Hukum Minum Dengan Dua Tangan

20/02/17

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Minum dengan Dua Tangan

الحمد لله وأشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمداً عبده ورسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم، أما بعد:

Pertanyaan: apa hukum meminum dengan tangan kiri sambil tangan kanan ditempelkan ke bawah gelas? Kabarnya Asy Syaikh Al Utsaimin membolehkan itu.

Jawaban kami dengan memohon pertolongan pada Alloh semata:

Meminum dengan tangan kiri adalah harom, berdasarkan dalil-dalil yang jelas tentang masalah ini. Adapun orang yang memegang gelas dengan tangan kiri sambil punggung tangan kanan memikul dasar gelas, maka hal ini kembali pada kondisi yang dominannya. Jika tangan kanan itulah yang dominan memegang gelas, maka tidak apa-apa. Tapi jika tangan kiri itulah yang dominan dalam memegang gelas, maka dia jatuh ke dalam perkara yang harom.

Al Imam Ibnu Daqiq Al ‘Id rohimahulloh berkata: “Syariat itu memandang adalah kondisi yang dominan, dan membuang kondisi yang langka dan jarang.” (“Ihkamul Ahkam”/hal. 407).

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Dan hukum-hukum itu hanyalah berlaku pada yang dominan dan banyak. Sementara yang langka itu masuk dalam hukum tidak ada.” (“Zadul Ma’ad”/5/hal. 378/cet. Ar Risalah).

Al Qorofiy rohimahulloh berkata: “Dan syariat itu hanyalah membangun hukum-hukumnya di atas perkara yang dominan.” (“Anwarul Buruq Fi Anwa’I Furuq”/7/hal. 460).

Adapun alasan orang yang membolehkan cara minum semacam tadi dengan fatwa Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh, maka silakan membaca fatwa beliau secara lengkap:

Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh ditanya: “Memakan dengan tangan kiri itu diharomkan, ataukah masalah ini masih diperselisihkan oleh para ulama?”

Maka beliau rohimahulloh menjawab: memakan dengan tangan kiri karena suatu udzur itu tidak mengapa. Adapun tanpa udzur, maka dia itu adalah harom, karena Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam melarangnya dan bersabda:

(إن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله)

“Sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya, dan minum dengan tangan kirinya.”

Dan Alloh ta’ala telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ [النور:21]

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Dan barangsiapa mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu memerintahkan pada kekejian dan kemungkaran.”

Kemudian sesungguhnya setan itu gembira jika engkau makan dengan tangan kirimu, karena engkau menjadi pengikut dia dan menjadi orang yang menyelisihi Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam. Masalah ini tidaklah remeh! Jika engkau makan dengan tangan kirimu atau engkau minum dengan tangan kirimu, setan gembira dengan kegembiraan yang lebih besar daripada sekedar perkara tadi adalah suatu perbuatan. Dia gembira karena engkau mencocoki dia dan engkau menyelisihi Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam dan sabda beliau dan perbuatan beliau. Maka masalah ini tidaklah remeh.

Oleh karena itulah maka para penuntut ilmu wajib mengingatkan masyarakat tentang hal itu. Banyak dari orang-orang kita dapati mereka ketika makan, mereka memakan dengan tangan kiri, dan mereka berkata: “Kami khawatir gelasnya akan kotor.” Padahal kondisi kebanyakan gelas sekarang adalah terbuat dari wariq (semacam polyestrin) yang tidak ada satu orangpun minum darinya setelahmu. Biarkan saja dia terkotori.

Kemudian mungkin saja engkau memegangnya, sekalipun dia itu terbuat dari kaca, engkau pegang di bagian bawahnya, di antara jari telunjuk dan ibu jari, dan engkau minum. Kemudian jika ditetapkan bahwasanya engkau tidak mungkin memegang dengan cara ini ataupun itu, kalaupun gelasnya terkotori, cuci sajalah, bukanlah itu suatu masalah, karena selama diketahui bahwasanya memegang dengan tangan kiri adalah harom, dan pelakunya melakukan dosa dengan meminum dengan cara itu, maka perkara yang harom itu tidak boleh dikerjakan kecuali karena dhoruroh.”

Si penanya berkata: “Jika dia memegangnya dengan tangan kiri dan meletakkan gelas tadi di atas tangan kanan?”

Asy Syaikh menjawab: “Jika hajat mengharuskan dirinya melakukan itu, maka tidak apa-apa. Jika dia meletakkan gelas tadi di punggung tangan kanan, dan dia memegangnya dengan tangan kiri, jika hajat mengharuskan dia berbuat itu. Akan tetapi aku tidak melihat adanya hajat yang mengharuskan dia berbuat itu. Aku telah mencobanya sendiri. Aku memagang gelas di bagian bawahnya dan gelas itu tidak terkotori sama sekali. Kemudian jika dia terkotori, dia begitu terus selama lima menit, dan kotorannya bisa dihilangkan dengan pencucian. Perkaranya mudah saja.

Demikian pula mengambil dan memberi dengan tangan kiri. Ini juga menyelisihi sunnah, dan hal itu dilarang.”

Si penanya bertanya: “Akan tetapi apakah ada perkataan ulama yang membolehkannya?”

Asy Syaikh menjawab: “Sebagian ulama berpandangan bahwasanya hal itu adalah makruh. Akan tetapi wahai Saudaraku! Aku nasihati engkau dan yang lainnya: jika Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam mengucapkan suatu perkataan, janganlah engkau berkata: “Apakah sebagian ulama berkata demikian?” Para ulama berfatwa dengan pemahaman, jika suatu dalil sampai pada mereka, terkadang mereka keliru dalam memahami. Dan terkadang dalil itu belum sampai pada mereka. Dan terkadang dalil itu tersamarkan.

Bukankah hadits tentang wabah Tho’un itu tersamarkan pada para Shohabat rodhiyallohu ‘anhum semuanya? Manakala Umar rodhiyallohu ‘anhu datang ke Syam, dikatakan pada beliau: “Sesungguhnya di Syam sedang ada Tho’un.” Maka Umar berhenti dan bermusyawarah dengan para Shohabat. Beliau mendatangkan para Muhajirin, dan Anshor, lalu beliau mengajak mereka bermusyawarah sendiri-sendiri. Dan mereka semua tidak tahu hadits tadi. Akan tetapi segala pujian bagi Alloh semata, Alloh memberi mereka taufiq pada kebenaran, untuk pulang kembali dan tidak mendatangi Syam. Saat itu Abdurrohman bin Auf rodhiyallohu ‘anh itulah yang meriwayatkan hadits tadi, akan tetapi beliau sedang tidak ada karena suatu hajat. Kemudian beliau datang, lalu beliau menyampaikan hadits tadi pada mereka. Hadits tadi tersamarkan pada semua Shohabat tadi, padahal kita tahu bahwasanya mereka masih terbatas di suatu tempat. Maka bagaimana setelah umat dan ulama itu tersebar?!!

Maka kita tidak boleh membantah sabda Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam dengan ucapan: “Apakah ada perselisihan di dalam masalah ini?” “Bukankah sebagian ulama berkata demikian?”

Jika Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda pada kita:

(لا يأكل أحدكم بشماله، ولا يشرب بشماله فإن الشيطان يأكل بشماله ويشرب بشماله)

“Janganlah salah seorangpun dari kalian makan dengan tangan kirinya, dan jangan pula minum dengan tangan kirinya, karena sesungguhnya setan itu makan dengan tangan kirinya, dan minum dengan tangan kirinya.”

Selesai pembahasan.

Jika engkau memberikan pilihan pada seorang mukmin manapun: “Apakah engkau mencintai jalan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam, ataukah langkah-langkah setan?” apa yang akan dia katakan? Dia akan berkata: “Jalan Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam.”

Si penanya bertanya: “Wahai Fadhilatusy Syaikh, maksud saya adalah: bahwasanya sebagian orang menisbatkan pada sebagian ulama bahwasanya hal itu adalah tidak harom. Maka saya ingin memastikan.”

Asy Syaikh menjawab: “Ini baik. Dan Ibnu Abbas rohdiyallohu ‘anhuma berkata:

يوشك أن تنزل عليكم حجارة من السماء، أقول: قال رسول الله وتقولون: قال أبو بكر وعمر

“Hampir-hampir akan turun batu dari langit menimpa kalian. Aku berkata: “Rosululloh bersabda,” dan kalian berkata: “Abu Bakr dan Umar berkata.”

Dan siapakah para ulama itu dibandingkan dengan Abu Bakr dan Umar? Padahal Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda tentang mereka berdua:

(إن يطيعوا أبا بكر وعمر يرشدوا)

“Jika mereka menaati Abu Bakr dan Umar niscaya mereka akan terbimbing.”

Dan beliau bersabda:

(اقتدوا باللذين من بعدي: أبي بكر وعمر )

“Teladanilah dua orang sepeninggalku: Abu Bakr dan Umar.”

Telah ditetapkan untuk mengambil pendapat mereka berdua maka jika Abu Bakr dan Umar menyelisihi Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam dan kita mengambil pendapat mereka berdua, dikhawatirkan akan turun pada kita batu dari langit. Maka bagaimana mengambil pendapat dari selain mereka berdua?!!

Oleh karena itu, hakikat yang sangat menyakitiku: jika seseornag berkata jika misalkan aku katakan padanya: “Rosul shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda demikian dan demikian,” dia menjawab: “Dalam masalah ini ada perselisihan.”

Orang yang menyelisihi boleh jadi punya udzur dalam penyelisihan nash tadi karena penakwilannya, atau tidak tahunya dia. Akan tetapi aku tidak punya udzur. Dan bukanlah jika orang yang diikuti itu mendapatkan udzur maka pengikutnya juga mendapatkan udzur.”

(selesai dari “Liqoatul Babil Maftuh”/4/hal. 55).

Dari fatwa tadi kita mendapatkan faidah sebagai berikut:

Yang pertama: makan atau minum dengan tangan kiri adalah harom, karena yang demikian itu menyerupai perbuatan setan.

Yang kedua: tidak boleh membantah dalil yang jelas dengan ijtihad sebagian ulama.

Yang ketiga: Asy Syaikh Al Utsaimin hanyalah memboleh perkara yang ditanyaka dalam soal tadi dengan syarat: orang tadi berhajat pada amalan tersebut.

Yang keempat: Asy Syaikh berkata setelah menyebutkan bolehnya amalan tadi dengan syarat adanya hajat: “Akan tetapi aku tidak melihat adanya hajat yang mengharuskan dia berbuat itu.”

Yang kelima: mencegah terkotorinya gelas karena adanya sisa-sisa makanan di tangan kanan itu bukanlah termasuk hajat yang membolehkan dia melakukan perkara tadi.

Maka kesimpulannya: tidak ada hajat untuk berbuat apa yang disebutkan dalam soal tadi. Dan hukumnya itu tetap harom. Akan tetapi jika ditetapkan kita memang berhajat untuk melakukan perkara tadi, maka tidak mengapa.

Dan jika kita ditanya: kenapa meminum dengan dua tangan semacam tadi diperbolehkan ketika ada hajat, padahal hukum asal meminum dengan tangan kiri adalah harom?

Jawabannya dengan memohon pertolongan Alloh: hal itu dikarenakan larangannya tadi adalah dalam rangka menutup pintu dan memutuskan sarana penyerupaan dengan setan, oleh karena itulah maka perbuatan tadi diperbolehkan jika memang ada HAJAT atau MASLAHAT YANG LEBIH KUAT. Dan hal ini berhubungan dengan kaidah: KESULITAN ITU MENDATANGKAN PEMUDAHAN.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata: “Suatu perkara yang dilarang dalam rangka menutup sarana kejelekan, bukan karena perkara tadi pada dasarnya adalah suatu kerusakan, dia itu disyariatkan di dalamnya ada suatu maslahat yang lebih kuat. Dan kemaslahatan itu tidak boleh disia-siakan tanpa adanya kerusakan yang lebih besar.” (“Majmu’ul Fatawa”/23/hal. 214).

Dan demikian pula larangan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dari mengerjakan sholat setelah sholat Ashr atau setelah sholat Shubh dalam rangka menghindari menyerupai para penyembah matahari, lalu beliau sendiri membolehkan sholat yang punya sebab khusus itu dikerjakan pada waktu yang terlarang tadi, DIKARENAKAN KEMASLAHATANNYA ITU LEBIH BESAR.

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahulloh berkata: “Larangan Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam untuk sholat sebelum terbitnya matahari dan setelah Ashr adalah demi menutup sarana menyerupai orang-orang kafir. Dan beliau membolehkan sholat yang punya kemaslahatan yang lebih besar untuk dikerjakan saat itu,seperti: membayar sholat yang terluputkan, membayar sholat sunnah, sholat jenazah dan sholat tahiyyatul masjid, karena maslahat pengerjaannya itu lebih besar daripada mafsadah larangan tadi. Dan Alloh lebih tahu.” (“Zadul Ma’ad”/3/hal. 426).

Dan apa arti HAJAT itu?

Al Imam Asy Syathibiy rohimahulloh berkata: “Adapun HAJAT-HAJAT itu maknanya adalah: bahwasanya perkara-perkara tersebut diperlukan dalam rangka perluasan dan menghilangkan kesempitan yang biasanya akan menyebabkan kesulitan dan kesukaran jika perkara yang diinginkan tadi tidak dilakukan. Maka jika perkara tadi tidak diperhatikan, niscaya secara umum para mukallaf (orang-orang yang terbebani oleh syari’at) akan tertimpa kesukaran dan kesulitan, akan tetapi perkara tadi tidak mencapai derajat kerusakan biasa yang dikhawatirkan mengganggu kemaslahatan orang banyak.” (“Al Muwafaqot”/2/hal. 11-10).

Maka kita semua wajib bersikap jujur pada Alloh: apakah kita memang sudah mencapai batasan HAJAT untuk minum dengan dua tangan seperti tadi? Ataukah kondisinya adalah seperti yang dikatakan oleh Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rohimahulloh: “Akan tetapi aku tidak melihat adanya hajat yang mengharuskan dia berbuat itu.”?

والله تعالى أعلم بالصواب، والحمد لله رب العالمين.

http://maktabahfairuzaddailamiy.blogspot.co.id/2016/10/hukum-minum-dengan-dua-tangan.html

Salafy Hanya Syaikh Yahya Al-Hajuri?

16/02/17

Bismillah, ana ingin bertanya tentang sikap sebagian ikhwah yang menilai Syaikh Yahya Al-Hajuri berpemahaman Haddadiyyah dengan anggapan beliau saja yang Salafi?? Karena keterbatasan informasi mohon jawabannya ustadz, jazakumulloh khoir.
Jawab: Haddadiyyah adalah pemahaman bid’ah yang membabi buta dalam mentabdi’ (memvonis orang sebagai ahli bid’ah) atau ghuluw (melampaui batas) dalam mentahdzir seorang Salafy telah keluar dari kesalafiyyahannya. Pemahaman Haddadiyyah ini diusung oleh Abu Abdillah Mahmud Al-Haddad yang semula aktif menyambangi majelisnya para Ulama namun kemudian menjadi sesat karena terjerumus dalam pemahaman takfiriyyah khawarij.
Kebalikan dari pemahaman Haddadiyyah adalah Sururiyyah yang terlalu longgar dalam menilai si Fulan sebagai Ahlussunnah, si ‘Allan sebagai Salafy. Penggagasnya adalah Muhammad bin Surur. Bahkan tokoh-tokoh ahlul bid’ah acapkali diklaim sebagai Ahlussunnah dengan alasan banyaknya jasa dan kebaikan-kebaikan mereka (seperti membantah Syi’ah dan pemahaman liberal). Padahal kebatilan yang mereka lakukan  juga menyangkut masalah prinsip, mengikuti hawa nafsu dan sama sekali tidak teranggap sebagai mujtahid.
Adapun Manhaj Salafy Ahlussunnah wal Jama’ah dalam perkara tabdi’ atau tahdzir berjalan di atas ilmu dan pemahaman yang benar dan senantiasa merujuk kepada bimbingan para Ulama. Tidak berlaku ifrath (melampaui batas) dan tidak tafrith (bermudah-mudahan).
Perlu diketahui, manhaj Haddadiyyah dan Sururiyyah adalah dua model pemahaman hizbiyyah yang hingga hari ini terus membayang-bayangi dakwah Salafiyyah. Haddadiyyah adalah bentuk lain dari pemahaman takfiriyyah khawarij yang menyelinap di barisan Salafiyyin sedangkan Sururiyyah adalah bentuk lain dari pemahaman bid’ah Ikhwanul Muslimin. Tidak ada yang selamat dari dua model hizbiyyah tersebut kecuali orang-orang yang diberi tawfiq oleh Allah.
Adapun Syaikh Yahya Al-Hajuri adalah seorang Ulama Ahlussunnah. Beliau adalah pengganti Syaikh Al-‘Allamah Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (ahli hadits dari negeri Yaman). Tuduhan yang dialamatkan kepada Syaikh Yahya tidaklah benar, bahkan beliau sendiri telah membantahnya dan mendudukkannya secara ilmiyyah sebagaimana ulasannya yang akan kami sampaikan berikut ini.

Syaikh Yahya berkata:

البلاد اليمنية فيها خير كثير من السلفيين وربي إي والله، اذهبوا إلى قرية من القرى أو مدينة من المدن ربما تجدون فيها مسجدا سلفيا، دعوة سلفية تقل و تكثر ما من بلد إلا و فيه خير وهذا خير والله لا يحقر يا شيخ -وفقك الله- هذا يصب مصب النعمة والفضل لله سبحانه وتعالى ثم لأهل السنة جميعا وأنت منهم،العلماء قبلك و بعدك، الباز، الألباني، العثيمين، الفوزان، العباد شيخنا رحمه الله، سائر أهل العلم، وسائر أهل السنة الدعاة إلى السلفية، هذه من ثمار دعوتهم، لا يحقر هذا الخير، ويقال ما إلا هذا وما فيه إلا هذا من أجل هذا التحريش
“Negeri Yaman di dalamnya ada banyak Salafiyyin, demi Rabbku, demi Allah! Pergilah kalian ke satu desa dari desa-desa yang ada, atau satu kota dari kota-kota yang ada, maka kalian akan menjumpai masjid Salafy. Tidaklah dakwah Salafiyyah tersebar di suatu negeri baik sedikit maupun banyak, melainkan pasti ada kebaikan padanya. Demi Allah, ini adalah kebaikan, jangan dianggap remeh wahai Syaikh -semoga Allah memberi engkau tawfiq–. Ini adalah suatu kenikmatan, dan keutamaan hanya milik Allah subhaanahu wa ta’ala. Kemudian bagi Ahlussunnah seluruhnya, termasuk Anda (yakni Syaikh Rabi’ Al-Madkhali) di antara mereka. Baik Ulama yang datang sebelum Anda atau setelahnya, semisal bin Baz, Al-Albani, Al-Utsaimin, Al-Fawzan, Al-‘Abbad, Syaikh kami semoga Allah merahmati beliau, dan seluruh para Ulama, seluruh Ahlussunnah yang menyeru kepada manhaj Salafiyyah, semua ini adalah buah dari dakwah mereka. Kebaikan ini janganlah dianggap remeh. Jika dikatakan, tidak ada kecuali ini dan tidak ada di dalamnya kecuali itu, semua itu diupayakan dalam rangka memecah belah!” (An-Nushhur Rafi’ Lil Walid Al-‘Allamah As-Syaikh Rabi’, bagian 2, hal. 17&18 – nasehat ini belum lama beredar)
Syaikh Yahya juga tidak menyukai istilah “pengikut-pengikut Yahya” (seperti Hajuriyyun atau Hajawirah), karena beliau menegaskan kita semua sesungguhnya pengikut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Idem, hal. 18)
Syaikh Yahya juga tidak suka disebut “Imam Ats-Tsaqalain” (Imamnya manusia dan jin), ungkapan seperti itu bukan berasal dari saya dan saya sama sekali tidak meyakininya. Ungkapan itu datang dari seorang penyair yang tergelincir lisannya dan ia telah ruju’ dari ucapannya itu. Kami katakan bahkan Khawarij pun taubatnya diterima, “Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan dari kesalahan-kesalahan dan Dia Mahamengetahui apa yang kalian perbuat.” As-Syura: 25 (Idem, hal 15 & 19)
Adapun sebutan “An-Nashihul Amin” (penasehat yang terpercaya), maka kalimat itu berasal dari Syaikh Muqbil karena baik sangkanya beliau terhadap saya, sedang segala pujian hanya bagi Allah semata. Semoga Allah memberi tawfiq kepada saya agar senantiasa menyampaikan nasehat kepada kaum Muslimin, dan saya memohon kepada Allah agar menjadi orang yang bisa dipercaya dalam mengemban amanah. Akan tetapi, saya tidak menyukai sikap berlebih-lebihan, saya sudah sering katakan kepada orang, ” Ya akhi! Hapuslah tulisan itu, saya tidak mau dengan ungkapan seperti itu, saya tidak menyukainya.” Kendati demikian, istilah “An-Nashihul Amin” telah dilisankan oleh para Ulama. Al-Hafidzh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani berkata, “Tidak boleh mena’bir mimpi kecuali dari orang yang ‘alim, nashihun amin..”, Abu Nu’aim dalam “Al-Hilyah” ketika menyebut At-Tustari, “Beliau seorang yang “Nashihan Aminan”.” (Idem, hal. 16)
Dan masih banyak lagi tuduhan maupun kesimpangsiuran yang dialamatkan kepada beliau. Termasuk tuduhan tidak mau mendoakan rahmat atas wafatnya Syaikh Muhammad Al-Wushabi!; sebagaimana yang pernah kami singgung sebelumnya. Dan Syaikh Yahya menegaskan, semua sikap ghuluw (melampaui batas) jika terbukti ada pada beliau, maka beliau tidak segan-segan akan meninggalkannya karena Allah. Siapapun dia wajib meninggalkannya.
Cukuplah perkataan Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i bagi kita untuk mengenal siapa Syaikh Yahya Al-Hajuri:
فقد قرئ علي شطر رسالة ((السفر)) لأخينا في الله الشيخ الفاضل، التقي الزاهد، المحدث الفقيه أبي عبدالرحمن يحيى بن علي الحجوري حفظه الله
“Sungguh telah dibacakan kepada Saya (Syaikh Muqbil) sebagian dari risalah safar yang telah ditulis oleh saudara kita di jalan Allah, Asy-Syaikh Al-Fadhil, Az-Zahid, Al-Muhaddits, Al-Faqih Abu Abdirrahman Yahya bin ‘Ali Al-Hajuri semoga Allah menjaga beliau.” (Muqaddimah Kitab “Dhiya’us Salikin” Syaikh Yahya Al-Hajuri)
Perhatikan kalimat Syaikh, Al-Muhaddits, Al-Faqih, yang menunjukkan Syaikh Yahya adalah seorang ahli hadits dan ahli fiqh. Bukan sekedar mengatakan “Syaikh Fulan”, atau “Termasuk Da’i Kibar (senior) wilayah Indonesia” seperti yang digadang-gadang oleh sebagian orang. Padahal sebagian Massyayikh belum mengenal persis jati diri orang ini yang gampang berubah sikapnya dalam mencela dan memuji seseorang. Bahkan orang jahil lagi fattan (ahli fitnah)  pun pernah dipujinya sebagai sosok Salafy dan pembela sunnah. Macam inikah orang yang dianggap faqih?! Allahul musta’an.
Pujian atas kelimuan Syaikh Yahya juga disampaikan oleh Syaikh Muhammad Al-Imam:
“Di zaman ini, tidaklah pantas untuk melakukan “Al-Jarh wat Ta’dil” kecuali Syaikh Rabi’ dan Syaikh Yahya.” (Syaikh Yahya Fi Suthur wa Makanatihi ‘indal Imam Al-Wadi’i hal 5)
Dan sesungguhnya masih banyak lagi pujian para Ulama terhadap Syaikh Yahya Al-Hajuri hafidzhahullah yang belum kami nukilkan di sini.

Semoga Allah senantiasa membimbing kita sehingga melihat al-haq sebagai al-haq dan memberi petunjuk kepada kita untuk mengikutinya, serta melihat al-batil sebagai kebatilan dan memberi petunjuk kepada kita untuk menjauhinya.

Nasehat kami, jadilah Salafy karena Allah, ikhlas semata-mata mengharapkan keridhaan Allah. Dan hendaklah setiap kita menyibukkan diri dengan ilmu dan manhaj yang benar serta berusaha merujuk kepada para Ulama sambil tetap waspada dari fitnah percekcokan maupun makar hizbiyyah, wa billahit tawfiq.
Fikri Abul Hasan http://manhajul-haq.blogspot.co.id/2015/07/salafy-hanya-syaikh-yahya-al-hajuuri.html

Nasehat Imam Dammaj asy-Syaikh Yahya al-Hajuri untuk Kaum Muslimin di Indonesia terkait Luqman Ba’abduh,Cs

12/02/17

Diterjemahkan oleh :

Abu ‘Abdirrohman Shiddiq bin Muhammad al-Bughisiy
-semoga Alloh menjaganya-
di Darul Hadits Dammaj – pada 20 Dzulhijjah 1429 Hijriyah
Berkata Imam Dammaj Yahya al-Hajuri -semoga Alloh menjaganya-
” Ikhwah Indonesia – hafidzohumulloh – jangan menyibukkan diri untuk membantah seorang yang hina!…Yaa Akhi!…siapa Luqman di sini? Siapa dia Luqman itu? Dia tidak dikenal dalam kafilah, dan tidak pula dalam kelompok, tidak ma’ruf di sini tidak pula di sana.
Dia berhasil mempengaruhi beberapa orang ‘ajam di sana, lalu menghalau mereka……menghalau mereka sebagaimana Ja’far (Ja’far Umar Tholib, Mantan Panglima Khowarij Era Lasykar Jihad,ed ) menghalau mereka. Dia hendak menyia-nyiakan mereka, demi Allah orang ini adalah sumber kerugian.
Demi Allah tiada pada mereka melainkan kerugian belaka, yaitu mereka yang yang tidak menetapi al-khoir (kebaikan) dan ilmu, dan menghalang-halangi orang dari ilmu dan sunnah, dan kemana maunya mereka?!
Apakah si Luqman ini akan menghasilkan sampai orang yang faham bagaimana dia sholat? Aku tak mengira dia faham sholat sebagaimana Rosululloh shallalahu ‘alayhi wa sallam sholat, jika dia tidak mempelajarinya di sini, maka bagaimana dia akan menghasilkan orang yang faham bagaimana dia sholat terlebih lagi untuk menghasilkan seorang penuntut ilmu. Dalam pepatah dikatakan (Orang yang tidak punya tidak dapat memberi).
Adapun bantahan dari sini… bantahan untuk siapa? Siapa yang kalian bantah? Luqman?.. orang yang hina dari orang-orang rendahan?!.. Dia adalah pengikut hizbiyah baru yang paling jelek … dia yang paling jelek dari mereka … jangan kalian menyibukkan diri dengannya… belajarlah …
Risalah mana saja yang datang kepadaku mengenai perkara LuqmanLuqmanbukan kewajibanku di sini. Apa Luqman? Siapa dia ini? Sampai pada perkara inipun (fitnah Abdurroman al-mar’i) kami juga senantiasa menyibukkan diri dengan ilmu dan sunnah. Sudah … di atas ilmu dan sunnah.
﴿قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ﴾  [البقرة/256]
“Telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat”. Bagi semua orang yang punya mata (bashiroh). Pengikut hawa pergi bersama pengikut hawa… itu bukan kewajiban kita, dan orang yang tertipu juga bukan kewajiban kita, kita tetap pada urusan kita,
جزاكم الله خيرا
Jangan kalian sibuk dengan Luqman! Luqman termasuk orang-orang munharif (menyimpang dari al-haq) yang dunia penuh dengan mereka. Saudara kita Syaikh Muhammad Maani’ telah membantahnya dangan bantahan yang kuat (teguh), membahasnya, dan mentahdzir darinya. Bantahan itu sesuai pada tempatnya, cukup kalian menerima dan menyebarkan bantahan itu. Bantahan dan tahdziran Syaikh Muhammad Maani’ cukup. Orang ini (Luqman) adalah pengangguran dia telah menelantarkan dan menipu sebagian orang ‘ajam, kemudian menyia-nyiakan mereka. Jangan kalian menyibukkan diri dengannya! جزاكم الله خيرا Yang hendak menuntut ilmu dia akan datang. Demi Allah da’wah kita tidaklah berdiri disebabkan orang yang datang dari Indonesia, dari awal hari. Dahulunya tiada kecuali Dzulqornain… apa? Ja’far datang mengunjungi tempat ini sekitar tiga bulan kemudian Dzulqornain datang dan aku tidak tahu berapa lama. Dan tinggal sekelompok, kemudian mereka berdatangan dan mendapatkan al-khoir (ilmu agama), lalu pulang jadi ustadz… Al-Ustadz … di sini belajar sebentar pulang ke Indonesia jadi ustadz yang melawan tempat mereka belajar padanya (Dammaj). Demi Allah mereka itu tidak tahu berterima kasih.
((لا يشكر الله من لا يشكر الناس))
“Tidak dapat mensyukuri Allah, barangsiapa yang tidak mensyukuri manusia (yang berbuat baik kepadanya)”
Asatidzah melawan tempat mereka belajar padanya, asatidzah atas apa?! Mereka bersama para hizbiyin yang keluar dari saluran comberan, saluran comberan hizbiyah, menjulurkan lidah di belakang jam`iyyah dan harta (cenderung kepada dunia). Ah (celaka) bagi mereka yang keluar dari tempat ini kemudian menjadi lawannya, cih demi Allah kecelakaan bagi mereka. Dan aku tidak mengira mereka akan beruntung disebabkan ulah mereka ini, dan perlawanan mereka kepada al-haq(kebenaran), karena sesungguhnya perlawanan kepada al-khoir
(kebaikan) adalah kebinasaan.
))مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْب))
“Barang siapa yang memusuh wali-waliKu, maka Aku telah mengumandangkan perang baginya”.
Maka aku tidak mau dengar ada seseorang menyibukkan diri dengan perkara ini… dengan Luqman atau selainnya, yaitu apa? Dari sisi bahwasanya Luqman mengatakan …. Luqman melakukan ….
Pengangguran dari orang-orang gelandangan, cukup kalian mentahdzir darinya, dan sudah. Yang Allah hendaki padanya kebaikan, niscaya dia akan datang menuntut ilmu, adapun yang lebih memilih bersama mereka para pengangguran, dan hizbiyyin akan tinggal bersama  mereka. Apa kewajiban kita dengannya?
Allah berfirman kepada NabiNya :

﴿أَفَأَنْتَ تُكْرِهُ النَّاسَ حَتَّى يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ﴾  [يونس/99[

“Apakah kamu memaksa manusia sampai mereka mau beriman?”
Kita yang memberi orang hidayah?! Sebagian orang buta.
﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾  [الحج/46]
“Karena sesungguhnya bukan mata yang buta, tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada.”
Bisa jadi orang jalanan mempercayaimu, sedangkan ahlul ilmi dan sunnah tidak mempercayaimu… Jangan kalian disibukkan dengan ini! Tinggalkan dia! Tinggalkan! Tinggalkan mereka yang di sana. Tinggalkan mereka terserah apa yang mereka inginkan! Jika mereka ingin menuntut ilmu di atas kitab dan sunnah, maka itu adalah hal yang baik bagi mereka. Dan jika mereka ingin berguru kepada al-allamah Luqman … kepada al-allamah Luqman … silahkan berguru kepada al-allamah Luqman, dan katakan kepada mereka : “Silahkan kalian mengambil faidah darinya.” Demi Allah tiada yang keluar dari kalian melainkan orang yang buta, hizbi, kurang kerjaan(suka omong kosong), dan gelandangan.
Orang seperti ini (Luqman) tidak akan mengeluarkan sesuatu (yang bermanfaat). Mereka para pelajar yang keluar dari sini (Dammaj) yang sekarang jadi ASATIDZAH ..mereka dipanggil asatidzah. Padahal sebagian mereka tidak pandai mengucapkan bahasa arab dengan benar, bersamaan dengan itu sesuai kemampuan dan apa yang mereka ketahui… seandainya mereka istiqomah di atas sunnah niscaya Allah akan mengarahkan hati-hati manusia kepada mereka, dan mereka akan memberi manfa`at. Adapun dalam keadaan mereka yang seperti ini, sungguh mereka akan larut sebagaimana larutnya garam dalam air… Siapa saja yang melawan al-Haqq.
أعلمه الرماية كل يوم           فلما استد ساعده رماني
“Setiap hari aku mengajarinya menembak(memanah) –
tatkala dia telah kuat (besar) dia malah membidikku.”
وكم علمته نظم القوافي         فلما قال قافية هجاني
“Dan betapa banyaknya aku mengajarinya menyusun sajak
tatkala dia telah pandai menyusun sajak dia malah menyindirku”.
http://al-manshurah.blogspot.co.id/2012/04/nasehat-imam-dammaj-asy-syaikh-yahya-al.html

Membangun Masjid-Masjid dan Tempat-Tempat Belajar — ASH HABUL HADITS

17/04/16

الثانية عشرة فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ “Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut didalamnya namanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak […]

الثانية عشرة
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ * رِجَالٌ لا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْماً تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ
“Di rumah-rumah yang Allah izinkan untuk dimuliakan dan disebut didalamnya namanya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah, dan mendirikan shalat, dan membayarkan zakat. Mereka takut suatu hari dimana bergoncangnya hati dan penglihatan.”
Baca entri selengkapnya »

Salafy, Nisbah Kepada Salaf

30/08/15

Asal Penamaan Salaf Dan Penisbahan Diri Kepada Manhaj Salaf

Asal penamaan Salaf dan penisbahan diri kepada manhaj Salaf adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putrinya Fathimah radihyallahu ‘anha : Baca entri selengkapnya »

Ujian

29/08/15

Dahsyatnya Ujian
Berkata Alloh ta’ala:
أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ )214( Baca entri selengkapnya »

Hukum Mengeluh

26/08/15

Pertanyaan:
Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya mengenai orang yang menggerutu (mengeluh) bila ditimpa suatu musibah; apa hukumnya?

Jawaban:
Kondisi manusia dalam menghadapi musibah ada empat tingkatan: Baca entri selengkapnya »


%d blogger menyukai ini: