Pendapat para Ulama AHLUSSUNNAH tentang Agama SYI’AH (Rofidhoh)

بسم الله الرحمن الرحيم

Pendapat para Ulama AHLUSSUNNAH  tentang Agama SYI’AH (Rofidhoh) dan apa yang harus kita lakukan terhadap mereka ?

Ditulis: Abu Ubayd Fadly al-Bughisy -semoga Alloh menjaganya- Mangkutana, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, selesai 3 Muharram 1433H

A. Kufurnya Syi’ah (Rofidhoh)

Dari pembahasan yang telah lalu , (mungkin) diantara para pembaca yang budiman bisa mengambil dan menentukan sikap kepada mereka orang-orang syi’ah rofidhoh dan betapa  bahayanya aliran sesat ini , atau mungkin ada sedikit gambaran dari perkara tersebut , berikut beberapa kutipan ucapan para ulama yang- insya Alloh- bisa lebih menegaskan apa yang bisa terbetik dibenak para pembaca dalam pembahasan ringkas diatas:

‘Ali bin Abi Tholib -yang membakar mereka ketika mereka mempertuhankan ‘Ali bin Abi Tholib- dan ‘Abdulloh bin ‘Abbaas mengkafirkan mereka sebagaimana yang diriwayarkan dalam Shohih Al-Bukhory  no 3017 dari hadist Ibnu ‘Abbas –rodhiyallohu ‘anhu- beliau berkata:

لو كنت أنا لم أحرقهم لأن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( لا تعذبوا بعذاب الله ) . ولقتلتهم كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ( من بدل دينة فاقتلوه )

Seandainya saya (yang memberantas syi’ah) saya tidak akan membakar mereka , karena Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda janganlah kalian menyiksa dengan siksa Alloh (api) , saya akan membunuh mereka sebagaimana Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda : barang siapa yang mengganti agamanya(murtad) maka bunuhlah dia.

Perkara ini  juga dihadiri ataupun diketahui oleh sebagian para sahabat Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – serta dengan musyawaroh sebagian dari mereka –ridhwaanullohi ‘alaihim- Al-Imam Abu Zur’ah –rohimahulloh-

وأن الجهمية كفار ، وأن الرافضة رفضوا الإسلام ، والخوارج مراق

Dan sesungguhnya  orang-orang Jahmiyyah adalah kafir , orang-orang rofidhoh telah meninggalkan agama islam , dan orang-orang khowarij keluar (dari islam) lihat syarah usul I’tiqood ahlussunnah karya Al-Imam Al-laalakaaiy –rohimahulloh- 285

Al-Imam Ahmad bin Hanbal –rohimahulloh-

Berkata Al-Khollal dalam kitabnya As-Sunnah no 779  :

أخبرنا أبو بكر المروذي قال سألت أبا عبدالله عن من يشتم أبا بكر وعمر وعائشة قال ما رآه على الإسلام قال وسمعت أبا عبدالله يقول قال مالك الذي يشتم أصحاب النبي ليس لهم سهم أو قال نصيب في الإسلام

Telah mengabari kami Abu Bakar Al-Marwadzy berkata saya bertanya kepada Abu ‘Abdulloh (Ahmad bin Hanbal) tentang seseorang yang mencaci Abu Bakar , ‘Umar , dan ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anhum- beliau menjawab : Saya tidaklah melihat mereka berada diatas agama islam .

Beliau berkata : (Al-Imam) Malik berkata orang yang mencaci sahabat Nabi –‘alaihisholaatu wassalaam- tidak ada baginya bagian dalam Islam.

Juga berkata –rohimahulloh- no 782 :

أخبرنا عبدالله بن أحمد بن حنبل قال سألت أبي عن رجل شتم رجلا من أصحاب النبي فقال ما أراه على الإسلام

Mengabarkan kami ‘Abdulloh bin Ahmad bin Hanbal ia berkata : saya bertanya kepada ayahku tentang seseorang yang mencaci seorang dari sahabat Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- beliau menjawab : Saya tidaklah melihat mereka diatas agama Al-Imam Malik –rohimahulloh-

Berkata Al-Imam Ibnu Katsiir –rohimahulloh- dalam tafsir ayat 29 surat Al-Fath : Dan dari sini Al-Imam Malik-rohimahulloh- berpendapat -sebagaimana dalam suatu riwayat – tentang kafirnya orang-orang rofidhoh yang membenci para sahabat . Beliau berkata : karena mereka menjengkeli para sahabat , dan bang siapa yang menjengkeli mereka maka ia kafir berdasarkan ayat ini . Al-Imam ‘Abdulloh bin Idris Al-Awdy -rohimahulloh-

قال عبد الله بن إدريس الأودي الإمام : ما آمن أن يكونوا قد ضارعوا الكفار ـ يعني الرافضة ـ لأن الله تعالى يقول : { ليغيظ بهم الكفار } و هذا معنى قول الإمام أحمد : ما أراه على الإسلام

Saya tidak merasa aman kalau mereka telah serupa dengan orang-orang kafir . Maksudnya adalah rofidhoh.

Karena Alloh Ta’ala berfirman : agar orang-orang kafir menjengkeli mereka(sahabat)AL-Fath 29

Dan inilah makna ucapan Al-Imam Ahmad -rohimahulloh- : Saya tidaklah melihat mereka diatas agama islam.(sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah -rohimahulloh- dalam Ash-shoorim Al-Masluul 1 / 581) Al-Qodhy ‘Iyadh –rohimahulloh-

نقطع بتكفير غلاة الروافض في قولهم إن الأئمة أفضل من الأنبياء

Kami mamastikan tentang kufurnya orang-orang ekstrim rofidhoh yang mengatakan bahwa para imam-imam itu lebih mulia dari pada para Nabi -‘alaihimusholaatu wassalam- lihat Asy-syifa’ bi ta’riifi huquuqil-mushthofa hal 2/1078

Al-Imam Ibnu Hazm Al-andalusy –rohimahulloh-

فإن الروافض ليسوا من المسلمين إنما هي فرق حدث أولها بعد موت النبي صلى الله عليه و سلم بخمس وعشرين سنة وكان مبدؤها إجابة من خذله الله تعالى لدعوة من كاد الإسلام وهي طائفة تجري مجرى اليهود والنصارى في الكذب والكفر وهي طوائف أشدهم غلوا

Sesungguhnya rofidhoh bukanlah dari kalangan kaum muslimin , kelompok ini mula-mula muncul 25 tahun setelah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam –  wafat. Dan asalnya bermula dari mengikuti dakwah seorang yang Alloh hinakan yang hendak memerangi islam (‘Abdullah bin Saba’)  kelompok ini berjalan (berdasarkan) jalannya orang-orang yahudi dan nasrani dalam dusta dan kufur , dan kelompok tersebut adalah yang paling  (ghulu)ekstrim (lihat Al-Fishol fil-milal 2/213) Al-Imam Al-Barbahaary –rohimahulloh-

واعلم أن الأهواء كلها ردية تدعو إلى السيف وأردؤها وأكفرها الرافضة والمعتزلة والجهمية

Ketahuilah hawa nafsu itu seluruhnya adalah hina  mengantar kepada pedang( pemberontakan) dan yang paling hina dan paling kafir adalah rofidhoh.(lihat Syarhus-sunnah no 146 hal. 119 terbitan darus-salaf) Abdul Qohir Al-Baghdaady –rohimahulloh-

و ما رأينا و لا سمعنا بنوع من الكفر إلا وجدنا شعبة منه في مذهب الروافض

Dan kami tidaklah melihat dan mendengar tentang satu jenis bentuk kekufuran kecuali sebagian darinya ada pada mazdhab (paham) rofidhoh (Al-Farq bainal-firoq hal. 357) Syaikhul-islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh-

والنصيرية هم من غلاة الرافضة الذين يدعون إلهية علي وهؤلاء أكفر من اليهود والنصارى باتفاق المسلمين

Dan aliran nashiriyyah  adalah dari orang –orang keras (ekstrim) rofidhoh yang mempertuhankan ‘Ali –rodhiyallohu ‘anhu- dan mereka ini tebih kafir dari pada yahudi dan nasrani dengan kesepakatan kaum muslimin. (minhajus-sunnah 3/262) Asy-syaikh ‘Abdul-‘Aziz bin Baaz –rohimahulloh-

الرافضة كفار وثنيون يعبدون آل البيت

Orang-orang rofidhoh adalah kafir pemuja berhala mereka menyembah ahlul-bait (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daaimah 2/370)

Inilah sedikit dari ucapan para ulama’ – dari kalangan sahabat dan yang lainnya-  tentang kufurnya syi’ah rofidhoh , yang insya Alloh cukup bagi siapa saja yang memiliki bashiroh dan sedikit pemahaman tentang agama Alloh yang lurus .

untuk tambahan, silahkan merujuk kitab Nushuush aimmatud-diin ‘ala kufrir-rowafidh al-Maariqiin kumpulan Al-Akh Abu Turob (Bengkulu) –hafidhzohulloh-beliau telah mengumpulkan banyak dari fatwa ulama’ tentang kufurnya rofidhoh –jazahullohu khoiron-

B . Memberi hukum kepada mereka dalam mu’amalah sebagaimana orang-orang kafir lainnya bahkan lebih .

Dari kutipan-kutipan ucapan para ulama’ diatas , para pembaca tentunya telah bisa menyimpulkan bahwa mereka telah dikafirkan oleh para ulama’ , maka apakah mereka juga diperlakukan sebagaimana kita memperlakukan orang kafir ? Bagaimanakah kita memperlakukan mereka ? bolehkah kita memakan sembelihan mereka ?   sholat dibelakang mereka ? mensholati jenazah-jenazah mereka?  menikahkan mereka serta menikahi wanita mereka ?bergaul dan bersahabat bersama mereka? memberikan zakat kepada orang fakir mereka? dan bolehkah kita memerangi mereka ?

Tentu pertanyaan-pertanyaan ini timbul dibenak saudara para pembaca, maka simak dan perhatikanlah jawaban berikut ini ! waffaqokumullohu Ta’ala Tidak boleh mensholati jenazah mereka !

Alloh berfirman tentang orang-orang munafik :

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seseorang yang mati diantara mereka dan janganlah kamu berdiri (mendo’akan) di kuburannya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Alloh dan Rosul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (At-Taubah 84) Tidak boleh menikahkan dan menikahi wanita mereka !

Alloh –subhaanahu wa ta’ala-  berfirman :

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آَيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman , Sesungguhnya budak wanita yang mukmin itu lebih baik dari wanita musyrik waalaupun menarik hatimu , dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin ) sebelum mereka beriman , sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari pada orang musyrik walaupun menarik hatimu . Mereka mengajak ke neraka sedangkan Alloh mengajak ke surga dan ampunan  dengan izin-Nya. Dan Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (Al-Baqoroh 221) Tidak boleh memakan sembelihan mereka , mereka bukanlah Ahlul-Kitab yang diizinkan memakan sembelihan mereka !

Alloh Azza wa Jalla  berfirman :

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) ahlul kitab itu halal bagi kamu , dan makanan kamu dihalalkan bagi mereka. Dan (dihalalkan  bagi kamu menikahi) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu , bila kamu telah membayar mas kawin  dengan maksud menikahinya , tidak dengan maksud berzina ,dan tidak pula menjadikannya mundik-mundik. Barang siapa yang kafir dengan keimanan maka berguguran malan-amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang yang merugi (Al-Maaidah 5)

# Al-Imam Al-Bukhory Muhammad bin ‘Isma’il –rohimahulloh- berkata dalam kitab Kholqu af’aalil’ibaad :

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافض أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

Saya tidak perduli ,saya sholat dibelakang orang jahmiyyah dan orang rofidhoh atau saya sholat dibelakang yahudi dan nashara , tidak boleh memberi salam kepada mereka ,  tidak dibesuk(apabila sakit) , tidak dinikahkan , tidak dihadiri (jenazah mereka) dan tidak dimakan sembelihan mereka.

Yaitu beliau tidak membedakan antara sholat dibelakang yahudi dan nasrani  ataupun rofidhoh , sama saja disisi beliau-rohimahulloh-.

# Al-Imam Ahmad bin Yunus –rohimahulloh- berkata sebagaimana yang dinukil oleh Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah–rohimahulloh- dalam Ash-Shoorim Al-masluul :

لو أن يهوديا ذبح شاة و ذبح رافضي لأكلت ذبيحة اليهودي و لم آكل ذبيحة الرافضي لأنه مرتد عن الإسلام

Seandainya seorang yahudi menyembelih  seekor kambing dan orang rofidhoh menyembelih maka saya akan memakan sembelihan yahudi dan tidak memakan sembelihan rofidhoh karena dia telah murtad dari agama islam.

# AL-Imam Tholhah bin Mushorrif –rohimahulloh-berkata sebagaiman dalam Al-Ibanatu Ash-Shughro 161 :

الرافضة لا تنكح نسائهم ولا تؤكل ذبيحتهم لأنهم أهل الردة

Rofidhoh , wanita-wanita mereka tidak boleh dinikahi , sembelihan mereka tidak boleh dimakan karena mereka adalah orang-orang yang murtad.

# Syikhul-Islam Ibnu Taimiyyah –rohimahulloh – berkata di akhir kitab Ash-Shoorim Al-Masluul :

و هذا قول كثير من أصحابنا منهم ابن أبي موسى قال : [ و من سب السلف من الروافض فليس بكفؤ و لا يزوج و من رمى عائشة رضي الله عنها بما برأها الله منه فقد مرق من الدين و لم ينعقد له نكاح على مسلمة إلا أن يتوب و يظهر توبته ]

Dan ini adalah ucapan kebanyakan sahabat kami diantaranya Ibnu Abi Musa ia berkata : dan barang siapa yang mencela para salaf dari orang-rang rofidhoh maka ia tidak sebanding , dan tidak boleh dinikahkan , dan barang siapa yang menuduh ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anha- dengan tuduhan yang Alloh mensucikannya darinya maka ia telah keluar dari agama dan tidak boleh/sah pernikahannya terhadap wanita yang muslimah kecuali ia bertaubat dan menampakkan taubatnya.

# Al-Lajnah Ad-Daa’imah ditanya :

Apa hukum pernikahan seorang rofidhoh dan bagaimana kalau pernikahan tersebut telah terjadi dan selesai maka bagaimana hukumnya?

Maka dijawab sebagai berikut :

لا يجوز للسني أن يتزوج من نساء الرافضة و إن وقع النكاح وجب فسخه , لأن المعروف عنهم دعوة أهل البيت و الإستغاثة بهم , وذلك من الشرك الأكبر . و بالله التوفيق و صلى الله على نيينا محمد آله و صحبه و سلم .

Tidak boleh bagi seorang sunny menikahi wanita rofidhoh , kalau terjadi pernikahan maka wajib membatalkannya . Karena dari perkara yang maklum, mereka menyeru Ahlul-Bait dan meminta pertolongan kepada mereka , dan ini dari syirik akbar. Wabillahit-taufiq , dan sholawat serta salam bagi nabi kita , keluarganya dan sahabatnya.( 18/313 ) Tidak boleh bergaul , bersahabat serta tidak memberi salam kepada mereka !

Alloh berfirman :

يا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuh-mu sebagai teman-teman (Al-Mumtahanah 1)

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi teman dari selain orang-orang beriman , barang siapa yang melakukannya maka niscaya ia lepas dari Alloh (Ali ‘Imron 28)

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh telah diturunkan kepada kamu dalam Al-Qur-an  bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Alloh diinkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka , sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain (kalau tidak) sungguh kamu serupa dengan mereka , sesungguhnya Alloh akan mengumpulkan orang-orang munafiq dan orang-orang kafir di dalam jahannam (An-Nisaa’ 140)

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda :

« الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ »

Seseorang itu berdasarkan agama sahabatnya , maka perhatikanlah oleh kamu siapa yang dijadikan sahabat(HR.Abu Dawud dan At-Tirmidzy dari Abu Huroiroh )

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- juga bersabda :

« لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ »

Janganlah kamu mendahului orang-orang yahudi dan nasrani dengan mengucapkan salam , apabila kamu berjumpa dengan mereka di suatu jalan meka desaklah mereka kejalan yang sempit (HR.Muslim dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu -)

Berkata AL-Imam Al-Bukhory –rohimahulloh-dalam shohiihnya :

باب من لم يسلم على من اقترف ذنبا ولم يرد سلامه حتى تتبين توبته وإلى متى تتبين توبة العاصي

Bab . Orang yang tidak memberikan salam kepada pelaku dosa dan tidak menjawab salamnya sebelum jelas taubatnya dan sampai kapan jelas taubatnya pelaku maksiat .

Kemudian beliau menyebutkan kisah Ka’ab bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu- ketika Nabi–shollallohu ‘alaihi wa sallam- tidak berbicara,memberi salam padanya dan tidak menjawab salamnya. (lihat shohiih Al-Bukhory no 6255  dan Muslim)

Beliau–rohimahulloh- juga berkata dalam kitab Kholqu af’aalil’ibaad  :

ما أبالي صليت خلف الجهمي والرافضي أم صليت خلف اليهود والنصارى ولا يسلم عليهم ولا يعادون ولا يناكحون ولا يشهدون ولا تؤكل ذبائحهم

Saya tidak perduli ,saya sholat dibelakang orang jahmiyyah dan orang rofidhoh atau saya sholat dibelakang yahudi dan nashara , tidak boleh memberi salam kepada mereka ,  tidak dibesuk(apabila sakit) , tidak dinikahkan , tidak dihadiri (jenazah mereka) dan tidak dimakan sembelihan mereka.

Sungguh para ulama’ telah melarang untuk duduk bersama para pengikut hawa nafsu dan pelaku maksiat , dan mereka berhujjah dengan kisah Ka’ab bin Malik-seorang sahabat yang mulia- yang di ‘hajr’ oleh Nabi dan sahabatnya sehingga tidak bergaul serta menjauhinya  , sampai jelas taubat dan kejujurannya, maka bagaimana dengan rofidhoh yang telah divonis bukan dari kaum muslimin?!!! . Mereka tidak boleh diberi dari harta fai-i (harta rampasan perang) dan juga zakat !

Dan Alloh berfirman :

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (8) وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9) وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Bagi para fuqoro’ yang berhijrah (harta rampasan perang/fai-i)yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Alloh keridhoan-Nya , dan mereka menolong Alloh dan rosul-Nya mereka itulah orang-orang yang jujur. Dan orang-orang yang menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (muhajirin) , mereka mencintai orang yang berhijroh kepada mereka , dan mereka tidak menaruh keinginan terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (muhajirin) , dan mereka lebih mengutamakan (orang-orang muhajirin) , atasdiri mereka sendiri ,sekalipun mereka memerlukan (apa yang merekaberikan itu). Dan siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya , maka mereka adalah orang-orang yang beruntung. Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (muhajirin dan anshor) mereka berdo’a : Ya Robb kami , beri ampunanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami ,dan janganlah engkau menjadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman , ya Robb kami sesungguhnya enkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (Al-Hasyr 8-10)

Berkata Al-Imam ibnu Katsiir –rohimahulloh-dalam tafsir ayat ini :

وما أحسن ما استنبط الإمام مالك من هذه الآية الكريمة: أن الرافضي الذي يسبّ الصحابة ليس له في مال الفيء نصيب لعدم اتصافه بما مدح الله به هؤلاء في قولهم: { رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ }

Dan alangkah baik apa yang disimpulkan oleh Al-Imam Malik –rohimahulloh- dari ayat yang mulia ini , bahwa orang rofidhoh yang mencela para sahabat tidak dapat bagian dari harta fai-I karena mereka tidak bersifat dengan apa yang Alloh menyanjung dengannya orang-orang yang disebutkan dalam firmannya:

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالإيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Ya Robb kami , beri ampunanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami ,dan janganlah engkau menjadikan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang beriman , ya Robb kami sesungguhnya engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”

Berkata Al-Khollal dalam kitabnya As-Sunnah no 779  :

أخبرنا أبو بكر المروذي قال سألت أبا عبدالله عن من يشتم أبا بكر وعمر وعائشة قال ما رآه على الإسلام قال وسمعت أبا عبدالله يقول قال مالك الذي يشتم أصحاب النبي ليس لهم سهم أو قال نصيب في الإسلام

Telah mengabari kami Abu Bakar Al-Marwadzy berkata saya bertanya kepada Abu ‘Abdulloh (Ahmad bin Hambal) tentang seseorang yang mencaci Abu Bakar , ‘Umar , dan ‘Aisyah –rodhiyallohu ‘anhum- beliau menjawab : Saya tidaklah melihat mereka berada diatas agama islam .

Beliau berkata : (Al-Imam) Malik berkata orang yang mencaci sahabat Nabi –‘alaihisholaatu wassalaam- tidak ada baginya bagian dalam Islam.

Berkata Al-Imam Ibnu Qoyyim –rohimahulloh- dalam Zaadul-Ma’aad :

ولهذا أفتى أئمة الإسلام، كمالك، والإمام أحمد وغيرهما، أن الرافضة لا حقَّ لهم فى الفىء لأنهم ليسوا من المهاجرين، ولا من الأنصار، ولا من الذين جاؤوا من بعدهم يقولون :{رَبّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ} [الحشر:10]، وهذا مذهبُ أهل المدينة، واختيارُ شيخ الإسلام ابن تيمية، وعليه يدل القرآن، وفعل رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وخلفائه الراشدين.

Oleh karena itu para Aimmatul-Islam berfatwa , seperti  Malik Al-Imam Ahmad dan selainnya , bahwa rofidhoh tidak berhak mendapatkan fai-I karena mereka bukan dari kalangan muhajirin , bukan dari anshor dan bukan juga dari kalangan orang-orang yang datang setelah mereka dan berkata :

رَبّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الّذِينَ سَبَقُونَا بِالإِيمَانِ

Ya Robb kami , beri ampunanlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami (Al-Hasyr 10 )

Dan ini adalah madzhab (pendapat) Ahlu Madinah , dan pilihan Syaikhul-Islam –rohimahulloh-, dan berdasarkan Al-Qur-an ,yang dilakukan oleh Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- serta khulafa’ Ar-Rosyidiin.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَمَّا بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ قَالَ « إِنَّكَ تَقْدَمُ عَلَى قَوْمٍ أَهْلِ كِتَابٍ فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ عِبَادَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا عَرَفُوا اللَّهَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ فَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِى يَوْمِهِمْ وَلَيْلَتِهِمْ فَإِذَا فَعَلُوا فَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ فَرَضَ عَلَيْهِمْ زَكَاةً تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ فَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ فَإِذَا أَطَاعُوا بِهَا فَخُذْ مِنْهُمْ وَتَوَقَّ كَرَائِمَ أَمْوَالِهِمْ ».

Dari Ibnu ‘Abbas –rodhiyallohu’anhu  berkata :sesungguhnya Rosululloh-shollallohu ‘alaihi wa sallam- ketika mengutus Mu’azd bin Jabal ke negri Yaman bersabda : sesunguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum yaitu ahlu kitab , maka hendaknya yang pertama kali yang kamu dakwakan adalah peribadatan kepada Alloh Azza wa Jalla , apabila mereka telah mengenal Alloh , maka beritahukanlah mereka  bahwa Alloh mewajibkan bagi mereka Lima sholat pada sehari semalam , apabila mereka telah menjalanknnya  maka beritahukanlah mereka bahwa Alloh telah mewajibkan bagi mereka zakat , yang di ambil dari orang-orang kaya mereka(muslim) dan dibagikan kepada orang-orang fakir mereka(muslim) , apabila mereka telah mentaatimu , maka ambillah zakat dari mereka ,dan hati-hatilah dari harta-harta mulia mereka. (HR. Al-Bukhory dan Muslim )

# Asy-Syaikh ‘Abdulloh Al-Jibriin –rohimahulloh- ditanya tentang hukum memberikan zakat kepada rofidhoh (syi’ah) dan apakah kewajiban seorang yang bertugas membagi zakat telah tertunaikan apabila ia memberikannya kepada seorang rofidhoh yang fakir ataukah tidak ?

Maka beliau menjawab sebagai berikut :

لقد ذكر العلماء في مؤألفاتهم في باب أهل الزكاة أنها لا تدفع لكافر ولا لمبتدع , فالرافضة بلا شك كفار

Para ulama’ telah menyebutkan dalam tulisan-tulisan mereka dalam bab penerima zakat , bahwa zakat tidaklah diberikan kepada orang kafir dan juga ahlu bid’ah , dan rofidhoh kafir tampa keraguan.

Kemudian beliau mengatakan setelah menyebutkan empat alasan kafirnya mereka yaitu , celaan mereka terhadap Al-Qur-an , dengan mengatakan kurang  , celaan mereka terhadap sunnah dan hadist-hadist Al-bukhory dan Muslim , mereka mengkafirkan ahlussunnah ,dan kesyirikan mereka yang jelas dengan berlebih-lebihan terhadap ‘Ali bin Abi Tholib dan keturunannya :

فعلى هذا من دفع إليهم الزكاة فليخرج بدلها , حيث أعطاها من يستعين بها على الكفر , و حرب السنة , و من وكل في تفريق الزكاة حرم عليه أن يعطى منها رافضيا , فإن فعل لم تبرأ ذمته , فعليه أن يغرم بدلها , حيث لم يؤد الأمانة إلى أهلها , و من شك في ذلك فليقرأ كتب الرد عليهم ….

Maka berdasarkan perkara ini , barang siapa yang memberikan kepada mereka zakat maka hendaknya mengeluarkan (zakat) gantinya , sebab ia memberikan kepada siapa yang menggunakannya untuk kekufuran dan memerangi sunnah , dan barang siapa yang bertugas membagi harta zakat , harom baginya untuk memberikan sedikitpun kepada orang rofidhoh , kalau ia melakukannya maka tanggung jawabnya belumlah tertunaikan , wajib untuk mengganti rugi karena ia tidak menyerahkan/menunaikan  amanah kepada para pemiliknya, dan barang siapa yang ragu dalam perkara ini maka hendaknya membaca buku-buku bantahan kepada mereka …(lihat kumpulan fatwa-fatwa beliau -rohimahulloh-) Bagi para penguasa untuk membasmi mereka !

Telah lalu bahwa mereka lebih buruk dari pada Ahli Kitab yang kita diperintahkan untuk memerangi mereka, maka bagi para penguasa kaum muslimin untuk  memerangi mereka seperti yang dilakukan oleh ‘Ali bin Abi Tholib –rodiyallohu ‘anhu-, berdasarkan Kitabulloh , sunnah dan kesepakatan para sahabat  .

Alloh berfirman:

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan perangilah mereka , supaya jangan ada fitnah , dan agar agama semata-mata hanya untuk Alloh , jika mereka berhenti (dari kekafirannya) , maka sesungguhnya Alloh Maha Melihat apa yang mereka kerjakan. ( Al-Anfaal 39)

Nabi ‘alaihish-sholaatu was-salaam- bersabda :

« أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَيُؤْمِنُوا بِى وَبِمَا جِئْتُ بِهِ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّى دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلاَّ بِحَقِّهَا وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللَّهِ »

Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan kaliamat sahadat( Laa ilaaha Illalloh ) dan sampai mereka mengimani perkara-perkara yang saya bawah , apabila mereka melakukannya , maka darah dan harta mereka akan terjaga dariku kecuali dengan hak-nya dan perhitungan mereka kepada Alloh. (HR.  Al-Bukhory dan Muslim dari Abu Huroiroh –rodhiyallohu ‘anhu-)

Dan Nabi bersabda :

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

Maka wajib bagi kamu untuk berpegang teguh dengan sunnah-ku dan sunnah khulafa’ Ar-Rosyidiin , berpegangglah dengannya dan gigitlah dengan gigi-gigi geraham.(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzy dari Al-Irbaadh bin Saariyah–rodhiyallohu ‘anhu-)

‘Ali bin Abi Tholib adalah salah seorang dari khulafa’ dan memerangi mereka adalah sunnah-nya dan tidak diketahui ada yang menyelisihinya dari kalangan para sahabat , adapun yang diriwayatkan oleh Al- Bukhory dari hadist Ibnu ‘Abbas –rodhiyallohu ‘anhu- beliau berkata:

لو كنت أنا لم أحرقهم لأن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( لا تعذبوا بعذاب الله ) . ولقتلتهم كما قال النبي صلى الله عليه و سلم ( من بدل دينة فاقتلوه )

Seandainya saya (yang memberantas syi’ah) saya tidak akan membakar mereka , karena Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda janganlah kalian menyiksa dengan siksa Alloh (api) , saya akan membunuh mereka sebagaimana Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda : barang siapa yang mengganti agamanya (murtad) maka bunuhlah dia.( HR Al-Bukhory )

Menunjukkan Ibnu ‘Abbas sepakat dengan ‘Ali dalam memerangi dan menghabisi mereka , akan tetapi dengan tidak menggunakan api berdasarkan sunnah Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – .

Berkata Syikhul-Islam-rohimahulloh- dalam (Majmuu’ al-fatawa 28/468 ):

أَجْمَعَ عُلَمَاءُ الْمُسْلِمِينَ عَلَى أَنَّ كُلَّ طَائِفَةٍ مُمْتَنِعَةٍ عَنْ شَرِيعَةٍ مِنْ شَرَائِعِ الْإِسْلَامِ الظَّاهِرَةِ الْمُتَوَاتِرَةِ فَإِنَّهُ يَجِبُ قِتَالُهَا حَتَّى يَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

Ulama’ muslimin bersepakat atas wajibnya memerangi seluruh kelompok yang enggan dari satu syariat dari syariat-syariat islam yang jelas lagi mutawatir , supaya agama ini seluruhnya hanya bagi Alloh

Beliau-rohimahulloh- juga berkata :

وَالْمَقْصُودُ هُنَا أَنْ يَتَبَيَّنَ أَنَّ هَؤُلَاءِ الطَّوَائِفَ الْمُحَارِبِينَ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ الرَّافِضَةِ وَنَحْوِهِمْ هُمْ شَرٌّ مِنْ الْخَوَارِجِ الَّذِينَ نَصَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قِتَالِهِمْ وَرَغَّبَ فِيهِ . وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ بَيْنَ عُلَمَاءِ الْإِسْلَامِ الْعَارِفِينَ بِحَقِيقَتِهِ

Dan maksudnya untuk menjelaskan bahwa aliran-aliran yang memusuhi kaum muslimin dari kelompok rofidhoh dan yang semisalnya lebih buruk dari kelompok khowarij (teroris) yang mana Nabi telah memberikan nas untuk memerangi mereka dan menganjurkannya. Dan perkara ini adalah suatu yang disepakati oleh para ualama’ yang mengetahui perkara yang sebenarnya.(28/494)

Dan juga berkata setelah menyebutkan kerusakan-kerusakan mereka (28/482) :

فَبِهَذَا يَتَبَيَّنُ أَنَّهُمْ شَرٌّ مِنْ عَامَّةِ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ وَأَحَقُّ بِالْقِتَالِ مِنْ الْخَوَارِجِ .

Dan dengan ini jelas bahwa mereka lebih buruk dibandingkan dengan kebanyakan pengikut hawa nafsu dan tebih pantas untuk diperangi dari khowarij .

Dan juga berkata-rohimahulloh- (28/485) :

فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُقِرَّ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ لَا بِجِزْيَةِ وَلَا ذِمَّةٍ وَلَا يَحِلُّ نِكَاحُ نِسَائِهِمْ وَلَا تُؤْكَلُ ذَبَائِحُهُمْ ؛ لِأَنَّهُمْ مُرْتَدُّونَ مِنْ شَرِّ الْمُرْتَدِّينَ

Maka  tidak boleh untuk mereka tinggal ditengah-tengah kaum muslimin, tidak dengan membayar jizyah tidak pula sebagai ahli dzimmah dan tidak halal menikahi wanita-wanita mereka dan memakan sembelihan mereka , karena mereka adalah orang-orang yang murtad dari seburuk-buruk orang yang murtad.

Maka ini adalah kewajiban para penguasa , yaitu untuk berusaha mendatangkan kedamaian dan ketentraman bagi kaum muslimin  dan mereka tidaklah menduduki jabatannya kecuali karena perkara tersebut , membiarkan syi’ah rofidhoh di tengah-tengah barisan kaum muslimin adalah petaka yang sangat berbahaya –sebagaimana pada pembahasan yang lalu- dan termasuk tidak menjalankan amanah Alloh dalam kepemimpinan , bukankah apa yang mereka lakukan sekarang ini di Dammaj Yaman adalah bukti yang nyata? Ketika mereka tidak menjalankan wasiat para ulama’ robbaani seperti Asy-Syaikh Muqbil agar pemerintah setempat  mengeluarkan mereka dari Yaman ! dan ini beberapa tahun sebelum kejadian tersebut.  Apakah nanti telah terjadi kerusakan baru ditindaki?!! Adakah yang bisa mengambil pelajaran ?!!

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam – bersabda :

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته الإمام راع ومسؤول عن رعيته

Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan  ditanyakan tentang rakyatnya.(HR.Al-Bukhory dan Muslim dari Ibnu ‘Umar )

Dan Nabi–shollallohu ‘alaihi wa sallam – juga bersabda:

ما من عبد يسترعيه الله رعية فلم يحطها بنصحه إلا لم يجد رائحة الجنة

Tidaklah seorang hamba Alloh bebankan dengan seorang rakyat kemudian tidak bersungguh-sungguh dalam menasihatinya kecuali  ia tidak akan mendapatkan baunya surga (HR. Al-Bukhory dan Muslim dari Ma’qil bin Yasaar)

Dalam riwayat lain :

ما من وال يلي رعية من المسلمين فيموت وهو غاش لهم إلا حرم الله عليه الجنة

Tidaklah seorang pemimpin yang memimpin seorang rakyat dari kaum muslimin , dia meninggal dalam keadaan dia menghianati mereka kecuali Alloh akan mengharamkan baginya surga

Adapun bagi kaum muslimin sebagai rakyat , untuk tidak bertindak sendirian dan main hukum sendiri , akan tetapi perkara ini kita serahkan kepada penguasa setempat , adapun kalau mereka menyerang maka barulah kita membela diri sebagaimana yang dilakukan oleh saudara-saudara kita yang ada di Yaman sekarang ini , seperti  yang  dikatakan  oleh Asy-Syaikh Muqbil –rohimahulloh-

فالذي يظهر لي أنه يكون موقف أهل السنة منهم موقف المدافع لا يغزونهم، وإذا هجموا على أهل السنة فيجوز لهم أن يقاتلوهم من باب المدافعة: ﴿فمن اعتدى عليكم فاعتدوا عليه بمثل ما اعتدى عليكم﴾.  والرسول -صلى الله عليه وعلى آله وسلم- يقول: ((ومن قتل دون دينه فهو شهيد))  ولا تظنن أني أهون من أمرهم، فإنّهم آلة لكل طاعن في الإسلام ومناو له

 

dan yang nampak bagiku agar mauqif(prinsip) ahlussunnah terhadap mereka adalah membela diri dan tidak memerangi mereka , apabila mereka menyerang Ahlussunnah maka boleh untuk memerangi mereka , dari bab membela diri  (maka barang siapa yang menyerang kamu maka seranglah dia seimbang dengan serangannya terhadapmu) Al-Baqoroh 194

Dan Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda  (dan barang siapa yang mati membela agamanya maka dia adalah orang yang mati syahid )

Dan jangan kamu mengira saya  meremehkan perkara mereka , mereka itu adalah alat  bagi setiap pencela islam dan  juga pelindung untuknya . ( ilhaadul-khumaini ) Mendoakan mereka dengan kehancuran dan kebinasaan

Apabila para pembaca telah memahami apa yang tertera diatas , maka saatnya untuk kita bangkit dan membela Islam dan pemeluknya dengan cara menyampaikan kepada kaum muslimin tentang kesesatan agama syi’a rofidhoh ini , mendoakan kaum muslimin agar   terhindar dan diselamatkan dari makar dan tipu muslihat mereka  serta untuk  juga mendoakan mereka dengan kejelekan dan kehancuran  !!! baik diluar ataupun didalam sholat.

Alloh berfirman :

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ َ

Orang-orang Yahudi berkata : ‘Uzair itu adalah putra Alloh, berkata orang-orang Nasroni : ‘Isa adalah putra Alloh , demikiaanlah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka , mereka meniru ucapan orang-orang kafir yang terdahulu , semoga Alloh membinasakan mereka . (At-Taubah 30)

Nabi bersabda :

لعن الله اليهود والنصارى اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد

Semoga Alloh melaknati Yahudi dan Nasrani mereka menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat sujud( ibadah) ( HR Al-Bukhory dan Muslim dari ‘Aisyah ) Qunuut Naazilah

Sungguh mendoakan mereka dengan kejelekan dan kebinasaan adalah perkara yang disyariatkan , dan perkara tersebut lebih dianjurkan apabila kaum muslimin diperangi , diserang atau dizalimi oleh mereka dan selainnya dari kalangan orang-orang kafir , sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi –shollallohu ‘alaihi  wa sallam- ketika sebagian dari para sahabatnya dibunuh oleh orang-orang kafir selama sebulan , seperti yang disampaikan oleh Anas bin Malik –rodhiyallohu ‘anhu-

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ.

Sesungguhnya Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-  melakukan qunuut selama sebulan melaknati suku ‘ri’l , dzakwan dan ‘ushoyyah ‘ (sesungguhnya) mereka bermaksiat kepada Alloh dan Rosul-Nya (HR. Al-Bukhory dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain :

قنت رسول الله صلى الله عليه و سلم شهرا حين قتل الفراء فما رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم حزن حزنا قط أشد منه

Rosululloh –shollallhu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunuut selama satu bulan ketika para qurro’ terbunuh , maka saya tidak pernah melihat rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam-bersedih dengan kesedihan yang melebih kesedihan tersebut .

Dalam riwayat yang lain disebutkan :

kemudian beliau meninggalkannya.

Dilakukan dalam sholat –sholat wajib pada rakaat terakhir , sebagaimana dalam hadits-hadits yang shohiih[1] dari Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam-

Dari ‘Abdulloh bin ‘Abbas –rodhiyallohu ‘anhu- berkata :

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِى الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلاَةِ الصُّبْحِ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ إِذَا قَالَ « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ». مِنَ الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِى سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ.

Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunuut selama sebulan berturut-turut pada sholat Dzhuhur , ‘ashar , Maghrib , ‘Isya’ dan Subuh pada akhir setiap sholat , apabila telah mengucapkan « سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ » pada rakaat akhir mendoakan (kejelekan) kepada kelompok dari suku sulaim , ri’l , dzakwan dan ‘ushoiyyah dan diaminkan siapa yang berada dibelakangnya (makmum)(HR.Abu Dawud dan Ahmad dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albaany)

Berkata Syaikhul-Islam :

وَاَلَّذِي عَلَيْهِ أَهْلُ الْمَعْرِفَةِ بِالْحَدِيثِ أَنَّهُ قَنَتَ لِسَبَبِ وَتَرَكَهُ لِزَوَالِ السَّبَبِ

Pendapat yang Ahlul-ma’rifah dalam perkara hadits kuatkan adalah : beliau –shollallohu ‘alaihi wa sallam- melakukan qunuut dikarenakan suatu sebab dan meninggalkannya karena hilangnya sebab tersebut.

Maka kami mengajak kaum muslimin secara umum dan Ahlussunnah secara khusus untuk mendoakan  saudara-saudara kita di Dammaj yang sekarang dizalimi oleh mereka orang-orang kafir syi’ah rofidhoh  , adapun bentuk kezaliman mereka adalah sebagai berikut :

Membunuh pria , wanita dan anak-anak  tampa dosa .  Menembaki dan merusak masjid, perkebunan serta rumah-rumah kaum muslimin  Mengepung dan menghalangi pangan dan juga obat-obatan   , sehingga      banyak orang-orang sakit bertambah parah dan sengsara.  Menghalangi jamaah haji yang hendak berhaji dan menjawab panggilan Alloh  Azza wa Jalla dll.

Padahal saudara-saudara kita yang mereka zalimi adalah para penuntut ilmu agama Alloh , penghapal Al-qur-an dan sunnah , penulis buku-buku islam ,  khuthoba’ (khotib) , yang mereka senantiasa memakmurkan dan meramaikan masjid-masjid Alloh dengan Sholat-sholat wajib ataupun sunnah , membaca Al-Qur-an dan sunnah serta menghafalkannya , puasa , belajar dan mengajar , zdikir dan lain-lain dari berbagai jenis bentuk ketaatan dan ketakwaan siang dan malam , نحسبه كذالك و الله حسيبه

Inilah kewajiban seorang muslim terhadap saudaranya muslim yang lain untuk membantu dan menolong mereka baik dengan jiwa dan harta demikian juga doa .

Sungguh dari perkara yang memprihatinkan dan mengherankan ketika kita melihat sebagian dari kaum muslimin yang mengetahui perkara ini (kezaliman dan blokade yang dilakukan oleh syi’ah rofidhoh)  kemudian mereka membiarkan dan tidak memberikan pertolongan sedikitpun tidak dengan menyebarkan berita dan seruan untuk menolong  mereka seperti fatwa Asy-Syaikh Robi’ atau sedikitnya dengan mendoakan mereka. –apalagi kalau ia mengaku sebagai salafy- !!! atua pernah menimba ilmu di markaz induk tersebut ?!!!

Padahal Alloh berfirman :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَة

Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah bersaudara (Al-Hujuroot 10)

Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- bersabda :

انصر أخاك ظالما أو مظلوما

Tolonglah saudaramu yang menzalimi dan yang dizalimi (HR. Al-Bukhory dari Anas dan Muslim dari Jabir semakna dengannya)

Dan juga bersabda :

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Seorang mukmin terhadap seorang mukmin yang lainnya bagaikan bangunan , saling menguatkan antara satu sama lainnya (HR. Al-Bukhory dan Muslim dari Abu Musa –rodhiyallohu ‘anhu-)

Yang lebih mengherankan lagi kalau dia malah menjelekkan markas sunny salafy tersebut beserta orang-orang yang ada disana ?!!!

Nabi bersabda :

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ.

Seorang muslim adalah saudara seorang muslim yang lain , tidaklah ia mezaliminya , membiarkannya (tampa pertolongan) dan tidaklah ia  menghinakannya .(HR Al-Bukhory dan Muslim dan ini lafazh nya dari Abu Huroiroh-rodiyallohu ‘anhu-)

Sesungguhnya apa yang terjadi di dammaj adalah sebuah ujian dan cobaan terhadap kita semua , untuk membuktikan persaudaraan , keimanan dan kesungguhan kita dalam membela islam . Dan tentu yang paling banyak mengambil andil dalam hal ini adalah yang paling kuat keimanan-nya ,

Sa’ad bin Abi Waqqoosh –rodhiyallohu ‘anhu- bertanya kepada Nabi  –shollallohu ‘alaihi wa sallam-:

أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ siapakah yang paling keras ujiannya ? maka Nabi   –shollallohu ‘alaihi wa sallam- menjawab : Para nabi kemudian yag semisalnya dan semisalnya , seorang hamba diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila agamanya tebal maka akan semakin keras ujiannya , dan apabila agamanya tipis maka ia akan diuji sesuai denga kadar agamanya , dan ujian akan terus-menerus bagi seorang hamba sampai ia  berjalan diatas muka bumi sedangkan ia tidak memikul dari  suatu dosa (HR At-Tirmidzy dan Ibnu Majah dan Asy-Syaikh Muqbil menyebutkannya dalam Ash-Shohiihul-Musnad 1/168 )

Maka pantaskah kita membiarkan mereka ?!!! sedangkan Nabi   –shollallohu ‘alaihi wa sallam- menyatakan bahwa salah satu sifat muslim adalah untuk tidak membiarkan muslim yang lain tampa pertolongan !!

اللهم إننا نسألك بأسمائك الحسنى و صفاتك العلا أن تنصر إخواننا المسلمين في دماج  اللهم انصرهم نصرا عزيزا و افتح لهم فتحا مبينا و فرج عنهم فرجا عظيما اللهم رد عنهم كيد الكائدين و مكر الماكرين و حسد الحاسدين وحقد الحاقدين

اللهم عليك بالرافضة الزنادقة المعتدين اللهم عليك بهم و بمن تعاون معهم و من شاكلهم اللهم اجعل كيدهم في نحورهم و اجعل البأس بينهم و اجعل تدميرهم في تدبيرهم اللهم سلط عليهم جندا من جنودك و أليم عذابك وشديد عقابك يا قوي يا عزيز

سبحانك اللهم و بحمدك أشهد أن لا إله ألا أنت و أستغفرك و أتوب إليك

[1] untuk melihat perbedaan lafadhz-lafadhz dan juga kesimpulannya lihat kitab Ash-sholah wa hukmu taarikuhaa pada fasal shifatul-qunuut karya Ibnu Qoyyim –rohimahulloh-

Iklan

Tag: , , , , , , , ,

Satu Tanggapan to “Pendapat para Ulama AHLUSSUNNAH tentang Agama SYI’AH (Rofidhoh)”

  1. Pendapat para Ulama AHLUSSUNNAH tentang Agama SYI’AH (Rofidhoh) | Ummu Muhammad al-Ghuroba al-Banyumasi Says:

    […] Pendapat para Ulama AHLUSSUNNAH tentang Agama SYI’AH (Rofidhoh). […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: