah harom pada asalnya, dan di bolehkan karena dhoruroh, dan  larangan meminta-minta  tersebut banyak sekali dalilnya dari hadits-hadits nabi shollalloohu’alaihi wasallam ,- kemudian beliau menyebutkan beberapa dalil seperti yang telah lewat.- juga beliau tambah:

وقوله من سأل الناس وله ما يغنيه جاءت مسألته يوم القيامة خدوشا او خموشا او كدوحا فى وجهه.

Dan sabda nabi shollalloohu’alaihi wasallam :” Barang siapa meminta kepada manusia padahal dia memiliki sesuatu yang mencukupinya maka datanglah apa yang diminta pada hari kiamat wajahnya dalam keadaan terluka yang membekas (bopeng)”.[HR Abu Daud dan Thirmidzi dengan sanad Shohih terdapat di As Shohihah (499) dari hadits Abdulloh bin Mas’ud rodlialloohu’anhu ]

وقوله لا تحل المسألة الا لذى غرم مفظع او دم  موجع او فقر مدقع هذا المعنى فى الصحيح.

Dan sabda beliau shollalloohu’alaihi wasallam :

“Tidak halal meminta-minta kecuali yang memiliki utang melilit, atau  darah yang di tebus (untuk membayar diat) atau kefaqiran yang sangat mencekik. [HR Abu Daud dari hadits Anas rodlialloohu’anhu ,(1641) dengan sanad dho’if karena ada rowi yang bernama Abu Bakr Al hanafi Do’if]  [ lihat Majmu’Fatawa 10/182]

Beliau juga mengatakan : Adapun meminta-minta maka mereka para shohabat persis seperti apa yang rosulullooh shollalloohu’alaihi wasallam didikkan kepada mereka, dimana rosulullooh shollalloohu’alahi wasallam mengharamkannya  bagi yang memiliki kecukupan dan tidak butuh untuk meminta-minta, dan membolehkan bagi seseorang untuk menuntut haknya, seperti menuntut kepada pemerintah untuk memberi haknya dari harta Allooh (baitul mal), atau meminta jika dalam kondisi terjepit kepada orang-orang sholih yang memiliki kelapangan jika memang sangat membutuhkan, dan beliau shollalloohu’alaihi wasallam melarang beberapa shohabat khususnya  dari meminta-minta secara mutlak, sehingga ada diantara mereka yang terjatuh cambuknya dari tangannya maka dia tidak bilang kepada temannya :tolong pungutkan cambukku.

Selanjutnya beliau mengatakan : sebagaimana tertulis dalam Majmu’ Fatawa (2/46) berkata: “Tidak pernah ada di kalangan para sahabat baik dari ahlu shuffah atau selain mereka, seorang pun yang menjadikan minta-minta kepada orang, tidak pula mengemis dengan merengek-rengek dan memelas dengan menggunakan kaleng atau yang lainnya sebagai mata pencaharian dan lahan kerja. Yang dia tidak mencari rizki kecuali dari itu. Demikian pula tidak ada di kalangan sahabat orang yang punya harta berlebih, lalu membiarkannya dan tak membayar zakatnya, tidak pula menginfakkannya di jalan Allooh – وتعالى- atau memberikannya kepada orang yang membutuhkannya.

Bahkan kedua jenis manusia yang senantiasa berada dalam kezholiman yang nyata ini,  yaitu orang-orang yang tidak membayar zakat dan enggan memenuhi hak-hak yang wajib atasnya dan (golongan kedua) orang yang melanggar batas-batas hukum Allooh -سبحانه وتعالى- dalam mengambil harta orang lain, tidaklah ada di kalangan shohabat.” Demikianlah perkataan beliau.

Fatwa Ibnul Qoyyim Jauziyyah Rohimahulloh .

Dan meminta-minta asalnya adalah haram, hanya saja di bolehkan karena ada keperluan yang sangat mendesak, karena meminta-minta merupakan kedholiman (penganiayaan) terhadap hak rububiyah (penghambaan), dan dholim kepada yang di mintai (muhsinin).

Adapun sisi pertama (dholim dari sisi rububiyah) : dikarenakan dia mencurahkan permintaan, kefaqiran, kehinaan, dan harapan kasih sayangnya kepada selain Allooh, maka ini merupakan jenis penghambaan (‘ubudiyah), maka meletakkan permintaan pada selain tempatnya dan menurunkannya pada selain ahlinya, adalah mendholimi tauhid dan ikhlashnya dan kebutuhaannya kepada Allooh dan tawakkal atasNya, dan ridhoNya dengan pembagian yang Ia bagi, dan tidak butuhNya meminta manusia dari meminta Robunnas (Pengatur manusia), maka itu semua  menghanguskan sebagian hak tauhid dan memadamkan cahayanya dan melemahkan kekuatannya.

Adapun kedholiman peminta-minta kepada yang di minta(muhsinin): adalah dikarenakan dia meminta kepadanya sesuatu yang tidak ada padanya, maka perkara itu menjadikan dia dengan pemintaannya  wajib untuk memenuhi  perkara yang bukan menjadi kewajibannya, dan dia harus berhadapan dengan rasa beratnya mengasih (karena pada dasarnya manusia itu pelit, pent), ataupun khawatir tercaci bila menolaknya (karena akan dikatakan orang kikir dan pelit), maka bila dia mengasih, mengasihnyapun dalam kondisi terpaksa, kalau dia mencegahnya mencegahnyapun dalam keadaan menahan rasa  malu dan memejamkan mata, ini semua kalau bukan menjadi kewajibannya, adapun kalau meminta yang menjadi kewajibannya(seperti Zakat, nafaqoh keluarga dll pent), maka ini tidak masuk dalam masalah ini dan bukan kedholiman dengan permintaannya.

Adapun kedholiman dia pada dirinya sendiri : adalah dikarenakan dia mencurahkan air mukanya dan kerendahannya untuk selain penciptanya, dan menurunkan dirinya di dua tempat kerendahan dan kehinaan, dan ridho dengan salah satu dari dua kekotoran, dan ridho dengan menjatuhkan kemulyaan jiwanya  dan kehormatan ‘iffahnya  serta ketenangan qona’ahnya (rasa pasrah dan menerimanya), dan kelonggaran kesabarannya, dan keridhoannya dan tawakkalnya dengan dengan pembagian Allooh dan tidak ada keterikatan kebutuhan dia dari manusia, dengan permintaannya ini maka ini semua merupakan inti kedholiman terhadap dirinya sendiri, karena dia meletakkanya bukan pada tempatnya, dan mengotori kemuliaannya dan merendahkan kadarnya dan mensirnakan kejayaannya, dan mengecilkan dan menghinakannya, karena dia ridho jiwanya di bawah jiwa yang diminta, dan tangannya di bawah tangannya, kalau tidak karena terpaksa maka tidak ada izin (tidak  di perbolehkan meminta-minta) dalam syari’at.

Fatwa Syaikhuna Al Muhaddits Al-’Allaamah
Muqbil bin Hadi Al- Waadi’I rohimahulloh
.

Adapun fatwa, ucapan dan perbuatan beliau rohimahulloh baik dalam da’wah atau yang lainnya dalam masalah ini,  maka untuk masa kita ini, beliaulah pemegang peran utama, dan pada barisan terdepan dalam ta’affuf dan anti tasawwul, lihatlah kitab beliau “Dzammul Masalah” beliau bahas dengan tuntas dan tandas, sebagai bentuk bantahan dan nasehat terhadap para da’i yang tidak ada kepentingan mereka dan kesibukan mereka kecuali mengais dan meregup harta ummat atas nama da’wah. ‘

Namun sangat disayangkan, didikan, nasehat, prilaku , wejangan dan arahan  beliau tidak di indahkan oleh banyak yang mengaku dengan bangga sebagai mantan murid beliau, bahkan tanpa rasa malu mereka mencari celah walaupun selobang jarum, bahwa beliau mengesahkan perbuatan tasawwul danyayasan model mereka . لاحول ولا قوة إلا بالله

Berikut ana bawakan secara ringkas inti dari kitab berbarokah beliau”Dzammul Masalah”(Tercelanya Meminta-minta), barang kali dari pembaca ada  yang belum tahu kandungan kitab ini.

  • Muqoddimah beliau menerangankan latar belakang beliau menulis karya besar ini, yaitu sebagai bantahan terhadap para mutasawwilin atas nama dakwah, baik dari murid-murid beliau atau yang lainnya.
  • Bab pertama beliau berbicara akan kesabaran rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam dan para shohabat beliau rodhialloohu ‘anhum dalam kefaqiran dan kelaparan.  Sebagai nasehat dari kepada para da’i , bahwa kefaqiran , kelaparan dan minimnya fasilitas dan sedikitnya materi, bukanlah sebagai penghalang untuk menyampaikan ilmu dan da’wah kepada Allooh, sehingga walaupun dalam kondisi minimpun tidak terseret untuk melakukan tasawwul atas nama dakwah. Demikian manhaj mereka para salafussholih.
  • Bab kedua beliau berbicara tentang dalil-dalil shodaqoh dan segala yang berkaitan dengan shodaqoh, dengan tujuan bahwa  cukuplah  dengan tata cara syar’i  yang  penuh hikmah, jika semua kalangan ummat mempraktekkan apa yang pada salafussholih bisa memenuhi kebutuhan ummat yang membutuhkan santunan, tanpa melakukan tasawwul.
  • Bab berikutnya beliau berbicara tentang qona’ah, dan bersahaja dalam dunia, sebagai bentuk nasehat beliau terhadap ummat terlebih para dai’ , agar menerima dan puas atas  pemberian Allooh dan tidak rakus dan tamak terhadapat yang bukan miliknya, karena dengan sebab tidak adanya qona’ah maka banyak dari manusia termasuk pula para da’i  melakukan tasawwul.
  • Bab selanjutnya beliau berbicara akan bahaya kekikiran dan kebakhilan, agar para hartawan dan yang di beri Allooh kelebihan,  dengan ringan hati mengeluarkan shodaqohnya kepada yang berhak tanpa menunggu-nunggu para mutasawwil datang ke rumahnya menyodorkan proposal mereka.
  • Bab setelahnya, beliau berbicara tentang bahaya panjang angan-angan, karena banyak diantara para mutasawwil melakukan praktek tasawwul karena tingginya angan-angan mereka, seperti ingin mendapatkan uang tanpa harus berpayah-payah bekerja dan berusaha, cukup dengan mengandalkan tasawwul.
  • Bab terakhir barulah beliau menyebutkan dalil-dalil tentang larang tasawwul, dan betapa pentingnya ta’affuf sampai-sampai rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam membai’at para shahabat agar tidak meminta sedikitpun kepada makhluq.

Diakhir pembahasan beliau, beliau tuangkan sebuah nasehat yang sangat berharga bagi para da’i dan para hartawan , kami nukilkan nasehat beliau dengan lafadhnya:

وبعد، فنصيحتي للدعاة إلى الله أن يستعفوا ، ولأصحاب الأموال يتحروا إنفاقها في مصارفها  المشروعة ، فكذلك نصيحتي للفقراء أن يصبروا ولا يستثيرنهم الشيوعيون على المجتمع، ويكونوا سببا للفتن وسفك دماء المسلمين، وأنصحهم أن يسألوا الله من فضله ، والأغنياء الذين لا يؤدون الزكاة ، أو يؤدونها لكنها في غير مصارفها إما لضابط دائرة أو مرور ، من أجل إذا حدث عليه أمر يساعده، وهكذا  لصوص الدعوة الذين يستغلون الأموال لصالح الحزبية.

Wa ba’du, maka nasehatku kepada para du’at kepada Allooh, agar mereka ta’affuf, dan bagi para pemilik harta untuk berhati-hati dan  teliti dalam menyalurkan zakatnya, ketempat-tempat yang syar’i , begitu pula nasehatku kepada orang-orang faqiir, agar bersabar dan jangan menjadi umpan orang-orang komunis pada masyarakat, sehingga menjadi penyebab tertumpahnya darah kaum muslimin.

Aku nasehatkan mereka untuk memohon kepada Allooh dari keutamaanNya.

Dan orang-orang kaya yang tidak menunaikan zakatnya atau menunaikannya akan tetapi tidak pada tempatnya, baik ditujukan kepada para pengelola yang bisa memutarkan harta (semacam asuransi), sehingga kalau suatu kali dia tertimpa sesuatu maka pengelola itu bisa membantunya, dan begitu pula kalau dia tunaikan zakatnya kepada para maling da’wah yang menjalankan harta-harta untuk kepentingan hizbiyah mereka. Selesai.

Fatwa Syaikh Al ‘Allaamah Ibnu ‘Utsaimiin rohimahullooh:

Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimiin rohimahullooh di kitab Syarh Riadus Sholihin (1/62):

أما النوع الثاني من العفاف فهو العفاف عن شهوة البطن أي عن ما في أيدي الناس كما قال الله تعالى { يحسبهم الجاهل أغنياء عن التعفف } أي من التعفف عن سؤال الناس بحيث لا يسأل الإنسان أحداً شيئاً لأن السؤال مذلة والسائل يده دنيا سفلى والمعطي يده عليا فلا يجوز أن تسأل أحداً أي إلا ما لابد منه كما لو كان الإنسان مضطراً أو محتاجاً حاجة شبه ضرورية فحينئذ لا بأس أن يسأل . أما بدون حاجة ملحة أو ضرورة فإن السؤال محرم، وقد وردت أحاديث في التحذير منه أخبر النبي عليه الصلاة والسلام أن السائل يأتي يوم القيامة وما في وجهه مزعة لحم قد ظهر منه العظم أمام الناس في هذا المقام العظيم المشهود . ثم إن الصحابة رضي الله عنهم بايعوا النبي صلى الله عليه وسلم على أن لا يسألوا الناس شيئاً حتى يكون سوط أحدهم يسقط من على راحلته ولا يقول لأحد ناولني السوط بل ينزل ويأخذ السوط . والإنسان الذي أكرمه الله بالغنى والتعفف لا يعرف قدر السؤال إلا إذا ذل أمام المخلوق كيف تمد يدك إلى مخلوق وتقول له أعطني وأنت مثله وإذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله [شرح رياض الصالحين – (1 / 62﴾]

Adapun jenis kedua dari ma’na Ta’affuf adalah menjaga diri dari syahwat perut, yaitu menjaga diri dari apa yang ada di tangan manusia sebagaimana Allooh katakan  :

{ يحسبهم الجاهل أغنياء عن التعفف }

“(Orang-orang yang tidak mengetahui keadaan mereka menyangka bahwa mereka adalah orang-orang kaya dengan sebab ‘iffah)” maksudnya bahwa mereka menjaga diri dari meminta sesuatu kepada seorangpun dari manusia, karena meminta-minta adalah kehinaan, dan peminta tangannya rendah dan hina, sementara pemberi tangannya diatas, maka tidak boleh kamu meminta kepada seorangpun kecuali jika perkara yang sangat mendesak, seperti kalau orang itu terpaksa atau membutuhkan kebutuhan yang sangat dhoruri, maka waktu itu boleh baginya untuk meminta.

Adapun tanpa adanya kebutuhan yang mendesak maka meminta-minta itu adalah harom, – kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil diatas dan juga seperti kalam Syaikhul Islam, lalu beliau katakan-: dan manusia yang Allooh muliakan dengan perasaan cukup dan ‘iffah tidak mengetahui kadar meminta kecuali jika dia menghinakan diri di depan makhluq, bagaimana dia mengulurkan tangannya kepada makhluq sembari mengatakan: berilah aku sesuatu, dan engakau dalam keadaan  hina nista, maka jika engkau meminta mintalah kepada Allooh, dan jika engkau minta pertolongan mintalah pertolongan kepada Alloh. Selesai.

Perkataan Ihsaan Ilaahi Dzoohir Rohimahullooh

Berkata Ihsaan Ilaahi Dzhohir rohimahullooh dalam kitab : “Attashowwuf”(1/105) setelah menyebutkan beberapa kisah para shufiyah dalam melakukan tasawwul : (1)

والمعروف أن التسول والاستجداء والوقوف على أبواب الناس , وحمل المخلاة والكشكول من لوازم الديانة البوذية , ومن نصائح بوذا الثمانية المشهورة التي نصح بها دراويشه ورهبانه , كما أنه ألزمهم سير البراري , وقطع الصحاري , أو المكوث في الخانقاوات , والانشغال فيها بالذكر .

Yang ma’ruf (di ketahui) bahwa tasawwul dan mengais rizqi dengan meminta-minta, dan berdiri di pintu-pintu manusia dan membawa tempat-tempat  kosong (semacam tas) dan kasykul (buku coretan semacam proposal atau kantong untuk ngemis)(2)merupakan salah satu kelaziman agama Buda, dan termasuk salah satu dari anjuran dan nasehat Buda(Sidarta) yang delapan yang telah tersohor, dimana dia menasehati para pengekornya dan para biksunya untuk tasawwul , sebagaimana dia melazimkan mereka untuk melakukan pengembaraan di darat, dan mendaki bukit-nukit terjal, ataupun berdiam diri di tempat-tempat sepi untuk menyibukkan diri dengan berdzikir disana.

ولقد أخذت الصوفية هذا النظام بكامله من البوذية , وألزموا أنفسهم به , كأنهم هم الذين نصحهم بوذا بذلك فيقول الطوسي :

( الأكل بالسؤال أجمل من الأكل بالتقوى ) 288 .

وقال : ( كان بعض الصوفية ببغداد لا يكاد يأكل شيئا إلا بِذُلّ السؤال ) 289 . (التصوف .. المنشأ والمصادر – إحسان إلهي ظهير – (1 / 105)

Dan sungguh orang-orang shufi telah mengambil jalan dan aturan ini secara  sempurna dari orang buda, seakan-akan mereka mewajibkan diri mereka sendiri untuk mendapat menasehat dari buda, maka berkata At-Thusyi (salah seorang pembesar Syufi): makan dengan cara meminta-minta lebih bagus dari pada makan dengan taqwa.

Dia mengatakan: ada sebagian syufiyah di Bagdad hampir-hampir tidak makan sesuatu kecuali dengan merendahkan diri dengan mengemis. Selesai dari kitab Attashowwuf (1/105) dan disana beliau menukil lelucon lelucon mereka dalam mengemis yang persis seperti apa yang dilakukan pawa mutasawwilin atas nama da’wah) .

Ana katakan : wahai para mutasawwilin yang mengatas namakan dakwah sadarkah kalian akan hal itu, kalian tahdzir ummat dari Syufiyah dan yang semacamnya sementara kalian sendiri penghusung dan pembela salah satu manhaj inti mereka, maka bangunlah kalian dari tidur kalian dan jangan terlena dengan tipuan syaithon.

Dua Faedah :

Pertama: Tasawwul Merupakan Trik Yahudi.

Berkata pengarang kitab :   موسوعة اليهود و اليهودية و الصهيونية : (4 / 407)

كلمة «المتسولون» هي المقابل العربي لكلمة «شنوررز schnorers»، وهي كلمة يديشية في صيغة الجمع مفردها «شنورر schnorer» أي «شحاذ» أو «متسول». وتتواتر هذه الكلمة في الأدبيات الصهيونية وفي الدراسات عن الجماعات اليهودية، وبخاصة في القرن التاسع عشر.

Kata-kata “almutasawwilun” dalam bahasa Arob maka itu adalah sinonim “schnorers”، dalam bahasa prancis, yaitu (sebuah ungkapan dalam rangka penggalangan dana), dan kalimat ini sudah mutawatir, terkenal pada kelompok para pendidik “Shohyuniyyah” salah satu kelompok besar dari golongan Yahudi lebih-lebih pada abad kesembilan belas.

ويُستخدَم مصطلح «شنورر» بالمعنى الضيق للإشارة إلى المتسول الذي تَلقَّى شيئاً من التعليم الحاخامي، وبالتالي فهو ليس متسولاً بالمعنى العادي للكلمة وإنما هو طالب للصدقة ويعتبرها حقه الطبيعي الذي يجب أن يعطيه إياه الأثرياء حتى ينالوا الخلاص. ومثل هذا المتسول المتعلم المتبجح كان يروي في العادة قصة ما تُفسِّر قيامه بالتسول، فهو يجمع الأموال ليعود إلى تجارته بعد أن أفلس أو ليزوج قريبة فقيرة. وكان هذا المتسول يظهر دائماً يوم السبت أمام المعبد وهو يعلم تمام العلم أن أعضاء الجماعة سيضطرون إلى أن يدفعوا له صدقة حتى لا يظهروا بمظهر سيئ في ذلك اليوم أمام بعضهم البعض، وحتى لا تظهر الجماعة اليهودية ككل بمظهر سيئ أمام الأغيار. وكان لكل متسول طرق محددة يسلكها ومناطق معروفة يتسول فيها ويزورها في فترات منتظمة لا ينافسه فيها أحد [مجموع مؤلفات عقائد الرافضة والرد عليها – 164 / 59]

Dan istilah kata-kata “schnorers” dipakai dalam perkara yang sempit, sebagai pertanda bahwa dia itu adalah mutasawwil (pengemis) yang telah terdidik, dan bukanlah pengemis yang dimaksud disitu dalam artian seperti layaknya pengemis, akan tetapi para pengemis yang bertujuan mengais shodaqoh dan menjadikan dirinya orang yang berhak untuk diberi oleh para hartawan sampai sukses.

Dan model para pengemis yang terdidik ini yang merasa bangga dengan pekerjaan ini, diantara triknya dalam tasawwul adalah terkadang membawakan sebuah kisah dan cerita yang mengarah apa yang dia maksudkan dari tasawwul, padahal pada hakekatnya dia itu mengumpulkan harta untuk mengembalikan bisnisnya yang telah pailit, atau untuk menikahkan kerabat dekatnya, dan si mutasawwil ini selalu tampak pada hari Sabtu di depan tempat peribadatan mereka, dan dia sangat paham bahwa anggota jama’ah akan dengan terpaksa mengulurkan sodaqohnya padanya, agar tidak nampak pemandangan jelek dihadapan jama’ah lainnya pada hari itu. Dan agar tidak nampak pada kelompok Yahudi ini terkesan jelek dihadapan khalayak.

Maka masing-masing mutasawwil memiliki cara tersendiri dalam bertasawwul dan juga memiliki wilayah khusus yang tidak boleh disaingi oleh mutasawwil yang lain. Selesai.

Kedua : Tasawwul Juga Trik Rofidhoh.

Berkata Al Muusawiy (1)- pengarang kitab “Lillaah tsumma littaarikh” dia menyebutkan sebuah pantun sahabat beliau yang bernama Ahmad Asshofi ketika mensifati para dedengkot Rofidhoh:

يعيشـــون من مال الأنام بذا الاسم لتعطي بذل بل لتـــــــؤخذ بالــرغم عجبت لقوم شحذهم   باسم دينـهم وكيف يسوغ الشحذ للرجل الشــهم

  • Aku sangat heran pada suatu kaum yang mengemis atas nama agama.
  • Mereka hidup dari harta manusia dengan slogan agama.
  • Maka apakah pantas bagi seorang yang kekar lagi cerdik untuk memelas.
  • Agar di kasih uluran tangan pemberi bahkah mengambil dengan cara keras. [selesai dengan ringkas]

Maka sungguh menyayat hati, bahwa para pembesar dan pelopor tasawwul bukanlah orang–orang sholih dan terpercaya, bukan  dari para nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam atau para shohabat rodhialloohu ‘anhum atau para ulama, akan tetapi dari manusia-manusia penentang syari’at Allooh dan para penghusung syaithon: Orang Budha Musyrik, Orang Yahudi khobits, dan Pendusta nomor satu Rofidhoh dan Para Shufiy pengacau agama. فاعتبروا يا أولي الألباب .

Salafussholih dan ‘Iffah

(1)   Rosulullooh Shollalloohu ‘Alaihi Wasallam Adalah Pemimpin Para ‘Aiffaa .

Bagaimana tidak , beliaulah yang menganjurkan untuk ta’affuf, beliaulah yang membaiat para shohabat untuk ‘iffah, beliaulah yang menjanjikan jannah untuk para a’iffaa , maka beliau pula yang menjadi suritauladan dalam ‘affaaf, lihatlah.

1-      Ketika rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam di idzinkan Alloh untuk hijroh ke Madinah, maka beliau menjadikan Abu Bakar As Shiddiiq -rodhialloohu ‘anhu-  sebagai teman untuk menemani beliau, maka Abu Bakar -rodhialloohu ‘anhu -pun menyiapkan dua kendaraan beberapa bulan sebelum itu , dan ketika tiba waktunya Abu Bakar rodhialloohu ‘anhu berkata:

: يا رسول الله إن عندي ناقتين أعددتهما للخروج فخذ إحداهما قال ( قد أخذتها بالثمن )  ﴿صحيح البخاري – (2 / 751)

Wahai rosulullooh, sesungguhnya aku punya dua ekor onta yang telah aku persiapkan untuk keluar, maka ambillah salah satunya, maka rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam menjawab: ” Baiklah,  aku telah mengambilnya dengan harga” [HR Bukhori :2031]

Lihatlah betapa ‘iffahnya rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam , walaupun dengan teman karibnya, beliau tidak memintanya percuma (gratis) . Dan bukankah itu untuk keperluan dakwah???

2-      Dari Anas bin Maalik rodhialloohu ‘anhu berkata :

وأنه أمر ببناء المسجد فأرسل إلى ملأ من بني النجار فقال ( يا بني النجار ثامنوني بحائطكم هذا ) . قالو لا والله لا نطلب ثمنه إلا إلى الله.

Bahwa nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk membangun masjid – nabawi – , maka nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam memanggil para tetua bani Najjar, – setelah merek berkumpul- maka rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam berkata: “Wahai bani Najjar juallah kebun kalian ini kepadaku?” maka mereka mengatakan: “Tidak!! demi Allooh, kami tidak meminta harganya kecuali kepada Allooh. [HR   Bukhori:  418]

Lihatlah bagaimana rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam menawar tanah itu dan tidak meminta mereka untuk menjadikan tanah mereka tanah wakaf yang diberikan secara cuma-cuma, padahal semua tahu bahwa perkara ini adalah untuk kepentingan dakwah bukan untuk individu.

Betapa  jauh sifat beliau dengan mereka-mereka yang dengan giatnya bertasawwul untuk membebaskan tanah, yang barang kali salah satu dari mereka mampu untuk membangun masjid dengan biaya sendiri, tanpa harus tasawwul, akan tetapi “Kecintaan tasawwul telah melekat pada diri mereka?!”

Dan kisah-kisah semacam ini banyak sekali dari rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam, kami cukupkan dua buah saja, karena satu dalilpun cukup bagi seorang mukmin yang tho’at kepada Allooh ta’ala dan rosulNya shollalloohu ‘alaihi wasallam.

2- Para Shohabat dan Tabi’in dan Orang-orang Sholih Juga Contoh Bagi Para Muta’affifiin.

Sudah lewat pada pembahasan lalu beberapa nama shohabat rodhialloohu ‘anhum yang dibai’at rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam untuk  I”ffah dan tidak meminta sesuatu apapapun kepada  makhluq, di antara mereka adalah: Abu Bakr As-Shiddieq, Tsauban bin Bujdud, Abu Dzar, Hakiim bin Hizam,  rodhialloohu ‘anhum dll.

Ana bawakan sebuah hadits di Shohihain dari Ibnu Umar rodhialloohu ‘anhu :

عبد الله عن أبيه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعطي عمر بن الخطاب رضي الله عنه العطاء فيقول له عمر: أعطه، يا رسول الله، أفقر إليه مني. فقال له رسول الله  صلى الله عليه وسلم: “خذه، فتموله، أو تصدق به، وما جاءك من هذا المال، وأنت غير مشرف، ولا سائل، فخذه. وما لا فلا تتبعه نفسك.” قال سالم: فمن أجل ذلك كان ابن عمر لا يسأل أحدا شيئا ولا يرد شيئا أعطيه.

Dari ‘Abdillah bin ‘Umar rodhialloohu ‘anhuma bahwasanya rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam memberi Umar sebuah pemberian, maka ‘Umar mengatakan: Wahai rosullalooh berikanlah ke orang yang lebih faqir terhadapnya daripadaku, maka rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya:“Ambillah, dan jadikanlah itu sebagai harta milikmu, atau engkau bershodaqoh dengannya, dan apapun yang datang dari harta semacam ini sedangkan engkau tidak melongok-longok untuk diberi, dan tidak pula engkau memintanya,  maka ambillah, adapun kalau tidak maka jangan kau ikuti nafsumu“.

Berkata Saalim (perowi dari Ibnu ‘Umar rodhialloohu ‘anhu) : dari sebab itu, maka Ibnu ‘Umar rodhialloohu ‘anhu tidak pernah meminta kepada seseorang sesuatu apapun dan tidak menolak pemberian yang beliau diberinya.

Ana kira hadits ini cukup sebagai patokan dalam masalah kita ini.

Membongkar Syubhat-Syubhat Seputar Tasawwul

1-Perkataan sebagian mereka :

Proposal penggalangan dana dan yang semisalnya tidak bisa disamakan dengan meminta-minta, karena itu hanyalah untuk mengingatkan orang agar berinfaq, karena kalau tidak melalui proposal dan semisalnya tidak ada orang yang mau berinfaq, dan betapa banyak masjid yang tidak bisa di bangun dan berapa banyak orang susah yang tidak tertolong karena kita hidup di zaman kekikiran yang tidak lagi dianggap dosa!

Jawabannya : ini omong kosong, dan telah di ketahui bersama bahwa penggalangan dana model ini adalah bentuk tasawwul keren yang sudah terbukti kekotorannya, bagaimana tidak bisa digolongkan model proposal kedalam meminta-minta, bukankah tujuannya sama, meminta uang dan pelakunya mendapat jatah, kalau memang hanya mengingatkan, tentunya tidak perlu adanya  keterangan bahwa kami butuh ini dan itu, dan kalau seandainya yang didatangi tidak seorangpun yang mengasih dana, apakah gerakan ini akan tetap  berjalan  karena sekedar mengingatkan, ataukah akan terus exsis mengingatkan manusia untuk bersodaqoh walaupun yayasan dan proposal dia tidak kebagian jatah???

Adapun ucapan mereka : karena kalau tidak melalui proposal dan semisalnya tidak ada orang yang mau berinfaq.

Ini merupakan suudzhon terhadap orang-orang sholih yang selalu berinfaq yang tidak memakai proposal / yayasan, dan ternyata kita dapati banyak diantara mereka yang berinfaq demikian, dan hal itu jauh sangat lebih baik dan benar serta  menjaga  keikhlasan sipenginfaq, dari pada mereka yang berinfaq melalui pendataan yayasan.

Perkataan diatas kalau diteliti lebih dalam memiliki kafatalan yang nyata, dimana rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam tidak menganjurkan tata cara berinfaq seperti cara mereka, dan hasilnya ternyata para salaf membelajakan sesuai dengan syari’at yang penuh barokah, sementara mereka yang melakukan tasawwul semakin menjauhkan orang dari syari’at, dan melahirkan orang-orang bakhil yang tidak mau mengeluarkan infaqnya kecuali kalau ada sodoran proposal dan panitia, maka sungguh ini menutup hak faqir dan mereka-mereka yang membutuhkan santunan karena banyak diantara mereka yang tidak terdaftar pada yayasan itu. Wallohul musta’an.

Ucapannya : dan betapa banyak masjid yang tidak bisa di bangun.

Ini juga ucapan yang tidak beralasan ilmu, karena pembangunan masjid sebagaimana yang dilakukan rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam dan salaf, tidak pernah menggunakan proposal sebagaimana yang telah lewat penjabarannya, tidak ada panitiannya, tidak ada ini dan itu model mereka, bahkan kebutuhan masjid di zaman salaf tidak butuh  membikin yayasan pencari dana, karena kebutuhan masjid adalah dimakmurkan oleh jama’ah dan ummat untuk sholat berjama’ah, kajian ilmu, dzikkrullooh, dan hal-hal lain yang syar’i, bukan di percantik dan dihias  madzharnya, karena  nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam membenci untuk menghias dan mempercantik masjid, karena itu menyerupai ahlil kitab (1), maka mereka yang melakukan tasawwul dengan alasan kebutuhan masjid atau bangunan masjid, sebagian mereka sungguh telah mengalihkan tujuan utama pembangunan masjid,  karena kebutuhannya tidak sebesar hasil yang mereka tasawuli, lagi pula kegunaannya untuk sesuatu yang di benci nabi shollalloohu ‘alaihi wasallam.

Dan sudah sering terjadi cekcok sengit antar takmir masjid ketika penghitungan hasil ngemis lewat kotak infaq , yang membuahkan perpecahan dan mengakibatkan sebagian mereka meninggalkan masjid karena masalah ini.

Ucapannya : dan berapa banyak orang susah yang tidak tertolong, karena kita hidup di zaman kekikiran yang tidak lagi dianggap dosa!

Kami katakan : urusan rizki sudah menjadi ketetapan Allooh, dan Allooh ta’ala dan rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam  menyuruh kita dalam mencari dan berinfaq dengan cara baik.

Allooh ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ [البقرة : 172]

” Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allooh, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah“.[QS Al Baqoroh 172]

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ  [البقرة : 267]

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allooh) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik”. [ QS Al Baqoroh: 267]

  • Apakah termasuk thoyyibaat jika kita mencari hartanya lewat tasawwul??
  • Apakah termasuk thoyyibaat jika kita meninfaqkan harta dari tasawwul??.

Perkaranya bukanlah memberi pertolongan dan tidaknya, akan tetapi thoyyib atau khobitsnya usaha kita, baik mencari atau memberi, karena walaupun kita mampu menolong dan membantu mereka dengan jumlah yang besar, akan tetapi dari hasil yang kotor,  maka  Allooh tidak akan menerimanya, dalam hadits Abi Huroiroh rodhialloohu ‘anhu bersabda rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam :

” إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا”

“Sesungguhnya Allooh itu Thoyyib dan tidak menerima kecuali yang baik(thoyyib)”.

Dan tasawwul adalah hasil yang khobits (kotor) sebagaimana dalam hadits Qobishoh yang telah lewat.

Ucapannya : karena kita hidup di zaman kekikiran yang tidak lagi dianggap dosa!

Kami katakan : apakah dengan demikian kita boleh  merobah syari’at, sungguh perkataan ini persis dengan ucapan Al Karroomiyyah yang menghalalkan membuat hadits palsu agar orang semangat mengamalkan agama.

Memang benar bahwa kekikiran telah meraja lela pada manusia, dan memang itulah sifat asli mereka, sebagaimana Allooh ta’aala katakan :

﴿ قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا ﴾ [الإسراء : 100]

Katakanlah: Kalau seandainya kalian menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Robbku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan, karena takut membelanjakannya”. dan adalah manusia itu sangat kikir. [QS Al Isro :100]

Akan tetapi sifat itu bisa berobah dengan bertambahnya ilmu dien pada seseorang dan bertambah amalannya, serta ada yang mencontohkannya, coba kalau kalian wahai para pengemis atas nama dakwah dan para pengelola yayasan memberi contoh kepada mereka dengan cara yang syar’i, bukan hanya kalian yang mengulurkan tangan kepada mereka, niscaya merekapun akan berinfaq dengan cara syar’i dan tidak perlu kalian ulurkan tangan kalian dengan hina.

Juga kami  katakan :  ketika kalian mengatakan : zaman kekikiran yang tidak lagi dianggap dosa!

  • Apakah tasawwul sudah tidak kalian anggap dosa??
  • Apakah zaman pengharomannya sudah kadaluwarsa??
  • Ataukah tasawwul kalian ada dispensasinya??

3-    Perkataan sebagian lainnya:

Sungguh, para mutasawwilin  berdalil dengan hadits Jarir –رضي الله عنه-.[1] Darimanakah pendalilan mereka itu?! Sebab antara kisah hadits ini dan tasawwul mereka , terdapat perbedaan yang sangat jelas, diantaranya:

–          Nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  adalah imam kaum muslimin. Beliau berhak untuk memerintahkan kepada rakyatnya sesuatu yang beliau anggap ada mashlahatnya. Rakyat pun wajib untuk mentaatinya. Adapun tasawwul mereka  ini tidaklah demikian.

–          Peristiwa tersebut hanya terjadi satu kali saja, bukan merupakan kebiasaan nabi dan para sahabat beliau. Itu adalah suatu yang mustahil. Adapun mutasawwilin tersebut, mereka telah menjadikan minta-minta sebagai kebiasaan dan hal ibadah resmi yang tidak mungkin luput darinya. Kapan saja mereka melihat peluang, mereka akan manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

–          Nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- hanya sebagai pemberi syafa’at dan beliau tidaklah mengambil manfaat sedikitpun dari harta yang terkumpul tersebut. Beliau-صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  sendiri telah berkata:

«اشفعوا تؤجروا»

“Berikanlah syafa’at, maka kalian akan mendapatkan pahala.”

Adapun para mutasawwilin, merekalah yang terjun langsung ke lapangan dan mereka jugalah yang paling banyak mengambil dana yang mereka kumpulkan atas nama dakwah.

–          Bahwasanya nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- hanya mengutarakan masalah ini kepada para shahabat yang hadir bersama beliau saja dan beliau tidak menyuruh seorang pun dari mereka untuk mendatangi dan mengetuk pintu-pintu rumah kemudian meminta sumbangan dari mereka. Adapun saudara-saudara kita (pengurus jam’iyyah), mereka memanfaatkan segala macam cara yang mereka temukan dan bersegera menuju orang-orang yang sejalan dengan mereka.

–          Nabi –صلى الله عليه وعلى آله وسلم mengumpulkan harta tersebut hanya sekedar untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya, beliau tidak menyisakannya sedikitpun (untuk dirinya), bahkan harta tersebut langsung dibagi habis hingga tidak tersisa sedikitpun. Adapun mereka para mutasawwilin  keadaan mereka sangatlah jelas dari sisi ini. Dana yang terkumpul tersebut mereka simpan di bank dan orang-orang yang berhak menerimanya hanya diberikan bagian sedikit saja.

–          Nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  melakukan hal itu karena beliau tidak memiliki sesuatu (untuk diinfakkan). Adapun kalau beliau punya sesuatu yang bisa diberikan, pasti beliau akan berikan apa saja yang dimiliki, tanpa harus memberikan dorongan kepada manusia dalam masalah ini, karenaAlloh tidaklah menjadikan nabi-Nya seorang yang bakhil. Adapun mereka, boleh jadi termasuk deretan orang yang paling kaya dan paling pelit yang karenanya mereka masih tetap meminta-minta.

–          Orang-orang fakir dan orang-orang yang butuh bantuan yang berada di sisi nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-, kemiskinan mereka sudah sangat memprihatinkan. Oleh karena itu tatkala nabi -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  melihat kesusahan dan kemelaratan mereka, beliau bersegera melakukan hal tersebut untuk menutupi kebutuhan mereka. Adapun, mereka para mutasawwilin, kebutuhan mereka tersebut ada di alam hayalan dan menyelisihi hakekat yang sebenarnya.

–          Perbedaan-perbedaan lainnya yang menjelaskan bahwa hadits tersebut berada pada satu sisi, sedangkan tasawwul berada pada sisi yang lain.

4-    Ungkapan sebagian mereka

Tasawwul Yang dilarang adalah kalau untuk kepentingan pribadi, adapun atas  nama  dakwah dan kepentingan umum maka itu tidak terlarang.

Kami  katakan  : mana dalilnya akan adanya pemisah antara tasawul untuk pribadi dan untuk kepentingan umum atau dakwah, bahkan yang ada dalam hadits  Qobishoh adalah di bolehkannya meminta untuk kepentingan pribadi sampai dibuka baginya kehidupan yang layak. Adapun ucapan kalian diatas adalah dikarenakan kalian ingin berkelit, bukan ingin al haq, yang mencontoh kehidupan dan dakwah rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam .

Dan slogan murahan ini telah dibantah oleh Syaikh Muqbil rohimahullooh dalam muqoddimah kitab “Dzammul Masalah”  cetakan pertama diantaranya beliau mengatakan :

Harta  yang buruk dalam menginfaqkan ada dua : pertama : para hartawan yang tidak  menyalurkannya, atau menyalurkannya  tidak pada jalan yang syar’i , bahkan banyak diantara mereka tidak menunaikan zakat.

Yang  kedua : para maling-maling yang mengambil zakat (siap menampung zakat) padahal bukan orang yang berhak menerima zakat, – semacam yayasan dsb- kemudian mereka membelanjakannya untuk kepentingan pribadinya.

Dan yang lebih buruk dari ini adalah para thullaab (santri) yang membuang waktunya dan menghinakan ilmu dan dakwah, berpindah dari satu negri ke negri lainnya bertasawwul, dan ketika ditanya: kenapa engkau berbuat demikian wahai fulan ?? dia menjawab:  Aku terlilit hutang, aku ingin membangun masjid (pondok , pent), atau membangun rumah ustadz, – padahal dia sendiri ustadznya- atau aku ingin membeli mobil untuk dakwah, atau aku ingin menikah.

Sungguh hina sekali, kalau ujung dari kehidupan seorang  tholibul ilmi  hanya menjadi pengemis, sungguh tidak ada kebaikan padanya.

Kemudian beliau memberi nasehat:

Dan akhirnya aku nasehatkan kepada yang belum mampu menikah, Allooh telah menuntunya apa yang harus diamalakan dengan firmanNya:

وَلْيَسْتَعْفِفِ الَّذِينَ لَا يَجِدُونَ نِكَاحاً حَتَّى يُغْنِيَهُمْ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ

” Dan  orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allooh memampukan mereka dengan karunia-Nya”. [QS An Nuur 33]

Dan di Shohihain dari Ibnu Mas’ud rodhialloohu ‘anhu berkata ” bersabda rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam :

” يا معشر الشباب من استطاع منكم الباءة فليتزوج ، فإنه أغض للبصر وأحصن للفرج ، ومن لم يستطع فعلبه بالصوم فإنه له وجاء”.

” Wahai para pemuda , barang siapa yang sudah mampu menikah maka menikahlah, karena nikah itu lebih bisa untuk menundukkan pandangan dan lebih bias menjaga kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu maka hendaklah dia melakukan shoum, karena shoum memiliki tameng untuk mengekang syahwat.”

Dan aku nasehatkan kepada para hartawan untuk memberi bantuan kepada mereka dengan tanpa di minta, sampai dia menyibukkan diri dengan ilmu dan ta’lim.

Dan bagi yang menanggung beban hutang, aku nasehatkan baginya untuk bekerja sampai Allooh melunasi hutangnya.

Begitu pula bagi yang ingin membangun masjid , tidak boleh menghinakan diri, dan menghinakan ilmu dan dakwah dengan alasan pembangunan masjid.

Rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam waktu beliau hendak membangun masjid beliau berkata :” Wahai bani Najjaar hargailah kebun kalian – untuk aku beli untuk di bangun masjid -” maka mereka mengatakan: bahkan itu untuk Allooh dan rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam .

Padahal sangat memungkinkan untuk membangun masjid dengan tanah liat, dan batu bata mentah. Sedangkan waktu yang engkau habiskan untuk meminta-minta engkau gunakan untuk memakmurkan masjid, dan mengajak manusia untuk bekerja dengan tangannya.

Maka harta yang dijadikan untuk menghinakan ilmu dan dakwah, atau di gunakan untuk dakwah hizbiyyah atau menjadikan masjid sebagai tempat/alasan untuk meminta-minta, maka kita tidak membutuhkannya.

Selanjutnya beliau menegaskan:

Disana banyak orang berbondong-bondong mengatas namakan dakwah Ahlus Sunnah dari Dammaj, ada yang meminta tazkiyah(rekomendasi) , ada yang meminta Syafa’at- kepadaku untuk tasawwul- sementara diriku karena begitu padatnya kesibukanku, tersibukkan untuk memikirkan tanggal berapa aku mengasih tazkiyah tersebut, lantas rekomendasiku tadi terpakai kapanpun waktunya, bahkan mungkin dipoto kopi untuk orang lain, maka setelah saya telaah akan dipermainkannya masalah ini, maka aku batalkan semua bentuk syafa’at yang telah lewat, sejak hari ini tgl 4 Dzul Hijjah 1413 H. agar kami tidak ikut andil menolong menghinakan dakwah.

Maka tidak ada perlunya sama sekali alasan para mutasawwilin dalam tasawulnya demi dakwah. Selesai.

Ana kira ana cukupkan sampai disini risalah ringkas ini, mudah-mudahan Allooh memberkahinya, dan bisa menyadarkan orang-orang yang terfitnah dengan tasawwul agar kehidupannya, dakwahnya dan segala aktifitasnya sesuai dengan Al-Kitaab dan Sunnah dengan pemahaman salaful Ummah.

سبحانك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك


(1 )  berkata Syaikhul Islam di kitab Arrod ‘alal Bakri: maka Abu Said memahami dari kalimat nabi shollalloohu’alaihi wasallam bahwa meninggalkan meminta- minta dan menjaga diri dari meminta-minta dan mencukupkan dengan kebaikan (yang Allooh tetapkan baginya) maka itu jelas lebih baik baginya daripada mengemis kepada orang lain.

Maka jika mencegah diri  dari meminta – minta kepada para nabi shollalloohu’alaihim wasallam sewaktu hidup mereka lebih utama (dari pada meminta)  padahal kebutuhan mereka sangat mendesak – tentu memintanya dalam kondisi yang tidak membutuhkan (karena kecukupan) menjadi harom, lalu bagaimana kalau meminta kepada yang ghoib, dan orang yang telah mati dari mereka dan selain mereka, apakah itu bisa dikatagorikan perbuatan yang di anjurkan dan menjadi amal sholih yang di syari’atkan bagi manusia?

(1) – Ana  pernah mendengar Syaikh Yahya hafidhohullooh memuji kitab ini dan pengarangnya dan dengan sebab karangan ini beliau di aniaya oleh mereka.

(2) –  termaktub di kamus prancis-inggris (1/59997):

– كَشْكُول ( ج:كَشْكُول،م:( عــام ))  : (جِرَابُ المُتَسَوِّل ﴾ ترجمة إنجليزي: – bag of a beggar

Kasykul adalah kantong untuk meminta-minta, dalam bahasa inggris: bag of a beggar.

(1)- Dia adalah mantan ajudan Khumaini Al Khobiits, setelah Allooh beri dia hidayah menulis sebuah makalah ilmiyah  membedah  kebiadaban  Rofidhoh, yang berujung nyawa beliau sebagai taruhannya, rohimahulooh.

(1) Adapun dalil akan hal ini adalah:

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم :” لا تقوم الساعة حتى يتباهى الناس فى المساجد ” أخرجه أحمد (3/134 ، رقم 12402) ، وأبو داود (1/123 ، رقم 449) ، وابن ماجه (1/244 ، رقم 739) وهو في الصحيح المسند.

Dari Anas bin Malik rodhialloohu ‘anhu berkata , bersabda rosulullooh shollalloohu ‘alaihi wasallam : “Tidak terjadi kiamat sampai manusia berbangga-bangga(bermegah-megahan) dalam masjid”.[ di Shihih Musnad]

Dan di Shihih Bukhori :  – (ج 2 / ص 270)

وَأَمَرَ عُمَرُ بِبِنَاءِ الْمَسْجِدِ وَقَالَ أَكِنَّ النَّاسَ مِنَ الْمَطَرِ ، وَإِيَّاكَ أَنْ تُحَمِّرَ أَوْ تُصَفِّرَ ، فَتَفْتِنَ النَّاسَ . وَقَالَ أَنَسٌ يَتَبَاهَوْنَ بِهَا ، ثُمَّ لاَ يَعْمُرُونَهَا إِلاَّ قَلِيلاً . وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ لَتُزَخْرِفُنَّهَا كَمَا زَخْرَفَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Dan ‘Umar rodhialloohu ‘anhu menyuruh untuk membangun masjid, maka beliau mengatakan : hindarkan manusia dari  hujan , dan jauhilah oleh kalian memerah-merahi masjid, atau menguningkannya, karena membuat fitnah terhadap manusia, dan berkata Anas rodhialloohu ‘anhu : mereka berbangga-bangga dengan kemegahan masjid kemudian mereka tidak memakmurkannya kecuali sedikit, dan berkata Ibnu ‘Abbas rodhialloohu sungguh kalian akan menghiasinya seperti orang-orang  Yahudi dan Nashoro menghiasinya.

[1] Dari Jarir bin Abdillah Al-Bajali -رضي الله عنه-, dia berkata: “Suatu ketika kami bersama Rosululloh -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  di pertengahan hari. Datanglah kepadanya suatu kaum tak beralas kaki, tidak berpakaian. Mereka hanyalah mengenakan kain dari bulu domba atau baju kebaya. Mereka menyandang pedang. Kebanyakan mereka dari suku Mudhor, bahkan mereka semua dariMudhor. Berubahlah wajah Nabi -صلى الله عليه وسلم-  ketika melihat keadaan mereka yang ditimpa kemiskinan. Kemudian beliau masuk ke dalam rumah lalu keluar lagi. Maka beliau perintahkan Bilal untukadzan dan iqomah. Setelah itu beliau sholat lalu berkhutbah. Beliau berkata:

«﴿يا أيها الناس اتقوا ربكم الذى خلقكم من نفس واحدة﴾

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Robb kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu…,” sampai akhir ayat:

﴿إن الله كان عليكم رقيبا ﴾

“Sesungguhnya selalu menjaga dan mengawasi kalian.”

Kemudian membaca ayat yang ada di surat Al-Hasyr:

﴿اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد واتقوا الله﴾

“Bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap jiwa melihat apa yang telah dia persiapkan untuk hari esok dan bertakwalah kepada Alloh…”

تصدق رجل من ديناره من درهمه من ثوبه من صاع بره من صاع تمره – حتى قال – ولو بشق تمرة»

“Hendaklah setiap orang bershodaqoh dari dinarnya, dari dirhamnya, bajunya, dari satu sho’ gandumnya atau dari satu sho’ korma…, sampai beliau berkata: “…meskipun dengan sebutir kurma.”

Maka datanglah seseorang dari Anshor membawa satu kantong uang hampir-hampir telapak tangannya tak kuat mengangkatnya, bahkan tidak kuat lagi. Setelah itu datanglah orang-orang silih berganti, hingga aku lihat ada dua timbunan berupa makanan dan pakaian, sampai-sampai aku lihat wajah Rosululloh -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  berseri-seri seperti lempengan perak bercampur emas. Rosululloh -صلى الله عليه وعلى آله وسلم-  berkata:

«من سن فى الإسلام سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها بعده من غير أن ينقص من أجورهم شيء ومن سن فى الإسلام سنة سيئة كان عليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده من غير أن ينقص من أوزارهم شيء»

“Barangsiapa membuat teladan yang baik dalam Islam, maka dia mendapat pahala amalannya sendiri dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa mengurangi pahala-pahala mereka yang mengamalkannya sedikit pun. Barangsiapa yang membuat teladan yang jelek di dalam Islam, maka dia menanggung dosanya dan dosa orang yang mengamalkan setelahnya tanpa, mengurangi dosa-dosa mereka yang mengamalkannya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)

Iklan

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: