Archive for the ‘Tak terkategori’ Category

Tercelanya meminta-minta

20/08/17

Ditulis oleh : Abu Ubaid Fadhl bin Muhammad Arsyad Thalib 

(Afahullohu wa walidaihi)

بسم الله الرحمن الرحيم

 

الحمد لله حمدا مباركا فيه كما يحب ربنا و يرضى و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله
:أما بعد

Pada beberapa hari yang lalu sebagian ikhwah menyampaikan pada ana suatu risalah (sms), yang dia mengharap agar ana menjawabnya. Dan nash risalah tersebut sebagai berikut:

Bismillah, Assalaamu’alaikum… Akhi kaifa haluk , ‘Afwan ana mau minta tolong kalau bisa tanyakan sama Ustadz fadly : ceritakan begini , tadi ana pergi ta`lim pelajaran `umdatul-ahkam, sebelum dimulai Ustadz Abu Juhaifah membawakan dalil tentang bolehnya meminta untuk da`wah (proposal), beliau berdalilkan dengan dua hadits 
Hadits Pertama riwayat muslim (ana lupa siapa sahabatnya) di mana Rasulullah memerintahkan panglimanya meminta jizyah pada orang orang kafir kalau tidak mau masuk islam, kalau menolak diperangi .
Hadits Kedua : hadits Sahl bin Sa`ad di mana Rasulullah meminta dibuatkan minbar, Cuma itu saja yang ana bisa tangkap . tolong jawabannya di email ana saja . Barokallahu fiik wa jazakallahu khoir.

Demikian isi risalah tersebut melalui sms. Maka saya katakan dengan pertolongan dan izin Allah:

Wa’alaikum salaam warohmatullohi wa barokaatuh, sebelum ana menjawab pertanyaan ini, mari kita sedikit mengurai permasalahan minta minta (mengemis) dalam agama!!!

Hukum Meminta-Minta

Al-Imam Ibnu Al-Qoththon -rohimahulloh- telah menukilkan al-ijma’ (kesepakatan ulama’) atas haramnya meminta minta. Sebagaimana dalam bukunya Al-Iqnaa` jilid 2 hal. 397 cetakan dar Al-Kutub Al-`ilmiyyah.

Berkata Asy-syaikh Muqbil bin Hady –rohimahulloh- tentang penggalangan dana (تبرعات )

هذه ليست من سمات أهل السنة

“Perkara ini bukanlah dari ciri-ciri Ahlussunnah”

(tuhfatul-mujiib dibawah pertanyaan no 62)

Adapun dalil permasalahan ini adalah sebagai berikut:

عن عبد الله بن عمر رضي الله عنه قال: قال النبي صلى الله عليه و سلم ( ما يزال الرجل يسأل الناس حتى يأتي يوم القيامة ليس في وجهه مزعة لحم )

Dari ibnu `umar beliau berkata Rasulullah telah bersabda:“Seseorang akan terus-menerus meminta minta sampai dia datang di hari kiamat sedang kan tiada pada wajahnya sepotong dagingpun”  hadits riwayat Al- Bukhory dan Muslim

Makna hadits (tiada pada wajahnya sepotong daging pun) itu sebagai hukuman untuknya, sebagai tanda dan bukti bahwa dia adalah pelaku dosa (mengemis) lihat syarh muslim karya Al Imam An-Nawawi dan Fathulbary karya Al- Hafidz Ibnu Hajar-rohimahumalloh- dalam penjelasan hadits ini.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ ».رواه مسلم

Dari Abu hurairoh beliau berkata Rasulullah telah bersabda: “Barang siapa yang meminta-minta harta manusia untuk mengumpul (memperbanyak) harta, maka sesungguhnya dia hanya meminta bara (api), maka silahkan ia meminta sedikit atau banyak”. Hadits riwayat Muslim

Makna hadits dia akan di azab dan di siksa dengan bara tersebut banyak atau sediknya pengemisan yang ia lakukan.

عن ثوبان مولى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : « من سأل الناس مسألة وهو عنها غني كانت شينا في وجهه» رواه الدارمي رحمه الله في مسنده و صححه العلامة الوادعي رحمه الله كما في ذم المسألة

Dari Stauban budaknya Rosulullah beliau berkata : Sesungguhnya Rasulullah telah bersabda : “Barang siapa yang meminta-minta kepada manusia sedangkan dia berkecukupan maka perkara itu adalah cacat/keburukan pada wajahnya”.Hadits riwayat Ad-Daarimy -rohimahulloh- dan di shohihkan oleh Al-`Allaamah Al-Waadi`iy- -rohimahulloh– sebagai mana dalam tulisannya Dzammilmas-alah (tercelanya meminta-minta)

وروى الترمذي في جامعه عن سمرة بن جندب : قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم «إن المسألة كد يكد بها الرجل وجهه إلا أن يسأل الرجل سلطانا أو في أمر لا بد منه »
قال أبو عيسى هذا حديث حسن صحيح

Dan At-Tirmidzi -rohimahulloh- telah meriwayatkan dalam jami`nya dari Samuroh bin Jundub beliau berkata Rasulullah telah bersabda:“Meminta-minta itu adalah suatu sisir yang seseorang dengannya menyisir (mengoyak) wajahnya (apabila dia meminta-minta) kecuali dia meminta kepada pemerintah atau pada suatu perkara yang mendesak”berkata Abu `isa(At-Tirmizdi) -rohimahulloh- hadits ini adalah hadits yang hasan lagi shohih. Dan juga diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud –rohimahulloh- (Ash-shohiih Al-Musnad no 455)

و ذكر العلامة الوادعي رحمه الله في ذم المسألة وكذا في الصحيح المسند نقلا عن الحافظ ابن حجر في المطالب العالية حديث جابر رضي الله عنه : قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم «إن الرجل يأتيني منكم فيسألني فأعطيته فينطلق وما يحمل في حضنه إلا النار»

Dan Al-`Allamah Al-Waadi`iy rohimahullah menyebutkan dalam bukunya Dzammulmas-alah (tercelanya meminta-minta) dan Ash-shohiih Al-Musnad 1/118 suatu nukilan dari Al-Hafidz ibnu Hajar dalam Al-Matholib Al-`aaliyah, (yaitu) hadits Jabir beliau berkata Rasulullah telah bersabda:“Sesungguh seseorang diantara kalian mendatangiku kemudian meminta padaku akupun memberinya , setelah itu dia berpaling dan tidaklah dia membawa kecuali api neraka”.

عن حبشي بن جنادة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سأل من غير فقر فكأنما يأكل الجمر رواه أحمد بن حنبل في المسند و صححه العلامة مقبل بن هادي الوادعي رحمه الله

Dari Habsyi bin Junadah beliau berkata Rasulullah telah bersabda:“Barang siapa yang meminta- minta tanpa adanya kemiskinan maka seakan-akan dia memakan bara api” Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dalam Al-Musnad dan di shohihkan oleh Al-`Allamah Muqbil bin Haadii Al-waadi`iy –rohimahulloh-. (Ash-shohiihul-musnad 1/139)

Dan hadits-hadits ini umum siapa saja dan bagaimana pun caranya , maka meminta-minta itu adalah tidak boleh.

Dari sinilah kita dapat mengetahui bersama tentang kesalahan kebanyakan manusia pada zaman ini, ketika mereka memasukkan dirinya dalam suatu kesalahan , bahaya dan keharoman meminta-minta tanpa adanya suatu yang mendesak/darurat ataupun kemiskinan. Baik untuknya atau selainnya, baik secara langsung atau dengan menggunakan kertas resmi (sangkaannya) yang disebut dengan proposal yang hal ini dibawah asuhan Yayasan atau, apapun namanya dari selain itu. Yang mana penamaan sesuatu tidak dapat merubah hakikatnya.

*******

Pasal

Hakikat mendesak atau kemiskinan dalam meminta-minta, dan siapakah yang boleh untuk meminta?!

Pada pembahasan yang lalu kita dapat melihat sabda Rasulullah tentang terlarangannya meminta-minta, dan pelarangan tersebut dikaitkan dengan sabdanya (tanpa adanya kemiskinan), maka uraian yang akan datang ini insya Allah akan menjelaskan tentang perkara tersebut, agar tiada lagi alasan bagi mereka yang sangat bermudah-mudahan dalam perkara ini.

Allah berfirman:

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا

(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah , mereka tidak dapat berusaha di muka bumi, orang yang tidak tahu, menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka menjaga diri mereka dari meminta-minta , kamu dapat mengenali mereka dengan sifat-sifat mereka , mereka itu tidaklah meminta kepada orang dengan mendesak/memaksa) (Al-Baqorah 273)

عن عبد الرحمن بن أبي سعيد عن أبيه قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : من سأل وله قيمة أوقية فقد ألحف رواه أبو داود وفيه وَكَانَتِ الأُوقِيَّةُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- أَرْبَعِينَ دِرْهَمًا. حسنه الشيخ مقبل في الصحيح المسند 1/334

(Dari `Abdirrohman bin Abi Sa`iid (Al-Khudriy) dari ayahnya beliau berkata Rasulullah telah bersabda:“Barang siapa yang meminta-minta dan dia memiliki auqiyah maka dia telah memaksa”. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan dalam riwayatnya (disebutkan) dan auqiyah pada zaman Rasulullah adalah senilai dengan empat puluh dirham.

Hadits ini di hasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil -rohimahulloh- dalam Ash-Shohih Al-Musnad jilid 1/hal.334

عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال (ليس المسكين الذي يطوف على الناس ترده اللقمة واللقمتان والتمرة والتمرتان ولكن المسكين الذي لا يجد غنى يغنيه ولا يفطن به فيتصدق عليه ولا يقوم فيسأل الناس ) رواه البخاري ومسلم

Dari Abi Hurairoh berkata bahwa Rasulullah pernah bersabda :“Bukanlah orang miskin, yang mendatangi manusia, yang sesuap atau dua suapan makanan , sebutir atau dua butir kurma memalingkan mereka( dari manusia) akan tetapi , orang miskin itu adalah yang tidak mendapatkan apa yang mencukupi mereka dan tidak diketahui (keberadaannya) agar disedekahi dan tidaklah dia meminta-minta pada manusia”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim –rohimahumalloh-

و روى أحمد أيضا عن سهل بن الحنظلية الأنصاري صاحب رسول الله صلى الله عليه و سلم قال رسول الله صلى الله عليه و سلم انه من سأل وعنده ما يغنيه فإنما يستكثر من نار جهنم قالوا يا رسول الله وما يغنيه قال ما يغديه أو يعشيه

Dan Al-Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Sahl bin Al-Handhzoliyah Al-Anshory sahabat Rasulullah beliau berkata : bersabda Rasulullah : “Barang siapa yang meminta-minta sedangkan dia memiliki kecukupan, maka sesungguhnya dia hanya memperbanyak api jahannam (yaitu dengan meminta)”. Para sahabat bertanya : wahai Rasulullah apakah yang mencukupinya?!! Rasulullah menjawab : “Makan siangnya atau makan malamnya”.

ورواه أبو داود عن النفيلي قال في روايته وَمَا الْغِنَى الَّذِى لاَ تَنْبَغِى مَعَهُ الْمَسْأَلَةُ قَالَ « قَدْرُ مَا يُغَدِّيهِ وَيُعَشِّيهِ ». وَقَالَ النُّفَيْلِىُّ فِى مَوْضِعٍ آخَرَ «أنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ ».و الحديث في الصحيح المسند 1/رقم 461

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Dawud -rohimahulloh- dari An-Nufaily beliau berkata dalam riwayatnya “Dan apakah kecukupan yang tidak pantas untuk meminta?!! Rasulullah menjawab : sekedar makan siangnya dan makan malamnya”.Dan An-Nufaily -rohimahulloh- berkata dalam riwayat yang lain“Yaitu ia memiliki kekenyangan sehari dan semalam atau semalam dan sehari” Hadits ini terdapat dalam Ash-Shohih Al-Musnad jilid 1 nomor 461

عَنْ قَبِيصَةَ بْنِ مُخَارِقٍ الْهِلاَلِىِّ قَالَ تَحَمَّلْتُ حَمَالَةً فَأَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَسْأَلُهُ فِيهَا فَقَالَ « أَقِمْ حَتَّى تَأْتِيَنَا الصَّدَقَةُ فَنَأْمُرَ لَكَ بِهَا ». قَالَ ثُمَّ قَالَ « يَا قَبِيصَةُ إِنَّ الْمَسْأَلَةَ لاَ تَحِلُّ إِلاَّ لأَحَدِ ثَلاَثَةٍ رَجُلٍ تَحَمَّلَ حَمَالَةً فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَهَا ثُمَّ يُمْسِكُ وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ جَائِحَةٌ اجْتَاحَتْ مَالَهُ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – وَرَجُلٍ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ حَتَّى يَقُومَ ثَلاَثَةٌ مِنْ ذَوِى الْحِجَا مِنْ قَوْمِهِ لَقَدْ أَصَابَتْ فُلاَنًا فَاقَةٌ فَحَلَّتْ لَهُ الْمَسْأَلَةُ حَتَّى يُصِيبَ قِوَامًا مِنْ عَيْشٍ – أَوْ قَالَ سِدَادًا مِنْ عَيْشٍ – فَمَا سِوَاهُنَّ مِنَ الْمَسْأَلَةِ يَا قَبِيصَةُ سُحْتًا يَأْكُلُهَا صَاحِبُهَا سُحْتًا »

Dari Qobiishoh bin Mukhoriq Al-Hilaly beliau berkata : Aku berusaha untuk mengerai(mendamaikan )dua kubu, maka akupun mendatangi Rasulullah aku meminta kepadanya karena perkara itu , maka beliau bersabda : “Tinggallah sampai datang harta sedekah(zakat), untuk kami berikan padamu”, kemudia Rasulullah bersabda: “Wahai Qobiishoh sesungguh meminta-minta itu tidaklah dihalalkan kecuali untuk salah satu dari tiga kalangan, seorang yang habis hartanya untuk mendamaikan dua kubu maka halal untuk meminta sampai dia mendapatkan kecukupan untuk hidup, dan seorang tertimpa suatu bencana kemudian habis hartanya maka halal untuk meminta sampai dia mendapatkan kecukupan untuk hidup, dan seorang yang tertimpa dengan kemiskinan sampai bersaksi tiga orang yang berakal dari kaumnya, maka halal untuk meminta sampai dia mendapatkan kecukupan untuk hidup, adapun meminta-minta dari selain itu wahai Qobiishoh adalah haram, orang yang memakannya memakan keharoman”. Diriwayatkan oleh Al-imam Muslim

Hadits ini menjelaskan bahwa yang dibolehkan untuk meminta harus mendatangkan tiga orang saksi tentang kemiskinannya dan yang dimintai adalah pemerintah, menunjukkan pintu ini sangatlah sempit dan tidak sembarangan dalam memasukinya.

Setelah jelasnya perkara ini, maka barang siapa yang menggunakan atau memakan harta tersebut, telah terjatuh dalam keharoman …

عن جابر بن عبد الله : أن النبي صلى الله عليه و سلم قال لكعب بن عجرة يا كعب بن عجرة إنه لا يدخل الجنة لحم نبت من سحت النار أولى به رواه أحمد و حسنه الشيج مقبل في الصحيح المسند رقم 245

Dari Jabir bin `Abdillah berkata sesungguhnya Nabi berkata kepada Ka`ab bin `Ujroh: “Wahai Ka’ab bin `Ujrah!! Sesungguhnya tidak akan masuk surga suatu daging yang tumbuh dari keharoman, neraka itu lebih pantas untuknya”. Diriwayatkan oleh Ahmad -rohimahulloh- dan di hasankan oleh Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-shohih Al-Musnad no 245

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

(Dan janganlah kalian memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan cara yang bathil dan kamu membawa urusan itu kepada hakim agar kalian dapat memakan sebagian dari harta manusia dengan cara dosa sedangkan kamu mengetahuinya) (Al-Baqoroh 188)

Dan Allah juga mencela orang-orang Yahudi disebabkan perkara ini dalam firmannya :

سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحْتِ

(Mereka adalah orang-orang yang suka mendengar kebohongan (dan) memakan harta yang harom) (Al-Maidah 42)

Dan Allah juga berfirman:

وَتَرَى كَثِيرًا مِنْهُمْ يُسَارِعُونَ فِي الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

(Dan engkau melihat kebanyakan dari mereka bersegera dalam perkara dosa dan permusuhan serta memakan yang harom, sungguh sangat jelek apa yang mereka kerjakan) (Al-Maidah 62)

عن مُعَاوِيَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَهُوَ يَقُولُ « مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًاُيفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ ». وَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « إِنَّمَا أَنَا خَازِنٌ فَمَنْ أَعْطَيْتُهُ عَنْ طِيبِ نَفْسٍ فَيُبَارَكُ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَعْطَيْتُهُ عَنْ مَسْأَلَةٍ وَشَرَهٍ كَانَ كَالَّذِى يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ ».

Dari Mu`awiyah berkata aku mendengar Rasulullah bersabda“Barang siapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan maka Allah akan memberikannya pemahaman dalam agama”, Dan juga bersabda“Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang bendahara, maka barang siapa yang aku berikan dengan senang hati , maka akan diberkahi (pemberian tersebut)untuknya dan barang siapa yang aku berikan karena meminta dan ketamakan maka perumpamaannya adalah bagaikan orang yang makan dan tidak (pernah) kenyang”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim -rohimahumalloh- dan ini lafal Muslim.

عن حكيم بن حزام رضي الله عنه قال: سألت رسول الله صلى الله عليه و سلم فأعطاني ثم سألته فأعطاني ثم سألته فأعطاني ثم قال ( يا حكيم إن هذا المال خضرة حلوة فمن أخذه بسخاوة نفس بورك له فيه ومن أخذه بإشراف نفس لم يبارك له فيه وكان كالذي يأكل ولا يشبع )

Dari Hakim bin Hizam berkata: Aku meminta kepada Rasulullah maka diapun memberikanku, kemudian aku meminta kepadanya maka diapun memberikanku, kemudian aku meminta kepadanya maka diapun memberikanku, kemudian Rasulullah berkata: “Wahai Hakim sesungguhnya harta ini hijau lagi manis, barang siapa yang mengambilnya dengan jiwa yang baik (tanpa minta-minta, memaksa) maka harta tersebut akan diberkahi untuknya, dan barang siapa yang mengambilnya dengan mendesak (meminta) harta tersebut tidak akan diberkahi untuknya, perumpamaannya adalah bagaikan orang yang makan dan tidak (pernah) kenyang”. Diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim -rohimahumalloh-

Sungguh kami telah melihat mereka yang senang meminta , melakukan penggalangan dana untuk mereka sendiri , seperti yang disebutkan oleh Nabi –shollallohu ‘alaihi wa sallam- tidak pernah puas, perhatikanlah mereka ini !!!!

Memungut dana atas nama santri , dakwah , masjid…

Menggalang dana besar-besaran dari masyarakat yang tidak masuk akal (dalam proposal terlampir biaya transportasi padahal yang mengisi acara tersebut tinggal didepan masjid !!! )

Memungut biaya bagi yang ingin ikut daurah demikian juga buku materinya, setelah adanya penggalangan dana buat si daurah , kemanakah dana-danatersebut..!?

Meletakkan kotak-kotak amal…..

Padahal mereka telah mendapat dana bantuan dari pemerintah dengan yayasan mereka !

Bahkan dari luar negri seperti yayasan (mali) adik si-manis !!!?, belum cukup juga, buletin–bulletin-nyapun dengan tidak malu-malu mempromosikan bank-bank ribawi gratis tanpa biaya, yang secara tidak langsung mengajak manusia untuk bergampang-gampangan menggunakan dan berhubungan dengan riba !!! dengan tujuan menggalang dana ……. Allohul-musta’an.

عن كبشة الأنماري : أنه سمع رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول ثلاثة أقسم عليهن وأحدثكم حديثا فاحفظوه قال ما نقص مال عبد من صدقة ولا ظلم عبد مظلمة فصبر عليها إلا زاده الله عزا ولا فتح عبد باب مسئلة إلا فتح الله عليه باب فقر رواه الترمذي و قال هذا حديث حسن صحيح

Dari Kabasyah Al-Anmaary sesunguhnya dia telah mendengar Rasulullah bersabda : “Tiga perkara saya bersumpah tentangnya , harta seorang hamba tidak akan berkurang karena sedekah , tidaklah seorang hamba dianiaya kemudian dia bersabar, kecuali Allah tambahkan baginya kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba membuka pintu (untuk) minta-minta kecuali Allah akan bukakan baginya pintu kemiskinan (kekurangan)”. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzy -rohimahulloh- dan beliau berkata bahwa hadits ini adalah hadits yang hasan lagi shohih.

*******

Pasal

Bahaya Minta-minta bagi ummat

Telah lewat pada pembahasan di atas tentang bahaya meminta-minta bagi pelakunya , berikut adalah dampak negatif bagi ummat :

Al-Buhklu (kikir) & dengki / benci terhadap agama

Allah berfirman:

إنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ (36) إِنْ يَسْأَلْكُمُوهَا فَيُحْفِكُمْ تَبْخَلُوا وَيُخْرِجْ أَضْغَانَكُمْ

(Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kalian beriman dan bertaqwa, kalian akan diberikan pahala-pahala kalian dan dia tidak akan meminta harta-hartamu. Jika dia meminta harta kepada kalian, kemudian mendesak, niscaya kalian akan kikir dan akan ditampakkan kebencianmu)(Muhammand 36-37)

Sebagian dari saudara (sorowako) kita mengaku bahwa merasa berat untuk menyumbangkan harta mereka, dikarenakan ulah minta-minta (pengemis terpelajar) yang kelewatan ini.

Demikian juga pada ihkwan-ihkwan yang ada di pinrang, pada suatu waktu diadakan rapat penggalangan dana, salah seorang mereka menginfakkan hartanya ‘ utang ‘ dengan terpaksa, begitu Al-Akh Abu Hudzaifah salah satu yang hadir menyatakan saya tidak mau ikut , maka ikhwan yang mengutang tadi pun memukul paha Al-Akh Abu Hudzaifah, dan berkata kenapa tidak dari tadi !! yaitu mereka merasa terpaksa untuk berinfak, Wallohu Al-Musta`aan 
Tidakkah kita melihat didepan rumah-rumah kaum muslimin tertera label “tidak melayani permintaan sumbangan dalam bentuk apapun “ atau yang sema`na dengan itu ?!! dan ini adalah sebaik-baik bukti .

Menghinakan & menjelekkan agama

Demikianlah meminta minta (mengemis) adalah suatu perbuatan yang hina & jelek, menghinakan orang yang melakukannya, terlebih lagi kalau yang melakukannya membawa dengan nama agama(anak yatim, sedekah, dll) dia pun dengan itu menghinakan agama yang mulia dan agung ini :

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ

Dan hanya milik Allah-lah Kemuliaan (Keagungan)dan bagi Rosulnya serta bagi kaum mukmin, akan tetapi orang-orang munafik tidak mengetahiunya (Al-Munafiqun 8)

Dikarenakan mulianya agama ini, Allah dan Rosulnya pun melarang & mengharomkan seluruh bentuk yang menghinakan (diantaranya adalah meminta-minta),

وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا وَتَرْهَقُهُمْ ذِلَّةٌ مَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ كَأَنَّمَا أُغْشِيَتْ وُجُوهُهُمْ قِطَعًا مِنَ اللَّيْلِ مُظْلِمًا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

(Dan orang-orang yang berbuat kejahatan(dosa) balasan(nya) adalah kejelekan yang setimpal dan mereka tertimpa kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari(azab)Allah) (Yunus 27)

Saya langsung mendengar sebagian masyarakat mengatakan bahwa (yayasan dakwah) Hidayatullah adalah pengemis. Yang demikian itu disebabkan mereka terkenal dengan proposal dan minta-minta. Demikianlah masyarakat mereka menyangka bahwa inilah ajarannya Muhammad , sedangkan beliau berlepasdiri darinya.

Sungguh benar apa yang disebutkan oleh Asy-syaikh Muqbil bin Hady Al-Wadi’iy –rohimahulloh- dalam kitab Hadzihii da’watunaa wa ‘aqiidatunaa hal 18-19 setelah menyebutkan tentang buruknya belajar dan mengajar dengan mengharapkan upah (dunia)

بل أقبح من هذا أن الدعوة قد أصبحت مصدر رزق عند كثير من الناس , فرب شخص يتظاهر بالدعوة إلى الله , و يجمع الأموال من عند الناس , ثم يشتري بها أراض و سيارات لمصلحته خاصة , و هذه إساءة إلى الدين و الدعوة إلى الله

Bahkan yang lebih buruk dari perkara ini, bahwa sesungguhnya dakwah telah menjadi sumber rezki (lapangan kerja) pada kebanyakan manusia, maka seseorang menampakkan dirinya dengan (memikul)dakwah kepada Allah , dan menggalang dana dari manusia , kemudian ia membeli dengannya tanah, mobil untuk kepentingan pribadinya, dan perkara ini adalah bentuk keburukan terhadap agama dan dakwah kepada Allah .

Juga berkata :

وهناك غير واحد يركضون باسم دعوة أهل السنة بدماج، وذاك يطلب تزكية، وذاك يطلب شفاعة، وأنا بسبب كثرة شواغلي أشغل عن التفكير في التاريخ، فتبقى هذه الشفاعة صالحة لأي وقت، وربما صوّرت لآخر، وبعد اطلاعي على هذا التلاعب المخزي فإني أبطل كل الشفاعات السابقة وتنتهي من يومنا هذا (4/شهر ذي الحجة/ سنة 1413هـ) حتى لا نعين على إهانة الدعوة.

Dan disana tidak seorang yang bergerak dengan nama dakwah Ahlussunnah di Dammaj, yang itu meminta tazkiah/rekomendasi, dan yang itu meminta syafaat, dan saya dikarenakan bayak-nya kesibukan lalai untuk mengigat(untuk mencantumkan) tanggal-nya, sehingga syafaat tersebut layak untuk setiap waktu, dan bisa saja di cetak untuk orang lain, dan setelah saya mengetahui penipuan yang hina ini, maka saya membatalkan (menyatakan tidak sah) seluruh syafaat-syafaat yang telah lalu dan berakhir pada hari ini ( 4 dzulhijjah 1413 h ) agar kita tidak turut membantu dalam menghinakan dakwah. (lihat muqoddimah dzammul-mas alah/tercelanya meminta-minta)

Menghalangi manusia memeluk da`wah yang benar.

Oleh karena itu, perkara ini dapat menghalangi manusia untuk ikut memeluk agama yang haq ini . Tidak mengherankan kalau seorang Nashroni, orang awam, terus teguh di atas agama dan pendiriannya dengan mengatakan saya tidak mau seperti mereka (pengemis), tidakkah kita melihat yang memenuhi masyarakat dengan minta-minta adalah mereka yang memakai jubah, jilbab, kopiah, atau selainnya dengan berkedotkan nama da`wah atau islam, dari rumah-kerumah, toko-ketoko, bahkan diantara mereka mendatangi kediaman dan toko orang-orang non muslim . Wallohu Al-Musta`an

وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدْتُمْ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

(Dan kalian akan merasakan kejelekan sisebabkan kalian menghalangi-halangi (manusia)dari jalan Allah. Dan bagi kalianlah siksaan yang besar)(An-Nahl 94)

Perkara-perkara ini juga memastikan haromnya meminta-minta.

Maka marilah kita mengagungkan agama yang mulia ini dengan meninggalkan perkara tersebut

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ حُرُمَاتِ اللَّهِ فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ عِنْدَ رَبِّهِ

(Demikianlah barang siapa yang mengagungkan perkara yang terhormat di sisi Allah, maka itu adalah lebih baik baginya disisi Robbnya) (Al-Hajj 30)

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

(Demikianlah barang siapa yang mengagungkan syi`ar-syi`ar Allah, maka itu adalah dari ketaqwaan hati)( Al-Hajj 32)

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

Apakah kamu meminta upah pada mereka sedang mereka dari utang merasa berat? (Al-Qolam 46)

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُون

Ikutilah (dakwah ) siapa yang tidak memintai kalian balasan (upah) sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yaasiin 21)

Jawaban:

Adapun pendalilan yang di sebutkan Al-akh dalam bolehnya minta-minta dalam risalahnya (riwayat muslim (ana lupa siapa sahabatnya) di mana Rasulullah memerintahkan panglimanya meminta jizyah pada orang orang kafir kalau tidak mau masuk islam, kalau menolak diperangi)

Sepertinya yang dimaksud adalah hadits Buraidah yang diriwayatkan oleh imam Muslim no 1731, maka tidak ada pendalilan sama sekali. Akan tetapi hanya memperlihatkan tentang rendahnya pemahamannya, ditinjau dari beberapa sisi:

Pertama : Bedanya lafal jizyah dan mas-alah (minta-minta)

Lafal jizyah digunakan untuk mereka yang non muslim, bagaikan pajak (bayaran) untuk menjaga atau jaminan hidupnya/keamanan, berbeda dengan minta-minta!! Ada atau tidaknya harta yang diminta tidaklah berbahaya bagi yang mengeluarkannya.

Kedua : Jizyah dipungut dari orang-orang kafir sebagai bentuk hinaan dan kerendahan bagi mereka, dan sebagai bentuk kemuliaan & keagungan islam, sebagaimana dalam hadits tersebut dan dalam firman Allah :

قَاتِلُوا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآَخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ الْحَقِّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حَتَّى يُعْطُا الْجِزْيَةَ عَنْ يَدٍ وَهُمْ صَاغِرُونَ

(Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula kepada hari ahkirat dan mereka tidak mengharamkan apa-apa yang di haramkan oleh Allah dan Rosulnya dan tidak beragama dengan agama yang haq, (yaitu) ahlulkitab (yang diturunkan al-kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan hina/rendah) (At-Taubah 29)

Berbeda halnya dengan minta-minta, orang yang memintalah yang terhinakan, sebagaimana telah lalu pembahasannya, dan Rosullulloh juga bersabda:

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي ، وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ.

“Dan dijadikan kehinaan dan kerendahan bagi siapa yang menyelisihi perkara (agama)ku, dan barang siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia dari kaum tersebut” Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Ibni `umar –

Faidah : Berkata Al-Hafidz bin Hajar berkata Al-`Ulama` : Hikmah dari adanya Jizyah adalah, kehinaan yang meluputi mereka akan menggiring mereka untuk masuk dalam islam bersamaan dengan bergaulnya mereka dengan kaum muslimin, disebabkan mereka menyaksikan kebaikan-kebaikan agama islam. (lihat Fath Al-Bary jilid 6 hal 311)

Ketiga : Dalam pendalilan ini mencakup suatu perkara yang keji lagi berbahaya, yaitu penyamaan antara muslim dan kafir, sedangkan perkara ini adalah suatu perkara yang dima`lumi bersama akan ketidak benarannya, kecuali orang yang tidak memiliki kecermatan …

Allah berfirman:

أمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ

(Patutkah kami menjadikan orang-orang yang beriman dan beramal saleh sama dengan orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ? Patutkah pula kami menjadikan orang-orang yang bertaqwa sama dengan orang-orang yang durhaka (bermaksiat) (Shood 28)

Dan juga berfirman:

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ

(Apakah patut kami menjadikan orang-orang islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa(kafir)? Mengapa kamu(berbuat demikian) bagaimanakah kamu mengambil keputusan/kebijakan?) (Al-Qolam 35-36)

Adapun istidlal dengan hadits Sahl bin Sa`ad di mana Rasulullah meminta dibuatkan minbar,

Juga tidak ada pendalilan padanya, tidak ada lafal سؤال meminta (mengemis) di dalamnya. Sebagaimana hadits tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhory dalam Shohihnya, beliau berkata:

باب الاستعانة بالنجار والصناع في أعواد المنبر والمسجد

Bab meminta pertolongan kepada tukang kayu dan buruh dalam (membuat) minbar dan masjid

حدثنا قتيبة قال حدثنا عبد العزيز عن أبي حازم عن سهل قال : بعث رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى امرأة أن ( مري غلامك النجار يعمل لي أعوادا أجلس عليهن )

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah, berkata telah mengabarkan kepada kami `Adul`aziz dari Abi Hazim dari Sahl beliau berkata Rasulullah mengutus kepada seorang wanita agar “perintahkan lah budakmu si tukang kayu untuk membuatkanku sesuatu dari kayu (agar) aku duduk di atasnya!!?”

حدثنا خلاد قال حدثنا عبد الواحد بن أيمن عن أبيه عن جابر : أن امرأة قالت يا رسول الله ألا أجعل لك شيئا تقعد عليه فإن لي غلاما نجارا ؟ قال ( إن شئت ) . فعملت المنبر

Telah mengabarkan kepada kami Khollaad telah mengabarkan kepada kami ‘Abdulwahid bin Aiman dari ayahnya dari Jabir : bahwa seorang wanita berkata: wahai Rasulullah maukah engkau aku buatkan sesuatu (agar) engkau bisa mendudukinya? Karena sesungguhnya aku memiliki budak tukang kayu!

Beliaupun menjawab “Kalau engkau mau (terserah)”maka diapun membuat minbar.

Jika diperhatikan maka kedua hadits tersebut bertentangan, yaitu pada hadits Sahl Rasulullah yang memerintah untuk dibuatkan minbar, dan pada hadits Jabir sang wanitalah yang menawarkan kepada Rasulullah ﷺ!! Maka mari kita kembalikan perkara ini kepada ahlinya , yaitu Al-Hafidz bin Hajar -rohimahulloh-, agar permasalahan ini lebih jelas. Beliau berkata dalam Fath Al-Bari jilid 1 hal. 684 terbitan Maktabatu Ash-shofa :

Ibnu Batthol -rohimahulloh- menjawab (perkara ini) : suatu kemungkinan bahwa sang wanita yang menawarkan kebaikan, ketika dia mendapatkan jawaban, sang tukang telat dalam menyelesaikannya, maka Rosul-pun mengutus agar mempercepatnya, karena beliau tahu akan senang(ridho)nya wanita tadi dengan apa yang ia keluarkan (infaq/harta).

Beliau juga berkata: kemungkinan Rasulullah mengutus seseorang kepadanya agar menjelaskan kepadanya(wanita) tentang sifat/bentuk yang akan di buat oleh budaknya , yang terdiri dari kayu agar menjadi sebuah minbar.

Aku berkata(Al-Hafidz) -rohimahulloh- : Penulis (Al-Bukhory) telah meriwayatkan hadits ini dalam “Tanda-tanda kenabian”, dengan sanad ini dengan lafal ( maukah engkau aku buatkan minbar) maka bisa saja pemberitahuan tersebut dalam bentuk minbar tertentu , atau ketika Rasulullah menyerahkan perkara tersebut kepadanya dalam sabdanya (kalau engkau mau (terserah)) maka itulah penyebab lambatnya, bukan berarti budaknya yang lambat dan bukan pula dia tidak mengetahui sifatnya.

Kemudian beliau berkata: dalam hadits ini terdapat (faidah) tentang bolehnya menerima kebaikan apabila tidak melalui minta-minta (mengemis)….

Dengan ini maka jelaslah bahwa Rasulullah tidaklah meminta-minta sebagaimana yang difahami oleh Al-Akh , dan batallah pendalilannya.

Maka tidak boleh kita menyanggka bahwa Rasulullah meminta-minta , tidakkah engkau tahu bahwa Rosulloh adalah suri teladan yang baik nan mulia !!! tidak akan mungkin melakukan suatu kehinaan !! Tidakkah engkau pernah membaca dan memahami hal ini !! dan hadits Anas pada waktu Rasulullah tiba di kota Madinah kemudian memerintah untuk dibuatkan masjid , lalu berkata:

( يا بني النجار ثامنوني بحائطكم هذا )

“Wahai Bani An-Najjaar berapakah harga kebun kalian ini?!!!”diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim -rohimahumalloh-

Demikianlah meminta-minta adalah tidak diperbolehkan baik itu untuk pribadi atau da`wah sekalipun , Allah juga berfirman:

قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

(Katakanlah aku tidak meminta bayaran kepada kalian atas perkara tersebut (da’wah), akan tetapi itu hanya sekedar peringatan untuk alam semesta) (Al-An’aam 90)

Demikian juga nabi Nuh, Hud, Sholeh, Luth, Syuaib -alaihimusholaatu wassalaam- sebagai mana dikisahkan dalam Al-Qur-an ,

أَمْ تَسْأَلُهُمْ أَجْرًا فَهُمْ مِنْ مَغْرَمٍ مُثْقَلُونَ

Apakah kamu meminta upah pada mereka sedang mereka dari utang merasa berat? (Al-Qolam 46)

Allah juga berfirman:

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah (dawah ) siapa yang tidak memintai kalian balasan(upah) sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yaasiin 21)

Demikianlah dawah para nabi yang penuh dengan berkah, yang tiada keberkahan dalam menyelisihi langkah mereka.

Bahkan Rasulullah membaiat sahabatnya agar tidak meminta-minta sama sekali , sebagaimana dalam hadits ‘auf bin Malik beliau berkata: ……

عَلاَمَ نُبَايِعُكَ قَالَ « عَلَى أَنْ تَعْبُدُوا اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَالصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ وَتُطِيعُوا – وَأَسَرَّ كَلِمَةً خَفِيَّةً – وَلاَ تَسْأَلُوا النَّاسَ شَيْئًا ». رواه مسلم

Atas apa kami membai`atmu ? Rasulullah menjawab: “Agar kalian menyembah Allah dan tidak mempersekutukan nya dengan sesuatu apa pun, dan Sholat (fardhu) yang lima, ta’at (kepada pemimpin), -kemudian Rasulullah membisikkan satu kalimat- dan jangan kalian meminta-minta kepada manusia sesuatu apa-pun” hadits riwayat Muslim

Dan juga beliau menjadikan jaminan surga bagi yang meninggalkannya, sebagaimana dalam hadits Tsaubaan beliau berkata:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَكَفَّلَ لِى أَنْ لاَ يَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا وَأَتَكَفَّلَ لَهُ بِالْجَنَّةِ ».رواه أبو داود و صححه العلامة مقبل في الصحيح المسند رقم 188

Bersabda Rasulullah : “Barang siapa yang berjanji kepadaku untuk tidak meminta-minta kepada manusia sedikit-pun maka aku akan menjaminnya surga”hadits riwayat Abu Dawud dan di Shohihkan oleh Al-Allaamah Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad no.188

inilah taqwa wahai saudara/(i)ku,
Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: dahulu penduduk Yaman melakukan Haji dan tidak membawa perbekalan, mereka menyatakan bahwa “kami orang-orang yang bertawakkal” begitu mereka tiba di Makkah merekapun meminta-minta kepada manusia, maka Allah menurunkan:
وتزودوا فإن خير الزاد التقوى
Berbekallah, dan Sesungguhnya Sebaik-baik bekal adalah takwa.(QS. al-Baqarah 197) diriwayakan oleh al-Imam al-Bukhari.
Berkata al-Muhallab: dari fiqih hadits ini bahwa tidak meminta-minta itu merupakan ketaqwaan, dan lebih ditegaskan lagi bahwa Allah menyanjung mereka yang tidak meminta-minta kepada orang dengan memaksa. Sebab firman Allah “berbekallah, dan sebaik-baik bekal adalah takwa” artinya berbekallah kalian dan hindarilah mengganggu orang-orang dengan mengemis/meminta-minta kepada mereka, dan hindarilah dosa.(lihat fathul-baari syarh hadits di atas) 
Sungguh tidaklah cermat setelah adanya jaminan seperti ini , kemudian dia menjauh darinya dengan meminta-minta atau membolehkannya !!!! Seperti halnya Bani Isroil yang Nabi Musa berkata kepada mereka…..
أَتَسْتَبْدِلُونَ الَّذِي هُوَ أَدْنَى بِالَّذِي هُوَ خَيْر
Apakah kalian mau mengambil perkara yang rendah(hina) sebagai pengganti yang lebih baik??!!!(Al-Boqoroh 61)

Nasehatku kepada siapa saja, terlebih lagi seorang da`i untuk menimbah `ilmu dimanapun dan kapanpun berada, agar kita bisa menimbang perbuatan, perkataan & da`wah kita diatas `ilmu, sehingga kita tidak menjadikan apa-apa yang selain dari agama ke dalam agama!!!!

Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah (wahai Muhammad) Ini adalah jalanku, aku berda’wah kepada Allah diatas bashiroh(`ilmu), jalanku dan siapa saja yang mengikutiku, dan maha suci Allah tidaklah aku dari orang-orang musyrik) (Yusuf 108)

Rasulullah bersabda:

« مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ »

“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang bukan dari agama kami maka amalan tersebut tertolak”

Dalam riwayat yang lain:

« مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ ».

“Barang siapa yang mengada-ngada dalam agama kami yang bukan dari agama kami maka akan tertolak”

Dan aku nasihatkan juga untuk ta`affuf (tidak meminta-minta) dan takassub ( mencari nafkah ) dengan cara yang halal serta bersabar menghadapinya, Allah berfirman

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

(Dialah (Allah) yang menjadikan bumi tunduk untuk kalian, maka berjalanlah di seluruh penjurunya serta makanlah dari rizkinya, dan hanya kepadanyalah kebangkitan) (Al-Mulk 15)

Rasulullah juga bersabda:

لأن يحتطب أحدكم حزمة على ظهره خير له من أن يسأل أحدا فيعطيه أو يمنعه

“Sungguh seseorang dari kalian memikul kayu (bakar) di pundaknya, itu adalah lebih baik untuknya, dari pada dia meminta-minta kepada seseorang , lalu dia diberikan atau tidak” dari Abu Hurairoh diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim -rohimahumalloh-

Beliau ﷺ juga bersabda:

من يستعفف يعفه الله ومن يستغن يغنه الله ومن يتصبر يصبره الله وما أعطي أحد عطاء خيرا وأوسع من الصبر

“Barang siapa berusaha untuk ta’affuf (tidak minta-minta) maka Allah akan berikan untuknya dan barang siapa yang berusaha untuk merasa cukup maka Allah akan cukupkan, dan barang siapa yang berusaha untuk bersabar maka Allah akan sabarkan, dan tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih mencukupi daripada kesabaran”dari Abu Sa`id Al-Khudry diriwayatkan oleh Al-Bukhory dan Muslim -rohimahumalloh-.

Dan dari do`a Rasulullah :

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

“Wahai Allah sungguh saya memohon kepadamu Al-Huda (petunjuk), Al-Tuqo (ketakwaan), Al-`Afaaf (kemuliaan/kesucian) serta Al-Ghina (kecukupan)”. Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim -rohimahulloh-

Untuk kejelasan yang lebih lanjut, silahkan membaca kitab Dzammulmas-alah (tercelanya meminta-minta) karya Asy-Syaihk Muqbil -rohimahulloh- dan kitab Jam`iyyah harokatun bilaa barokah (Yayasan sarana da`wah tanpa berkah) karya Al-Akh Abul-Husain –hafidhzohulloh-

Semoga apa yang saya sampaikan ini bermanfaat untuk kita semua, apabila di dalamnya terdapat kebenaran maka dari Allah dan Rasulnya , dan apabila ada kesalahan maka dariku-lah dan dari Syaithon, Allah dan Rasulnya berlepas darinya. Saya bukanlah seorang yang ma`shum lepas dari kesalahan.

Wahai Allah anugrahkanlah kepada kami Al-Huda(petunjuk), At-Tuqo(ketakwaan), Al-‘Afaaf (kemuliaan diri) dan Al-Ghina( kecukupan)

سبحان الله و بحمده أشهد ألا إله إلا الله و أستغفر الله و أتوب إليه

Sorowako, Lu-Tim Sul-Sel, Senin 11 Robi` Awwal 1432 hijriyah, 14 /2/2011 masehi

Ditulis oleh :

Abu `Ubaid Fadhl bin Muhammad Arsyad T. Al-Bugisy

 
Dicopas dari blog Ashaabulhadits

Iklan

Hukum Minum Dengan Dua Tangan

20/02/17

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Minum dengan Dua Tangan

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم، أما بعد:

Pertanyaan: apa hukum meminum dengan tangan kiri sambil tangan kanan ditempelkan ke bawah gelas? Kabarnya Asy Syaikh Al Utsaimin membolehkan itu.

Jawaban kami dengan memohon pertolongan pada Alloh semata:

Meminum dengan tangan kiri adalah harom, berdasarkan dalil-dalil yang jelas tentang masalah ini. Adapun orang yang memegang gelas dengan tangan kiri sambil punggung tangan kanan memikul dasar gelas, maka hal ini kembali pada kondisi yang dominannya. Jika tangan kanan itulah yang dominan memegang gelas, maka tidak apa-apa. Tapi jika tangan kiri itulah yang dominan dalam memegang gelas, maka dia jatuh ke dalam perkara yang harom.

Al Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id rohimahulloh berkata: “Syariat itu memandang adalah kondisi yang dominan, dan membuang kondisi yang langka dan jarang.” (“Ihkamul Ahkam”/hal. 407).

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Dan hukum-hukum itu hanyalah berlaku pada yang dominan dan banyak. Sementara yang langka itu masuk dalam hukum tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 378/cet. Ar Risalah).

Al Qorofiy rohimahulloh berkata: “Dan syariat itu hanyalah membangun hukum-hukumnya di atas perkara yang dominan.” (“Anwarul Buruq Fi Anwa’I Furuq”/7/hal. 460).

Adapun alasan orang yang membolehkan cara minum semacam tadi dengan fatwa Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh, maka silakan membaca fatwa beliau secara lengkap:

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh ditanya: “Memakan dengan tangan kiri itu diharomkan, ataukah masalah ini masih diperselisihkan oleh para ulama?”

Maka beliau rohimahulloh menjawab: memakan dengan tangan kiri karena suatu udzur itu tidak mengapa. Adapun tanpa udzur, maka dia itu adalah harom, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melarangnya dan bersabda:

(إن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله)

“Sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya, dan minum dengan tangan kirinya.”

Dan Alloh ta’ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ [النور:21]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Dan barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu memerintahkan pada kekejian dan kemungkaran.”

Kemudian sesungguhnya setan itu gembira jika engkau makan dengan tangan kirimu, karena engkau menjadi pengikut dia dan menjadi orang yang menyelisihi Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam. Masalah ini tidaklah remeh! Jika engkau makan dengan tangan kirimu atau engkau minum dengan tangan kirimu, setan gembira dengan kegembiraan yang lebih besar daripada sekedar perkara tadi adalah suatu perbuatan. Dia gembira karena engkau mencocoki dia dan engkau menyelisihi Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam dan sabda beliau dan perbuatan beliau. Maka masalah ini tidaklah remeh.

Oleh karena itulah maka para penuntut ilmu wajib mengingatkan masyarakat tentang hal itu. Banyak dari orang-orang kita dapati mereka ketika makan, mereka memakan dengan tangan kiri, dan mereka berkata: “Kami khawatir gelasnya akan kotor.” Padahal kondisi kebanyakan gelas sekarang adalah terbuat dari wariq (semacam polyestrin) yang tidak ada satu orangpun minum darinya setelahmu. Biarkan saja dia terkotori.

Kemudian mungkin saja engkau memegangnya, sekalipun dia itu terbuat dari kaca, engkau pegang di bagian bawahnya, di antara jari telunjuk dan ibu jari, dan engkau minum. Kemudian jika ditetapkan bahwasanya engkau tidak mungkin memegang dengan cara ini ataupun itu, kalaupun gelasnya terkotori, cuci sajalah, bukanlah itu suatu masalah, karena selama diketahui bahwasanya memegang dengan tangan kiri adalah harom, dan pelakunya melakukan dosa dengan meminum dengan cara itu, maka perkara yang harom itu tidak boleh dikerjakan kecuali karena dhoruroh.”

Si penanya berkata: “Jika dia memegangnya dengan tangan kiri dan meletakkan gelas tadi di atas tangan kanan?”

Asy Syaikh menjawab: “Jika hajat mengharuskan dirinya melakukan itu, maka tidak apa-apa. Jika dia meletakkan gelas tadi di punggung tangan kanan, dan dia memegangnya dengan tangan kiri, jika hajat mengharuskan dia berbuat itu. Akan tetapi aku tidak melihat adanya hajat yang mengharuskan dia berbuat itu. Aku telah mencobanya sendiri. Aku memagang gelas di bagian bawahnya dan gelas itu tidak terkotori sama sekali. Kemudian jika dia terkotori, dia begitu terus selama lima menit, dan kotorannya bisa dihilangkan dengan pencucian. Perkaranya mudah saja.

Demikian pula mengambil dan memberi dengan tangan kiri. Ini juga menyelisihi sunnah, dan hal itu dilarang.”

Si penanya bertanya: “Akan tetapi apakah ada perkataan ulama yang membolehkannya?”

Asy Syaikh menjawab: “Sebagian ulama berpandangan bahwasanya hal itu adalah makruh. Akan tetapi wahai Saudaraku! Aku nasihati engkau dan yang lainnya: jika Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mengucapkan suatu perkataan, janganlah engkau berkata: “Apakah sebagian ulama berkata demikian?” Para ulama berfatwa dengan pemahaman, jika suatu dalil sampai pada mereka, terkadang mereka keliru dalam memahami. Dan terkadang dalil itu belum sampai pada mereka. Dan terkadang dalil itu tersamarkan.

Bukankah hadits tentang wabah Tho’un itu tersamarkan pada para Shohabat rodhiyallohu ‘anhum semuanya? Manakala Umar rodhiyallohu ‘anhu datang ke Syam, dikatakan pada beliau: “Sesungguhnya di Syam sedang ada Tho’un.” Maka Umar berhenti dan bermusyawarah dengan para Shohabat. Beliau mendatangkan para Muhajirin, dan Anshor, lalu beliau mengajak mereka bermusyawarah sendiri-sendiri. Dan mereka semua tidak tahu hadits tadi. Akan tetapi segala pujian bagi Alloh semata, Alloh memberi mereka taufiq pada kebenaran, untuk pulang kembali dan tidak mendatangi Syam. Saat itu Abdurrohman bin Auf rodhiyallohu ‘anh itulah yang meriwayatkan hadits tadi, akan tetapi beliau sedang tidak ada karena suatu hajat. Kemudian beliau datang, lalu beliau menyampaikan hadits tadi pada mereka. Hadits tadi tersamarkan pada semua Shohabat tadi, padahal kita tahu bahwasanya mereka masih terbatas di suatu tempat. Maka bagaimana setelah umat dan ulama itu tersebar?!!

Maka kita tidak boleh membantah sabda Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam dengan ucapan: “Apakah ada perselisihan di dalam masalah ini?” “Bukankah sebagian ulama berkata demikian?”

Jika Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda pada kita:

(لا يأكل أحدكم بشماله، ولا يشرب بشماله فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله)

“Janganlah salah seorangpun dari kalian makan dengan tangan kirinya, dan jangan pula minum dengan tangan kirinya, karena sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya, dan minum dengan tangan kirinya.”

Selesai pembahasan.

Jika engkau memberikan pilihan pada seorang mukmin manapun: “Apakah engkau mencintai jalan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, ataukah langkah-langkah setan?” apa yang akan dia katakan? Dia akan berkata: “Jalan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam.”

Si penanya bertanya: “Wahai Fadhilatusy Syaikh, maksud saya adalah: bahwasanya sebagian orang menisbatkan pada sebagian ulama bahwasanya hal itu adalah tidak harom. Maka saya ingin memastikan.”

Asy Syaikh menjawab: “Ini baik. Dan Ibnu Abbas rohdiyallohu ‘anhuma berkata:

يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء، أقول: قال رسول الله وتقولون: قال أبو بكر وعمر

“Hampir-hampir akan turun batu dari langit menimpa kalian. Aku berkata: “Rosululloh bersabda,” dan kalian berkata: “Abu Bakr dan Umar berkata.”

Dan siapakah para ulama itu dibandingkan dengan Abu Bakr dan Umar? Padahal Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentang mereka berdua:

(إن يطيعوا أبا بكر وعمر يرشدوا)

“Jika mereka menaati Abu Bakr dan Umar niscaya mereka akan terbimbing.”

Dan beliau bersabda:

(اقتدوا باللذين من بعدي: أبي بكر وعمر )

“Teladanilah dua orang sepeninggalku: Abu Bakr dan Umar.”

Telah ditetapkan untuk mengambil pendapat mereka berdua maka jika Abu Bakr dan Umar menyelisihi Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam dan kita mengambil pendapat mereka berdua, dikhawatirkan akan turun pada kita batu dari langit. Maka bagaimana mengambil pendapat dari selain mereka berdua?!!

Oleh karena itu, hakikat yang sangat menyakitiku: jika seseornag berkata jika misalkan aku katakan padanya: “Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian,” dia menjawab: “Dalam masalah ini ada perselisihan.”

Orang yang menyelisihi boleh jadi punya udzur dalam penyelisihan nash tadi karena penakwilannya, atau tidak tahunya dia. Akan tetapi aku tidak punya udzur. Dan bukanlah jika orang yang diikuti itu mendapatkan udzur maka pengikutnya juga mendapatkan udzur.”

(selesai dari “Liqoatul Babil Maftuh”/4/hal. 55).

Dari fatwa tadi kita mendapatkan faidah sebagai berikut:

Yang pertama: makan atau minum dengan tangan kiri adalah harom, karena yang demikian itu menyerupai perbuatan setan.

Yang kedua: tidak boleh membantah dalil yang jelas dengan ijtihad sebagian ulama.

Yang ketiga: Asy Syaikh Al Utsaimin hanyalah memboleh perkara yang ditanyaka dalam soal tadi dengan syarat: orang tadi berhajat pada amalan tersebut.

Yang keempat: Asy Syaikh berkata setelah menyebutkan bolehnya amalan tadi dengan syarat adanya hajat: “Akan tetapi aku tidak melihat adanya hajat yang mengharuskan dia berbuat itu.”

Yang kelima: mencegah terkotorinya gelas karena adanya sisa-sisa makanan di tangan kanan itu bukanlah termasuk hajat yang membolehkan dia melakukan perkara tadi.

Maka kesimpulannya: tidak ada hajat untuk berbuat apa yang disebutkan dalam soal tadi. Dan hukumnya itu tetap harom. Akan tetapi jika ditetapkan kita memang berhajat untuk melakukan perkara tadi, maka tidak mengapa.

Dan jika kita ditanya: kenapa meminum dengan dua tangan semacam tadi diperbolehkan ketika ada hajat, padahal hukum asal meminum dengan tangan kiri adalah harom?

Jawabannya dengan memohon pertolongan Alloh: hal itu dikarenakan larangannya tadi adalah dalam rangka menutup pintu dan memutuskan sarana penyerupaan dengan setan, oleh karena itulah maka perbuatan tadi diperbolehkan jika memang ada HAJAT atau MASLAHAT YANG LEBIH KUAT. Dan hal ini berhubungan dengan kaidah: KESULITAN ITU MENDATANGKAN PEMUDAHAN.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Suatu perkara yang dilarang dalam rangka menutup sarana kejelekan, bukan karena perkara tadi pada dasarnya adalah suatu kerusakan, dia itu disyariatkan di dalamnya ada suatu maslahat yang lebih kuat. Dan kemaslahatan itu tidak boleh disia-siakan tanpa adanya kerusakan yang lebih besar.” (“Majmu’ul Fatawa”/23/hal. 214).

Dan demikian pula larangan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dari mengerjakan sholat setelah sholat Ashr atau setelah sholat Shubh dalam rangka menghindari menyerupai para penyembah matahari, lalu beliau sendiri membolehkan sholat yang punya sebab khusus itu dikerjakan pada waktu yang terlarang tadi, DIKARENAKAN KEMASLAHATANNYA ITU LEBIH BESAR.

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Larangan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam untuk sholat sebelum terbitnya matahari dan setelah Ashr adalah demi menutup sarana menyerupai orang-orang kafir. Dan beliau membolehkan sholat yang punya kemaslahatan yang lebih besar untuk dikerjakan saat itu,seperti: membayar sholat yang terluputkan, membayar sholat sunnah, sholat jenazah dan sholat tahiyyatul masjid, karena maslahat pengerjaannya itu lebih besar daripada mafsadah larangan tadi. Dan Alloh lebih tahu.” (“Zadul Ma’ad”/3/hal. 426).

Dan apa arti HAJAT itu?

Al Imam Asy Syathibiy rohimahulloh berkata: “Adapun HAJAT-HAJAT itu maknanya adalah: bahwasanya perkara-perkara tersebut diperlukan dalam rangka perluasan dan menghilangkan kesempitan yang biasanya akan menyebabkan kesulitan dan kesukaran jika perkara yang diinginkan tadi tidak dilakukan. Maka jika perkara tadi tidak diperhatikan, niscaya secara umum para mukallaf (orang-orang yang terbebani oleh syari’at) akan tertimpa kesukaran dan kesulitan, akan tetapi perkara tadi tidak mencapai derajat kerusakan biasa yang dikhawatirkan mengganggu kemaslahatan orang banyak.” (“Al Muwafaqot”/2/hal. 11-10).

Maka kita semua wajib bersikap jujur pada Alloh: apakah kita memang sudah mencapai batasan HAJAT untuk minum dengan dua tangan seperti tadi? Ataukah kondisinya adalah seperti yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh: “Akan tetapi aku tidak melihat adanya hajat yang mengharuskan dia berbuat itu.”?

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

http://maktabahfairuzaddailamiy.blogspot.co.id/2016/10/hukum-minum-dengan-dua-tangan.html

Salafy Hanya Syaikh Yahya Al-Hajuri?

16/02/17

Bismillah, ana ingin bertanya tentang sikap sebagian ikhwah yang menilai Syaikh Yahya Al-Hajuri berpemahaman Haddadiyyah dengan anggapan beliau saja yang Salafi?? Karena keterbatasan informasi mohon jawabannya ustadz, jazakumulloh khoir.
Jawab: Haddadiyyah adalah pemahaman bid’ah yang membabi buta dalam mentabdi’ (memvonis orang sebagai ahli bid’ah) atau ghuluw (melampaui batas) dalam mentahdzir seorang Salafy telah keluar dari kesalafiyyahannya. Pemahaman Haddadiyyah ini diusung oleh Abu Abdillah Mahmud Al-Haddad yang semula aktif menyambangi majelisnya para Ulama namun kemudian menjadi sesat karena terjerumus dalam pemahaman takfiriyyah khawarij.
Kebalikan dari pemahaman Haddadiyyah adalah Sururiyyah yang terlalu longgar dalam menilai si Fulan sebagai Ahlussunnah, si ‘Allan sebagai Salafy. Penggagasnya adalah Muhammad bin Surur. Bahkan tokoh-tokoh ahlul bid’ah acapkali diklaim sebagai Ahlussunnah dengan alasan banyaknya jasa dan kebaikan-kebaikan mereka (seperti membantah Syi’ah dan pemahaman liberal). Padahal kebatilan yang mereka lakukan  juga menyangkut masalah prinsip, mengikuti hawa nafsu dan sama sekali tidak teranggap sebagai mujtahid.
Adapun Manhaj Salafy Ahlussunnah wal Jama’ah dalam perkara tabdi’ atau tahdzir berjalan di atas ilmu dan pemahaman yang benar dan senantiasa merujuk kepada bimbingan para Ulama. Tidak berlaku ifrath (melampaui batas) dan tidak tafrith (bermudah-mudahan).
Perlu diketahui, manhaj Haddadiyyah dan Sururiyyah adalah dua model pemahaman hizbiyyah yang hingga hari ini terus membayang-bayangi dakwah Salafiyyah. Haddadiyyah adalah bentuk lain dari pemahaman takfiriyyah khawarij yang menyelinap di barisan Salafiyyin sedangkan Sururiyyah adalah bentuk lain dari pemahaman bid’ah Ikhwanul Muslimin. Tidak ada yang selamat dari dua model hizbiyyah tersebut kecuali orang-orang yang diberi tawfiq oleh Allah.
Adapun Syaikh Yahya Al-Hajuri adalah seorang Ulama Ahlussunnah. Beliau adalah pengganti Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (ahli hadits dari negeri Yaman). Tuduhan yang dialamatkan kepada Syaikh Yahya tidaklah benar, bahkan beliau sendiri telah membantahnya dan mendudukkannya secara ilmiyyah sebagaimana ulasannya yang akan kami sampaikan berikut ini.

Syaikh Yahya berkata:

البلاد اليمنية فيها خير كثير من السلفيين وربي إي والله، اذهبوا إلى قرية من القرى أو مدينة من المدن ربما تجدون فيها مسجدا سلفيا، دعوة سلفية تقل و تكثر ما من بلد إلا و فيه خير وهذا خير والله لا يحقر يا شيخ -وفقك الله- هذا يصب مصب النعمة والفضل لله سبحانه وتعالى ثم لأهل السنة جميعا وأنت منهم،العلماء قبلك و بعدك، الباز، الألباني، العثيمين، الفوزان، العباد شيخنا رحمه الله، سائر أهل العلم، وسائر أهل السنة الدعاة إلى السلفية، هذه من ثمار دعوتهم، لا يحقر هذا الخير، ويقال ما إلا هذا وما فيه إلا هذا من أجل هذا التحريش
“Negeri Yaman di dalamnya ada banyak Salafiyyin, demi Rabbku, demi Allah! Pergilah kalian ke satu desa dari desa-desa yang ada, atau satu kota dari kota-kota yang ada, maka kalian akan menjumpai masjid Salafy. Tidaklah dakwah Salafiyyah tersebar di suatu negeri baik sedikit maupun banyak, melainkan pasti ada kebaikan padanya. Demi Allah, ini adalah kebaikan, jangan dianggap remeh wahai Syaikh -semoga Allah memberi engkau tawfiq–. Ini adalah suatu kenikmatan, dan keutamaan hanya milik Allah subhaanahu wa ta’ala. Kemudian bagi Ahlussunnah seluruhnya, termasuk Anda (yakni Syaikh Rabi’ Al-Madkhali) di antara mereka. Baik Ulama yang datang sebelum Anda atau setelahnya, semisal bin Baz, Al-Albani, Al-Utsaimin, Al-Fawzan, Al-‘Abbad, Syaikh kami semoga Allah merahmati beliau, dan seluruh para Ulama, seluruh Ahlussunnah yang menyeru kepada manhaj Salafiyyah, semua ini adalah buah dari dakwah mereka. Kebaikan ini janganlah dianggap remeh. Jika dikatakan, tidak ada kecuali ini dan tidak ada di dalamnya kecuali itu, semua itu diupayakan dalam rangka memecah belah!” (An-Nushhur Rafi’ Lil Walid Al-‘Allamah As-Syaikh Rabi’, bagian 2, hal. 17&18 – nasehat ini belum lama beredar)
Syaikh Yahya juga tidak menyukai istilah “pengikut-pengikut Yahya” (seperti Hajuriyyun atau Hajawirah), karena beliau menegaskan kita semua sesungguhnya pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Idem, hal. 18)
Syaikh Yahya juga tidak suka disebut “Imam Ats-Tsaqalain” (Imamnya manusia dan jin), ungkapan seperti itu bukan berasal dari saya dan saya sama sekali tidak meyakininya. Ungkapan itu datang dari seorang penyair yang tergelincir lisannya dan ia telah ruju’ dari ucapannya itu. Kami katakan bahkan Khawarij pun taubatnya diterima, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan dari kesalahan-kesalahan dan Dia Mahamengetahui apa yang kalian perbuat.” As-Syura: 25 (Idem, hal 15 & 19)
Adapun sebutan “An-Nashihul Amin” (penasehat yang terpercaya), maka kalimat itu berasal dari Syaikh Muqbil karena baik sangkanya beliau terhadap saya, sedang segala pujian hanya bagi Allah semata. Semoga Allah memberi tawfiq kepada saya agar senantiasa menyampaikan nasehat kepada kaum Muslimin, dan saya memohon kepada Allah agar menjadi orang yang bisa dipercaya dalam mengemban amanah. Akan tetapi, saya tidak menyukai sikap berlebih-lebihan, saya sudah sering katakan kepada orang, ” Ya akhi! Hapuslah tulisan itu, saya tidak mau dengan ungkapan seperti itu, saya tidak menyukainya.” Kendati demikian, istilah “An-Nashihul Amin” telah dilisankan oleh para Ulama. Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Tidak boleh mena’bir mimpi kecuali dari orang yang ‘alim, nashihun amin..”, Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” ketika menyebut At-Tustari, “Beliau seorang yang “Nashihan Aminan”.” (Idem, hal. 16)
Dan masih banyak lagi tuduhan maupun kesimpangsiuran yang dialamatkan kepada beliau. Termasuk tuduhan tidak mau mendoakan rahmat atas wafatnya Syaikh Muhammad Al-Wushabi!; sebagaimana yang pernah kami singgung sebelumnya. Dan Syaikh Yahya menegaskan, semua sikap ghuluw (melampaui batas) jika terbukti ada pada beliau, maka beliau tidak segan-segan akan meninggalkannya karena Allah. Siapapun dia wajib meninggalkannya.
Cukuplah perkataan Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i bagi kita untuk mengenal siapa Syaikh Yahya Al-Hajuri:
فقد قرئ علي شطر رسالة ((السفر)) لأخينا في الله الشيخ الفاضل، التقي الزاهد، المحدث الفقيه أبي عبدالرحمن يحيى بن علي الحجوري حفظه الله
“Sungguh telah dibacakan kepada Saya (Syaikh Muqbil) sebagian dari risalah safar yang telah ditulis oleh saudara kita di jalan Allah, Asy-Syaikh Al-Fadhil, Az-Zahid, Al-Muhaddits, Al-Faqih Abu Abdirrahman Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri semoga Allah menjaga beliau.” (Muqaddimah Kitab “Dhiya’us Salikin” Syaikh Yahya Al-Hajuri)
Perhatikan kalimat Syaikh, Al-Muhaddits, Al-Faqih, yang menunjukkan Syaikh Yahya adalah seorang ahli hadits dan ahli fiqh. Bukan sekedar mengatakan “Syaikh Fulan”, atau “Termasuk Da’i Kibar (senior) wilayah Indonesia” seperti yang digadang-gadang oleh sebagian orang. Padahal sebagian Massyayikh belum mengenal persis jati diri orang ini yang gampang berubah sikapnya dalam mencela dan memuji seseorang. Bahkan orang jahil lagi fattan (ahli fitnah)  pun pernah dipujinya sebagai sosok Salafy dan pembela sunnah. Macam inikah orang yang dianggap faqih?! Allahul musta’an.
Pujian atas kelimuan Syaikh Yahya juga disampaikan oleh Syaikh Muhammad Al-Imam:
“Di zaman ini, tidaklah pantas untuk melakukan “Al-Jarh wat Ta’dil” kecuali Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya.” (Syaikh Yahya Fi Suthur wa Makanatihi ‘indal Imam Al-Wadi’i hal 5)
Dan sesungguhnya masih banyak lagi pujian para Ulama terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri hafidzhahullah yang belum kami nukilkan di sini.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita sehingga melihat al-haq sebagai al-haq dan memberi petunjuk kepada kita untuk mengikutinya, serta melihat al-batil sebagai kebatilan dan memberi petunjuk kepada kita untuk menjauhinya.

Nasehat kami, jadilah Salafy karena Allah, ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah. Dan hendaklah setiap kita menyibukkan diri dengan ilmu dan manhaj yang benar serta berusaha merujuk kepada para Ulama sambil tetap waspada dari fitnah percekcokan maupun makar hizbiyyah, wa billahit tawfiq.
Fikri Abul Hasan http://manhajul-haq.blogspot.co.id/2015/07/salafy-hanya-syaikh-yahya-al-hajuuri.html

Nasehat Imam Dammaj asy-Syaikh Yahya al-Hajuri untuk Kaum Muslimin di Indonesia terkait Luqman Ba’abduh,Cs

12/02/17

Diterjemahkan oleh :

Abu ‘Abdirrohman Shiddiq bin Muhammad al-Bughisiy
-semoga Alloh menjaganya-
di Darul Hadits Dammaj – pada 20 Dzulhijjah 1429 Hijriyah
Berkata Imam Dammaj Yahya al-Hajuri -semoga Alloh menjaganya-
” Ikhwah Indonesia – hafidzohumulloh – jangan menyibukkan diri untuk membantah seorang yang hina!…Yaa Akhi!…siapa Luqman di sini? Siapa dia Luqman itu? Dia tidak dikenal dalam kafilah, dan tidak pula dalam kelompok, tidak ma’ruf di sini tidak pula di sana.
Dia berhasil mempengaruhi beberapa orang ‘ajam di sana, lalu menghalau mereka……menghalau mereka sebagaimana Ja’far (Ja’far Umar Tholib, Mantan Panglima Khowarij Era Lasykar Jihad,ed ) menghalau mereka. Dia hendak menyia-nyiakan mereka, demi Allah orang ini adalah sumber kerugian.
Demi Allah tiada pada mereka melainkan kerugian belaka, yaitu mereka yang yang tidak menetapi al-khoir (kebaikan) dan ilmu, dan menghalang-halangi orang dari ilmu dan sunnah, dan kemana maunya mereka?!
Apakah si Luqman ini akan menghasilkan sampai orang yang faham bagaimana dia sholat? Aku tak mengira dia faham sholat sebagaimana Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam sholat, jika dia tidak mempelajarinya di sini, maka bagaimana dia akan menghasilkan orang yang faham bagaimana dia sholat terlebih lagi untuk menghasilkan seorang penuntut ilmu. Dalam pepatah dikatakan (Orang yang tidak punya tidak dapat memberi).
Adapun bantahan dari sini… bantahan untuk siapa? Siapa yang kalian bantah? Luqman?.. orang yang hina dari orang-orang rendahan?!.. Dia adalah pengikut hizbiyah baru yang paling jelek … dia yang paling jelek dari mereka … jangan kalian menyibukkan diri dengannya… belajarlah …
Risalah mana saja yang datang kepadaku mengenai perkara LuqmanLuqmanbukan kewajibanku di sini. Apa Luqman? Siapa dia ini? Sampai pada perkara inipun (fitnah Abdurroman al-mar’i) kami juga senantiasa menyibukkan diri dengan ilmu dan sunnah. Sudah … di atas ilmu dan sunnah.
﴿قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ﴾  [البقرة/256]
“Telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat”. Bagi semua orang yang punya mata (bashiroh). Pengikut hawa pergi bersama pengikut hawa… itu bukan kewajiban kita, dan orang yang tertipu juga bukan kewajiban kita, kita tetap pada urusan kita,
جزاكم الله خيرا
Jangan kalian sibuk dengan Luqman! Luqman termasuk orang-orang munharif (menyimpang dari al-haq) yang dunia penuh dengan mereka. Saudara kita Syaikh Muhammad Maani’ telah membantahnya dangan bantahan yang kuat (teguh), membahasnya, dan mentahdzir darinya. Bantahan itu sesuai pada tempatnya, cukup kalian menerima dan menyebarkan bantahan itu. Bantahan dan tahdziran Syaikh Muhammad Maani’ cukup. Orang ini (Luqman) adalah pengangguran dia telah menelantarkan dan menipu sebagian orang ‘ajam, kemudian menyia-nyiakan mereka. Jangan kalian menyibukkan diri dengannya! جزاكم الله خيرا Yang hendak menuntut ilmu dia akan datang. Demi Allah da’wah kita tidaklah berdiri disebabkan orang yang datang dari Indonesia, dari awal hari. Dahulunya tiada kecuali Dzulqornain… apa? Ja’far datang mengunjungi tempat ini sekitar tiga bulan kemudian Dzulqornain datang dan aku tidak tahu berapa lama. Dan tinggal sekelompok, kemudian mereka berdatangan dan mendapatkan al-khoir (ilmu agama), lalu pulang jadi ustadz… Al-Ustadz … di sini belajar sebentar pulang ke Indonesia jadi ustadz yang melawan tempat mereka belajar padanya (Dammaj). Demi Allah mereka itu tidak tahu berterima kasih.
((لا يشكر الله من لا يشكر الناس))
“Tidak dapat mensyukuri Allah, barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia (yang berbuat baik kepadanya)”
Asatidzah melawan tempat mereka belajar padanya, asatidzah atas apa?! Mereka bersama para hizbiyin yang keluar dari saluran comberan, saluran comberan hizbiyah, menjulurkan lidah di belakang jam`iyyah dan harta (cenderung kepada dunia). Ah (celaka) bagi mereka yang keluar dari tempat ini kemudian menjadi lawannya, cih demi Allah kecelakaan bagi mereka. Dan aku tidak mengira mereka akan beruntung disebabkan ulah mereka ini, dan perlawanan mereka kepada al-haq(kebenaran), karena sesungguhnya perlawanan kepada al-khoir
(kebaikan) adalah kebinasaan.
))مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْب))
“Barang siapa yang memusuh wali-waliKu, maka Aku telah mengumandangkan perang baginya”.
Maka aku tidak mau dengar ada seseorang menyibukkan diri dengan perkara ini… dengan Luqman atau selainnya, yaitu apa? Dari sisi bahwasanya Luqman mengatakan …. Luqman melakukan ….
Pengangguran dari orang-orang gelandangan, cukup kalian mentahdzir darinya, dan sudah. Yang Allah hendaki padanya kebaikan, niscaya dia akan datang menuntut ilmu, adapun yang lebih memilih bersama mereka para pengangguran, dan hizbiyyin akan tinggal bersama  mereka. Apa kewajiban kita dengannya?
Allah berfirman kepada NabiNya :

﴿أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ﴾  [يونس/99[

“Apakah kamu memaksa manusia sampai mereka mau beriman?”
Kita yang memberi orang hidayah?! Sebagian orang buta.
﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾  [الحج/46]
“Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”
Bisa jadi orang jalanan mempercayaimu, sedangkan ahlul ilmi dan sunnah tidak mempercayaimu… Jangan kalian disibukkan dengan ini! Tinggalkan dia! Tinggalkan! Tinggalkan mereka yang di sana. Tinggalkan mereka terserah apa yang mereka inginkan! Jika mereka ingin menuntut ilmu di atas kitab dan sunnah, maka itu adalah hal yang baik bagi mereka. Dan jika mereka ingin berguru kepada al-allamah Luqman … kepada al-allamah Luqman … silahkan berguru kepada al-allamah Luqman, dan katakan kepada mereka : “Silahkan kalian mengambil faidah darinya.” Demi Allah tiada yang keluar dari kalian melainkan orang yang buta, hizbi, kurang kerjaan(suka omong kosong), dan gelandangan.
Orang seperti ini (Luqman) tidak akan mengeluarkan sesuatu (yang bermanfaat). Mereka para pelajar yang keluar dari sini (Dammaj) yang sekarang jadi ASATIDZAH ..mereka dipanggil asatidzah. Padahal sebagian mereka tidak pandai mengucapkan bahasa arab dengan benar, bersamaan dengan itu sesuai kemampuan dan apa yang mereka ketahui… seandainya mereka istiqomah di atas sunnah niscaya Allah akan mengarahkan hati-hati manusia kepada mereka, dan mereka akan memberi manfa`at. Adapun dalam keadaan mereka yang seperti ini, sungguh mereka akan larut sebagaimana larutnya garam dalam air… Siapa saja yang melawan al-Haqq.
أعلمه الرماية كل يوم           فلما استد ساعده رماني
“Setiap hari aku mengajarinya menembak(memanah) –
tatkala dia telah kuat (besar) dia malah membidikku.”
وكم علمته نظم القوافي         فلما قال قافية هجاني
“Dan betapa banyaknya aku mengajarinya menyusun sajak
tatkala dia telah pandai menyusun sajak dia malah menyindirku”.
http://al-manshurah.blogspot.co.id/2012/04/nasehat-imam-dammaj-asy-syaikh-yahya-al.html

Membangun Masjid-Masjid dan Tempat-Tempat Belajar — ASH HABUL HADITS

17/04/16

الثانية عشرة فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ “Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut didalamnya namanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak […]

الثانية عشرة
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut didalamnya namanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah, dan mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut suatu hari dimana bergoncangnya hati dan penglihatan.”
(more…)

Salafy, Nisbah Kepada Salaf

30/08/15

Asal Penamaan Salaf Dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf

Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha : (more…)

Ujian

29/08/15

Dahsyatnya Ujian
Berkata Alloh ta’ala:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ )214( (more…)


%d blogger menyukai ini: